Friday, December 5, 2008

AMALIAH IDUL ADHA

Tak lama lagi kita akan memasuki Hari Raya Idul Adha. Meskipun di Indonesia kaum muslimin menyam­but hari raya ini tidak seperti menyambut raya 'Idul Fitri, sesungguhnya ia tak kalah penting. Bahkan, ia memiliki kelebihan yang tak terdapat pada hari raya `Idul Fitri maupun pada hari-hari besar umat Islam lainnya. Yang paling penting, hari raya ini di antaranya berkaitan de­ngan pelaksanaan ibadah haji, juga dengan ibadah qurban.
Sebagaimana `Idul Fitri, `Idul Adha juga hari raya kita yang harus kita agung­kan, dengan melaksanakan berbagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. `Idul Fitri dan `Idul Adha adalah hari raya tahunan kita, di samping hari raya setiap pekan, yaitu hari Jum'at. Da­lam hadits disebutkan, Rasulullah SAW mensyariatkan dua hari raya ini sebagai ganti dua hari raya Jahiliah yang digunakan orang Arab untuk masa-masa keramaian dan riang gembira. Rasulullah SAW berkata kepada penduduk Madinah, "Allah telah menggantikan kedua hari Jahiliah ini dengan yang lebih baik dari­pada keduanya, yaitu hari `Idul Adha dan `Idul Fitri."

Menghidupkan Hari dan Malam `Idul Adha
Ada beberapa hal penting berkaitan de­ngan `Idal Adha, terutama bagi mereka yang tidak sedang melakukan ibadah haji, yaitu tentang menghidupkan malam `Idul Adha, pelaksanaan shalat `Idul Adha, dan penyembelihan qurban. Meskipun masa­lah-rnasalah tersebut adalah hal-hal biasa saja yang secara rutin kita alami dan kita jalani, banyak hal penting berkaitan de­ngan ketiga persoalan tersebut yang perlu kita perhatikan. Beberapa hal di antaranya mungkin belum kita ketahui atau belum kita pahami, karena jarang dibicarakan atau disampaikan. Karena itulah, bonus doa kali ini akan menyuguhkan kepada Anda amalan-amalan yang berkaitan de­ngan hal-hal tersebut disertai penjelasan yang terperinci.

PUASA HARI ARAFAH
Sebelum memperhatikan amalan-amal­an yang berhubungan dengan meng­hidupkan malam dan hari `Idul Adha, kita perhatikan dulu ihwal puasa hari Arafah.

Sebelum Hari Raya 'Idul Adha, kita terlebih dahulu memasuki hari Arafah, yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari itu orang-orang yang tidak me­laksanakan ibadah haji disunnahkan berpuasa. Orang-orang yang melaksana­kan ibadah haji sedang berwuquf di Arafah. Puasa Arafah merupakan salah satu puasa yang disunahkan Rasulullah SAW.
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa mengerjakan puasa di hari Arafah ka­rena hanya mengharapkan ridha Allah, Allah akan menghapuskan doss-dosanya selama satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang." Namun orang­orang yang sedang melaksanakan ibadah haji (berwuquf di Arafah) dilarang ber­puasa pada hari tersebut. Abu Hurairah RA berkata, "Rasulullah SAW melarang berpuasa pada hari Arafah kepada orang­orang yang sedang berwuquf."

Menghidupkan Malam 'Idul Adha

Berdasarkan hadits-hadits yang ada, disunnahkan kita menghidupkan malam 'Idul Adha, sebagaimana juga malam 'Idul Fitri, dengan banyak berdzikir ke­pada Allah, melakukan shalat, berdoa, beristigfar, dan mengerjakan ketaatan-­ketaatan lainnya. Juga disunnahkan ba­nyak bersedekah. Di dalam Al-Quran di­katakan, "Dan sebutlah Allah di hari-hari yang berbilang-bilang." (QS Al-Bagarah: 203 1. Menurut Ibn Abbas, hari yang ber­bilang-bilang itu adalah ketiga hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijj ah).

Para ulama berbeda pendapat tentang berapa lama ukuran waktu untuk dapat dikatakan telah menghidupkan malam 'Idul Adha. Ada yang berpendapat, sese­orang harus menggunakan sebagian be­sar waktu malam itu untuk beribadah. Tetapi ada pula yang mengatakan, ber­ibadah beberapa saat saja di malam itu telah memadai.
Di malam 'Idul Adha serta sebelum dan sesudahnya kita disunnahkan ber­takbir, yakni sejak setelah shalat Subuh

pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai setelah shalat Ashar hari tasyriq yang terakhir, yakni tanggal 13 Dzulhij­jah. Jadi waktunya lebih lama dibanding­kan takbir pada saat 'Idul Fitri.

Dalam hadits yang diriwayatkan Ath­Thabarani dari Ubadah bin Shamit di­katakan, "Barang siapa menghidupkan dua malam 'Id, tidaklah mati hatinya di saat mati seluruh hati_' Dalam hadits lain yang diriwayatkan Anas dikatakan, "Hiasilah dua hari raya mu dengan tah­lil, takbir, tahmid, dan taqdis (menyuci­kan Allah)

Lafaz takbir adalah sebagai berikut:

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

"Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar."

Tetapi redaksi takbir pada 'Idul Adha dan juga 'Idul Fitri yang biasa dibaca masyarakat Islam sejak masa sahabat adalah berikut ini

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallahu wallahu akbar, Allahu akbar wa lilahil-hamd.

-Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Tidak ada Tuhan melain­kan Allah, dan Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan segala puji milik Allah."

Dan menurut Imam Syafi'i, bagus jika ditambahkan dengan kalimat-kalimat berikut ini:

Allahu akbar kabira, wal-hamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukrataw-wa ashila, la ilaha illallahu wa la na'budu illa iyyah, mukhlishina lahud-dina walau karihal-kafirun, la ilaha illallahu wahdahu shadaqa wahdahu wa nashara 'abdahu wa hazamal-ahzaba wahdahu la ilaha illallahu wallahu akbar.

“ Allah Mahabesar ,sangat besar sekali.Segala puji milik Allah, sungguh banyak sekali.Mahasuci Allah,baik di pagi hari maupun di petang hari.Tidak ada Tuhan melainkan Allah.

Tak ada yang kami sembah melainkan Dia, dengan ikhlas menjalankan agama karena-Nya sekalipun orang-orang kafir membenci. Ti dak ada Tuhan melainkan Allah semata, Dia menepati janji-Nya, me­nolong hamba-Nya, menghancurkan sekutu-sekutu musyrikin sendirian. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha­besar.'
Selama hari-hari takbir itu, kita me­ngumandangkan takbir setiap selesai me­lakukan shalat apa saja, baik shalat far­dhu. shalat sunnah, maupun shalat Jena­zah. Juga baik shalat fardhu itu shalat yang tunai, shalat qadha, maupun shalat yang dinazarkan. Takbir itu dapat dibaca di rumah, di masjid, di jalan jalan umum, di majelis-majelis khusus, di mana saja di tempat yang layak untuk itu, karena takbir itu merupakan syiar hari raya.

Malam 'Idul Adha dan juga siang harinya adalah salah satu di antara saat ­saat yang paling utama dalam setahun dan penuh dengan keberkahan. Berdoa di waktu itu sangat dianjurkan, karena merupakan saat dikabulkannya per­mohonan. Karena itu, sebaiknya malam dan siang hari 'Idul Adha, selain diguna­kan untuk mengerjakan hat-hat lain, juga dimanfaatkan untuk menyampaikan apa yang kita butuhkan kepada Allah SWT.

Untuk keperluan di atas, kita dapat me­lakukan shalat Hajat_ Di antara caranya adalah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Aufa, ia mengatakan, "Rasulullah pernah keluar ke tempat kami kemudian bersabda. 'Barang siapa memiliki ke­butuhan kepada Allah atau kepada se­orang manusia, hendaklah ia berwudhu dan membaguskan wudhunya, lalu melakukan shalat dua rakaat, kemudian memuji (bertahmid ) kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi SAW. Setelah itu mengucapkan:

La ilaha illallahul-halimul-karim, sub­ hanallahi rabbil-`arsyil-`azhimi wal-hamdu lillahi rabbil-`alamin, as'aluka mujibati rah­matika wa`aza'ima maghfiratika wal-gha­nimata min kulli birrin was-salamata min kulli dzanbin, la tada ` li dzanban illa ghafartahu wa la hamman illa farajtahu wa la hajatan hiya laka ridhan illa qadaytaha ya arhamar­-rahimin.

"Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Penyantun lagi Maha Pemurah. Mahasuci Allah, Tuhannya Arsy, yang agung, dan segala puji milik Allah, Tuhan sekalian alam. Aku memohon kepada-Mu penyebab-penyebab rahmat-Mu, ampun­an-Mu, simpanan setiap kebaikan, dan ke­selamatan dari setiap dosa. Janganlah Engkau biarkan suatu dosa padaku melain­kan aku Engkau ampuni, jangan biarkan suatu kesusahan melainkan Engkau le­paskan, jangan pula biarkan suatu ke­butuhan yang Engkau ridhai melainkan Engkau penuhi, wahai Yang Paling Peng­asih di antara yang pengasih.

Shalat Idul Adha

Shalat `Idul Adha, sebagaimana juga shalat `Idul Fitri, menurut jumhur Ulama, hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) bagi orang yang wajib melakukan shalat Jum'at. Pertama kali shalat ini dilakukan oleh Rasulullah SAW pada tahun kedua Hijriah dan be­liau terus melakukannya sampai berpu­lang ke rahmatullah. Dan sunnah menu­naikannya secara berjamaah.
Boleh juga mengerjakannya sendiri, tapi itu kurang utama. Sekurang-kurangnya berjamaah adalah dua orang, yakni imam dan mak­mum. Tetap disunnahkan dua khutbah bagi orang yang melakukannya dengan berjamaah meskipun hanya berdua.

Menurut para ulama Madzhab Syafi'i, shalat 'Id lebih utama dikerjakan di masjid, karena merupakan tempat yang termulia. Tetapi para ulama di luar Madzhab Syafi'i pada umumnya berpen­dapat, shalat `Id lebih utama dilakukan di tanah lapang yang luas dan suci, agar suara takbir membahana.
Ketika pergi ke tanah lapang atau ke masjid untuk menunaikan shalat `Idul Adha, disunnahkan kita berjalan kaki seraya mengucapkan takbir dengan nya­ring dan terus-menerus. Selain itu, yang utama menurut sunnah, kita pergi dan kembali dari shalat `Id tidak melalui jalan yang sama.

Sebelum melakukan shalat `Idul Adha, disunnahkan kita tidak makan apa-apa. Berbeda dengan ketika akan pergi shalat 'Idul Fitri, kita disunnahkan makan sedikit terlebih dahulu. Dan amat disukai pula kita mandi dan memakai wangi-wangian pada pagi hari raya ini serta memakai pakaian terbaik yang kita miliki. AI-Hasan bin Ali, cucu Rasulullah SAW. meriwayatkan. "Pada setiap hari raya. Rasulullah SAW menyuruh kami agar mengenakan pakai­an terbaik yang kami miliki, memakai min-yak wangi terbaik yang kami punyai, dan menyembelih hewan qurban termahal yang kami mampu sediakan.
Disunnahkan pula mengajak kaum pe­rempuan, yang dewasa maupun yang masih remaja, telah bersuami maupun yang masih gadis, demikian pula anak ­anak, untuk menghadiri shalat hari Raya. Bahkan, perempuan yang sedang haid dianjurkan juga untuk hadir untuk men­dengarkan khutbah. Tetapi jika pelak­sanaannya di dalam masjid, perempuan yang sedang haid itu harus mencari tempat tersendiri, tidak masuk ke dalam masjid.
Selain itu, kaum perempuan yang akan melakukan shalat `Id itu sebaiknva memakai pakaian yang tidak berlebihan, tidak berdandan secara mencolok, dan tidak memakai wangi-wangian yang kuat aromanya, karena akan menjadikan mereka aebagai sumber fitnah (godaan). Artinya, kaum laki-laki akan tergoda oleh penampilan yang demikian dan mungkin juga akan menggoda, sehingga merugi­ kan kedua pihak.
Shalat `Idul Adha dikerjakan dua ra­kaat seperti shalat yang lain dan tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudahnya. Kecuali apabila dilakukan di masjid, tetap disunnahkan melakukan shalat Tahiyatul masjid sebelum duduk.

Pada shalat `Idul Adha dan `Idul Fitri tidak ada adzan dan iqamah, karena hal itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, ia mengatakan, "Aku pernah melakukan shalat `Id bersama Nabi SAW, bukan hanya sekali-dua kali, tanpa adzan dan iqamah." (HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi).
Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas dan Jabir,” belum pernah dilakukan adzan dan iqamah pada hari `Idul Fitri dan `Idul Adha." (HR Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim).
Pada setiap rakaat sebelum membaca surah Al-Fatihah, kita disunnahkan membaca beberapa takbir tambahan. Pada rakaat pertama, kita membaca tujuh kali takbir - selain takbiratul ihram - setelah membaca doa Iftitah. Dan pada rakaat kedua, membaca lima kali takbir, selain takbir ketika bangkit dari sujud.

Mengenai apa yang dibaca di antara satu takbir dan takbir lainnya, ada bebe­rapa pendapat sebagaimana yang diurai­kan oleh An-Nawawi dalam kitabnya, al­-Adzkar. Menurut mayoritas ulama, kita disunnahkan mengucapkan kalimat berikut:

Subhanallahi wal-hamdu lillahi wa la ilaha illallahu wallahu akbar.
La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu bi yadihil-khair, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir.

"Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu apa pun bagi-Nya. Bagi-Nya-lah kerajaan (kekuasa­an) dan bagi-Nya jualah segala pujian. Di tangan-Nya semua kebaikan. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu."

Ada pula yang mengatakan bahwa yang dibaca adalah kalimat berikut:

Allahu akbar kabira. wal-hamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukrataw-wa ashila.

"Allah Mahabesar, besar sekali. Segala puji milik Allah, sungguh banyak sekali. Mahasuci Allah, baik di pagi hari maupun di petang hari

Kita dapat memilih bacaan yang mana saja di antara bacaan-bacaan di atas. Se­andainya semua bacaan tersebut tidak dibaca, bahkan bila takbir-takbir tambah­an itu juga tidak dibaca, shalatnya tetap sah dan tidak perlu melakukan sujud sahwi. Hanya saja ia tidak mendapatkan keutamaan. Jika imam lupa membaca takbir-takbir itu sampai membaca Al-­Fatihah, menurut pendapat yang shahih, ia tidak perlu mengulangi untuk mem­baca takbir-takbir itu. Sedangkan bagi makmum yang ketinggalan, jika imam sudah membaca beberapa kali takbir, ikutilah takbir yang diucapkan imam, tidak perlu diulangi yang tertinggal.

Mengenai surah yang dibaca, disukai sesudah membaca Al-Fatihah kita mem­baca surah. Al-A’la dalam rakaat yang per­tama_,Dan di rakaat yang kedua sesudah Al-Fatihah, membaca surah Al-Ghasyiyah.
Sedangkan di dalam khutbahnya, khathib disunnahkan membaca takbir ,Sembilan kali di awal khutbah yang per­tama dan kemudian membaca takbir tujuh kali di awal khutbah yang kedua. Jadi sama dengan yang dilakukan ketika khutbah `Idul Fitri. Dan sangat baik khutbah itu di akhiri dengan firman Allah.

Subhana rabbika rabbil-'izzati `amma yashifuna wa salamun `alal-mursalina wal­hamdu lilahi rabbil-'alamin.

"Mahasuci Tuhan-Mu, yang mempunyai kebesaran dari apa yang mereka sifatkan, dan kesejahteraan itu atas para rasul, se­dangkan segala pujian itu merupakan milik Allah, yang memelihara seluruh alam."

Apabila seseorang tidak dapat pergi berjamaah shalat 'Id karena sakit atau ada halangan lain, hendaklah ia me­ngerjakan shalat sendiri dua rakaat juga. AL-Bukhari mengatakan, "Apabila sese­orang tidak mendapatkan shalat `Id ber­sama jamaah, hendaklah ia melakukan shalat dua rakaat juga. Demikian pula orang-orang perempuan (maksudnya, yang tak dapat melakukannya karena suatu keperluan) dan orang di padang gurun, mengingat sabda Nabi SAW, `Ini adalah hari raya kita, umat Islam'."

Bacaan pada Hari Raya

Di dalam kitab Al- Wasail Asy-Syafi'ah fi Al-Adzkar wa Al-Ad'iyyah li AI-Asbab Al-Waqi'ah halaman 215-216, karya Habib Muhammad bin Ali Khird, disebutkan, di antara doa yang dapat dibaca pada hari raya, baik 'Idul Fitri maupun 'Idul Adha, adalah doa ini:

Allahumma inni as-aluka 'aysyatan taqiy­yatan wa maytatan sawiyyatan wa marad­-dan ghayra makhzin wala fadhih. Allahumma la tuhlikna faj-atan wala ta'khudzna bagh­tatan wala tu’jilna 'an haqqin wa washiyyah. Allahumma inna nas-alukal-'afafa wal-ghina wat-tuqa wal-huda wa husna `aqibatil-­akhirati wal-ula, wa na'udzu bika minasy­syakki wasy-syiqaqi war-riya-i was-sum`ati fi dinika ya muqallibal-qulub (Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaytana wa hab lana min ladunka rahmah. Innaka antal­wahhab).

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kehidupan yang bertaqwa, kematian yang benar, dan kepulangan yang tidak dibuat malu dan tidak terbuka aibnya.
Ya Allah, janganlah Engkau binasakan kami dengan tiba-tiba. dan janganlah Engkau cabut kami dan kebenaran dan nasihat. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu sifat iffah (suka menjaga diri), kekayaan, ketaqwaan, petunjuk, dan akhir yang baik di dunia dan di akhirat. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keraguan, per­tikaian, riya', dan sum'ah (melakukan se­suatu karma ingin didengar orang) dalam agama-Mu, wahai Dzat Yang membolak ­balikkan hati (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu. Se­sungguhnya Engkau Maha Pemberi anugerah).”

Dalam kitab itu juga disebutkan bah­wa Umar bin Abdul Aziz mengatakan, 'Bacalah pada hari raya (baik 'Idul Fitri maupun `Idul Adha ) sebagaimana yang diucapkan oleh nenek moyang kalian. Nabi Adam AS:

Rabbana zhalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal-khasirin (OS AI-A'raf: 23)."

"Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak meng­ampuni kami dan menyayangi Kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi:"

Faghfirlana warhamna wa anta khayrur-rahimin (QS Al-Mu'minun: 109).

”Maka ampunilah kami, dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik.”

Walladzi athma`u an yaghfirali khathi'ati yawmaddina (QS Asy-Syu'ara': 82).

"Dan yang amat kuinginkan akan menghapuskan kesalahanku pada hari kiamat."

Juga sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Musa AS:

Qala rabbi inni zhalamtu nafsi faghfirli faghafara lahu, innahu huwal-ghafururrahim (QS Al-Qashash:16)

"Musa berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguh­nya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.' Maka Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.­

Juga sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Yunus AS:

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin (QS Al-Anbiya: 87)

”Tidak ada Tuhan selain Engkau.Maha suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.”

BERQURBAN










Pengertian dan Keutamaan Qurban


Salah satu ibadah yang sangat dite­kankan juga pada 'Idul Adha adalah me­nyembelih qurban (udhhiyyah). Berikut diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah ini.

Qurban disebut juga udhhiyyah, yang berasal dari kata dhahwah, yang berarti naik siang sesudah matahari terbit. Jadi penamaan dengan udhhiyyah ini dengan melihat permulaan waktunya. Sedang­kan menurut istilah, pengertian udhhiy­yah adalah nama bagi suatu hewan ternak yang disembelih, yang terdiri dari kambing, unta, kerbau, atau sapi, pada hari 'Idul Adha dan hari-hari tasyriq, sebagai pendekatan diri kepada Allah SWT.
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidaklah seorang manu­sia melakukan suatu perbuatan pada hari nahar (hari `Idul Adha) yang lebih disukai Allah daripada menumpahkan darah (yakni berqurban). Dan sesungguhnya qurbannya itu akan datang pada hari kiamat beserta tanduknya, kukunya, dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah­nya itu sampai kepada Allah di suatu tempat sebelum jatuhnya ke bumi. Maka nyamanlah engkau dengan qurban-qur­ban itu." HR Ibnu Majah dan At-Tir­midzi ).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam dikatakan, "Aku pernah bertanya atau mereka pernah bertanya, 'Apa sesungguhnya qurban qurban ini?

Rasulullah menjawab, 'Sunnah ayah kalian, Ibrahim.'
Mereka bertanya kembali, 'Apa yang kami dapat darinya?'
Beliau menjawab, `Tiap helai rambut­nva satu kebaikan.'
Mereka bertanya lagi, 'Bagaimana bulu halusnya?'
Jawab beliau, Tiap rambut dari bulu halusnya, satu kebaikan'." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Hukum Berqurban
Hukum menyembelih qurban adalah sunnah muakkadah dan menjadi wajib apabila dinazarkan. Dan ditekankan bahwa menyembelih hewan qurban itu bukan hanya sekali seumur hidup, me­lainkan setiap tahun jika mampu. Dalam sebuah hadits riwayat Abdullah bin `Aun disebutkan, "Hai manusia, sesungguhnya setiap penghuni rumah disunnahkan berqurban setiap tahun." Hadits ini di­riwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan.
Bila suatu keluarga mampu melaku­kannya tetapi meninggalkannya, hukum­nya makruh (dibenci). Demikian kuat penekanannya sehingga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hu­rairah disebutkan, "Rasulullah SAW ber­sabda, `Barang siapa mampu tetapi tidak berqurban, janganlah mendekati tempat shalat kami'." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Adapun waktu menyembelih qurban adalah setelah matahari terbit pada hari nahar, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah, dan telah berlalu waktu seukuran shalat dua rakaat dan dua khutbah yang ringan. Dan waktu menyembelih itu terus ber­langsung hingga masuknya matahari di hari tasyriq terakhir, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Dengan demikian, waktu­ waktu menyembelih itu ada empat hari. Yaitu tanggal 10 Dzulhijah, yang disebut hari nahar, atau sering dikatakan sebagai hari `Idul Adha, kemudian tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, yakni hari tasyriq pertama, kedua, dan ketiga (terakhir).

Doa menyembelih Qurban

Ketika melakukan penyembelihan, di­sunnahkan menghadapkan hewan qur­bannya ke arah kiblat, kemudian me­nyembelihnya dengan mengucapkan:

Bismillahi Allahu akbar. Allahumma taqabbal minni.

"Dengan nama Allah. Allah Mahabesar. Ya Allah, terimalah dariku."

Karena pada umumnya sekarang ke­banyakan orang tidak menyembelih sen­diri qurbannya, melainkan orang lain yang menyembelih, orang yang hewan qurbannya disembelihkan oleh orang lain pun dapat membaca doa di atas.

Thursday, October 23, 2008

WIRID


Bumi dihamparkan oleh Allah swt, agar nyaman bertempat tinggal di sana. Allah memberi amanat dan memerintahkan manusia hidup di muka bumi dengan aman,mampu menjaga diri dari bahaya-bahaya yang ada. Bahaya-bahaya itu adalah yang ditimbulkan oleh bumi dan apa yang ada diatasnya. Karena itu hendaknya manusia menyadari bahwa umur mereka membuatnya mencapai hidup seperti laju kapal dan penumpangnya.
Bumi ibarat kapal dan mahluk adalah penumpangnya,laksana pelancong. Kehidupan pertama bagi manusia di muka bumi ialah diawali semenjak ia berada dalam ayunan orang tua dan berakhir di liang lahat. Dan ketahuilah bahwa tanah air tempat berpijak ini laksana surga dan neraka. Usia adalah jarak perjalanan yang harus di tempuh. Sedangkan tahun adalah pal-pal atau batas-batas tahapan. Sedangkan bulan-bulan di dunia ini merupakan fasakh-fasakh dalam perjalanan. Adapaun hari adalah mil. Dan nafasmu adalah ibarat langkah-langkahmu.
Adapun ketaatan kepada Allah ibarat barang dagangan yang kau bawa dalam perjalanan menempuh langkah-langkah,fasakh-fasakh, pal-pal dan jarak tertentu. Adapun waktu adalah modal, sedangkan syahwat dan keinginan-keinginan itu ibarat perampok yang menghadangmu ditengah perjalanan. Keuntungannya adalah keberuntungan ketika engkau bisa berjumpa Allah di negeri kesejahteraan bersama Raja Yang Maha Besar. Itu merupakan kenikmatan yang tidak berakhir. Lalu kerugiannya adalah jauh dari Allah. Ingatlah, bahwa orang yang lengah walaupun senafas saja dari umurnya, maka ia akan mengalami penyesalan yang tidak berakhir, kerugian yang tidak terhitung.

Hidup di dunia ibarat menapaki jarak untuk mencapai tujuan akhir. Di tengah perjalanan hidup ini banyak kesibukan-kesibukan sehingga cenderung melupakan manusia dalam mengingat Allah. Ibarat pergi lupa tujuan. Di tengah perjalanan hidup banyak godaan­-godaan dapat membelokkanmu dari arah yang benar menuju arah menyimpang dan akhirnya menjadi tersesat.
Oleh sebab itu hendaknya siang dan malam engkau isi dengan banyak mengingat nama Allah, banyak beribadah dan beramal taat. Lakukanlah dengan istiqamah.
Allah berfirman:

Sesungguhnya pada siang hari engkau mempunyai banvak urusan. Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. QS. Al Muzamil 7-8.

Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang. Dan sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya-dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. QS. Al Insan 25-26.

Seyogyanya manusia memperhitungkan waktu yang dimilikinya. Siang dan malam dianjurkan untuk berdzikir dan diisi dengan amal taat. Yang demikian itu akan dapat menyelamatkan dan menghindarkan diri dari kesengsaraan. Rasulullah saw. adalah tauladan yang baik .Meskipun Allah telah menjamin dirinya dan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang, namun Rasulullah Muhammad saw. tetap melakukan amal taat dan bertaubat.

Jika dipikir, maka seharusnya engkau lebih rajin untuk menekuni amal taat karena mempunyai masalah yang sangat membahayakan diban­dingkan Rasulullah saw. Karena itu janganlah sibuk dan menenggelamkan diri dalam urusan duniawi saja. Bolehlah engkau melakukan kegiatan mencari nafkah namun hendaknya sekedar cukup memenuhi kebutuhan. Utamakanlah mencari pahala dan bekal untuk kehidupan akhirat daripa­da engkau tenggelam dalam urusan duniawi sehingga melupakan ketaatan kepada Allah.
Nabi saw. bersabda, "Hendaknya seseorang mengerjakan shalat malam meskipun hanya seperti orang memerah susu kambing lamanya (meskipun hanya sebentar)."
Orang-orang yang mengharapkan pahala dan keselamatan akhirat, maka tidaklah pantas kiranya mempersiapkan alas tidur yang empuk dan menuruti nafsu untuk tidur nyenyak. Namun haruslah menyibukkan diri bangun malam, shalat dan berdzikir sampai ia tertidur dengan sendi­rinya.
Nabi saw. bersabda, "Ketika kalian tidur setan mengikat dengan tiga ikatan kepadamu. Dada masing-masing ikatan, setan memukul seraya berkata, `Malam masih panjang, tidurlah.' Jika seseorang itu bangun dan menyebut nama Allah, lepaslah satu ikatan. Jika ia berwudlu lepaslah satu ikatan lagi, jika shalat terlepaslah ikatan ketiga. Seseorang tersebut menjadi giat dan baik jiwanya. Kalau tidak, maka ia pun berjiwa buruk dan malas. "
Dalam sebuah hadis diterangkan bahwa pernah seorang sahabat menceritakan tentang seseorang yang tidur sepanjang malam sampai pagi. Rasulullah saw lalu berkomentar, "Telinga orang itu telah dikencingi oleh setan. "
Rasulullah saw bersabda, "Dua rakaat yang dikerjakan oleh sese­orang di tengah malam lebih baik baginya daripada dunia seisinya. Kalau saja aku tidak takut memberatkan umatku, maka aku akan wajib­kan shalat malam kepada mereka. "

Malam-malam Istimewa Untuk Beramal Taat
Ketahuilah bahwa ada malam-malam utama untuk Beramal taat, shalat Lail, berdzikir dan mengagungkan Allah. Yaitu sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan dan malam ketujuh belas dari Ramadhan.Malam pertama di bulan nisfunya, dan malam dua puluh tujuh yakni Mi’raj.
Rasulullah saw bersabda, "Orang yang mengerjakan amal taat di malam ini mendapat kebaikan-kebaikan seratus tahun. Maka yang shalat di malam itu sebanyak dua belas rakaat dengan membaca surah Al-A1 Fatihah dan surah Qaaf dalam setiap rakaat, membaca tasyahud dalam setiap 2 rakaat, dan memberi salam pada akhir shalat. Kemudian mengucapkan subhanallaah wal hamdulillaah wa laa ilaha illallaah wallahu akbar seratus kali dan memohon ampun seratus kali. mengucapkan shalawat atas Nabi saw seratus kali, dan mendoakan dirinya sekehendaknya berupa urusan dunia dan akhirat serta berpuasa di pagi harinya maka Allah Taala mengabulkan seluruh doanya, kecuali dalam maksiat.
Dan ketahuilah bahwa pada malam Nisfu Sya'ban shalat sama dua rakaat sama dengan seratus rakaat. Karena itu dianjurkan kepada setiap muslim untuk menunaikan shalat dua rakaat. Setiap rakaat membaca Al-Fatehah dan surat A1 Ikhlas sepuluh kali. Lalu dianjurkan pula secara khusus untuk menghidupkan dua malam Id. Rasulullah saw bersabda. siapa menghidupkan dua malam Id, tidaklah mati hatinya di saat banyak hati manusia telah mati. " .
Di samping itu ada pula malam utama yaitu malam terakhir di bulan Dzulhijah. Keutamaannya cukup besar. Demikianlah tentang dzikir dan wirid-wirid yang seharusnya dilaksanakan.

DOA DAN DZIKIR

Dan hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang aku, maka jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa jika ia berdoa kepadaku. " QS. Al Baqarah 186
Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepadaKu pasti Aku mengabulkan untukmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri menyembah kepadaKu akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. " QS. Al Mukmin 60.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda”Tiada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah yang bisa menandingi doa.” Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba
yang berdoa tidaklah akan terlepas dari tiga perkara: Adakalanya ia ber­dosa, maka setelah berdoa is diampuni. Adakalanya berupa kebaikan yang disegerakan untuknya dan adakalanya kebaikan yang disimpan (di akhirat kelak).

Adab Berdoa
Pertama, orang yang berdoa hendaknya mengamati waktu-waktu yang mulia seperti Hari Arafah, hari-hari di bulan Ramadhan, hari Jumat, waktu sahur dan sebagainya. Allah berfirman, "Dan di akhir­-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah swt). QS. Ad Dzariyat 18. Kemudian dikuatkan pula oleh Sabda Nabi Muhammad saw. "Setiap malam Allah swt. turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Lalu Dia berfirman, "Barangsiapa yang berdoa kepadaKu, maka Aku akan mengabulkannya. Barangsiapa meminta kepadaKu, ma­ka Aku akan memberinya. Dan barangsiapa yang memohon ampunan kepadaKu,- Aku akan mengampuninya.
Kedua, Mempergunakan kesempatan dalam keadaan mulia. Abu Hurairah ra. berkata, "Sesungguhnya pintu-pintu langit dibuka ketika desakan barisan perang fi sabilillah, turunnya air hujan, dilaksanakannya dan shalat fardlu. " Begitu juga ketika bersujud, perlulah untuk digunakan berdoa.
Ketiga, seyogyanya berdoa itu menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan sampai putih-putih ketiak tampak. Rasulullah saw bersab­da, "Sesungguhnya Tuhanmu adalah Dzat Yang Hidup dan Pemurah. Dia malu menolak hamba-hambaNya dengan tangan kosong ketika mere­ka mengangkat tangan dalam berdoa kepadaNya. "
Keempat, melembutkan suara, tidak terlalu lemah dan tidak terlalu keras. Rasulullah saw bersabda, "Wahai sekalian manusia, Sesungguh­nya Dzat yang kamu panggil tidaklah tuli dan ghaib. Sesungguhnya Dzat yang kamu panggil itu ada diantara kamu dengan tengkuk-tengkuk kendaraanmu (sangat dekat sekali)."
Kelima, tidak memaksakan diri dengan bersajak dalam berdoa. Karena doa yang berlebih-lebihan itu tidaklah baik. Bukankah Rasulullah saw. bersabda, "Akan muncul suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa."
Keenam, hendaknya merendahkan diri, khusyuk disertai harap dan takut. Allah berfirman, "Sesungguhnya mereka adalah orang yang cepat-cepat dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. " QS. Al Anbiya 90.
Ketujuh, hendaknya mantap dalam berdoa dan yakin akan dikabulkanNya serta membenarkan harapan-harapan. Rasulullah saw "Bila seorang kalian berdoa, maka hendaknya ia memperbesar harapannya, sebab tidak sesuatu pun yang bisa menyaingi keagungan Allah SWT.
Kedelapan, bersungguh-sungguh dan mengulanginya sampai 3 kali. Ibnu Masud ra. berkata, "Rasulullah saw. bila berdoa. Maka dilakukan tiga kali. Jika memohon, maka dilakukan tiga kali."
Kesembilan, memulai doa dengan menyebut Allah swt shalawat atas Nabi Muhamad saw. Rasulullah saw. bersabda. “ Jika kalian memohon hajat kepada Allah swt. maka mulailah dengan shalawat atas-ku, sebab Allah swt. Maha Pemurah dari diminta dua hajat. Lalu mengabulkan satu hajat dan menolak yang lainnya."
Kesepuluh, adalah adab batin. Ini merupakan masalah yang prinsip dalam terkabulnya doa, yakni: taubat, ,mengembalikan barang-barang hasil perbuatan dzalim dan menghadap Allah swt dengan harapan yang sungguh-sungguh.

Keutamaan Shalawat Atas Nabi
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." QS. Al Azhab 56.
Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa yang bershalawat kepadaku, maka para malaikat berdoa kepadanya. Dan barang siapa yang bershalawat kepadaku ketika itu, maka hendaklah ia menyedikitkan atau memperbanyaknya. "
Dalam hadis lain diterangkan bahwa Rasulullah saw. "Seorang mukmin sudah cukup dikatakan kikir bila ia tidak mau membaca shalawat atasku ketika namaku disebut di sampingnya. "

Rasulullah saw. bersabda pula, "Barangsiapa dari umatku memba­ca shalawat terhadapku; maka dituliskan sepuluh kebaikan kepadanya dan dihapuskan sepuluh keburukan yang dimilikinya."
Keutamaan Istighfar

Allah Ta’ala berfirman, "Dan (juga) orang-orang yang jika menger­jakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka lalu ingat kepada Allah dan beristightar (mohon ampunan) atas dosa-dosa mere­ka. " QS. Ali Imran 135.
Dalam hadis riwayat Abu Daud dan An Nasai diterangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang memperbanyak bacaan istighfar, maka Allah swt. menjadikan kemudahan dari setiap kesusahan, mencarikan jalan keluar dari kesempitan dan memberi rejeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. "
Hadis riwayat At Turmidzi menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang ketika berangkat ke tempat tidurnya mem­baca `astaghfitullaaahal adziim ... ' (aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Mengurusi makhluk. Dan aku bertaubat kepadaNya, 3x), maka Allah mengampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak jumlah buih di lautan atau pasir yang bertumpuk atau sejumlah daun-daun pepohonan atau sejumlah banyaknya hari dunia. "

Keutamaan Berdzikir
Allah swt. berfirman, "Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring. " QS An Nisa 103. Kemudian dalam ayat lain diterangkan bahwa Allah berfirman, "Berdoalah kepadaKu pasti akan Kuperkenan­kan bagimu." QS. Al Mukmin 60.
Dzikir artinya mengingat Allah. Tidak terikat waktu, hendaknya dilakukan kapan dan di mana saja. Lebih utama jika ketika duduk sehabis shalat. Atau ketika duduk di tengah-tengah sebuah majelis. Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah duduk suatu kaum dalam sebuah majelis sambil mengingat Allah di situ, melainkan mereka dikelilingi para malaikat dan diliputi rahmat serta Allah menyebut mereka di antara para malaikat di sisiNya."Rasulullah SAWbersabda, "Amalan-amalan baik yang kekal adalah ucapan Laa ilaaha illallaah, Subhaanallah, Allaahu akbar, Alhamdulillah laa haulaa wa laa quwwata illaa billaahil ailiyyil adhiem. "
Dzikir tidak hanya menyibukkan lisan saja. Namun dzikir yang benar ialah yang disertai dengan konsentrasi. Sebab yang dituju adalah kesenangan dengan Allah dan hal itu terwujud dengan selalu berdzikir dengan khusyuk.

Wednesday, October 15, 2008

SABAR DAN BERSYUKUR

Iman itu terdiri dari dua bagian. Setengahnya adalah kesabaran dan setengahnya lagi adalah rasa syukur, sesuai dengan yang dise­butkan dalam kabar-kabar dan atsar-atsar.
Adapun kesabaran, Allah Ta'ala telah berfirman memuji sifat itu, "Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar." (QS. As-­Sajdah: 24)

Allah Ta'ala berfirman, "Dan telah sempurnalah perkataan Tuhan-mu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka." (QS Al-A'raf:137)
Allah Ta'ala berfirman, "Kami akan memberi balasan kepada orang­-orang yang sabar." (QS. An-Nahl: 96)
Nabi Saw. ditanya tentang iman, maka beliau menjawab, "Kesa­baran dan tenggang rasa."
Nabi Saw. bersabda, "Kesabaran itu adalah harta terpendam di surga."

A. Hakikat Kesabaran
Kesabaran terdiri dari pengetahuan, keadaan, dan amal. Pengeta­huan di dalamnya seperti pohon, keadaan seperti ranting-ranting, dan amal seperti buah. Maka engkau ketahui bahwa maslahat keaga­maan terdapat dalam kesabaran. Akibatnya, timbul kekuatan dan dorongan untuk melakukan kesabaran. •
Hal itu dilakukan terhadap ibadah atas sabar dari melampias­kan syahwat. Dalam semua keadaan itu membutuhkan semacam kesabaran hingga tidak berlebih-lebihan dalam melakukan per­buatan-perbuatan yang mubah.
Adapun kesabaran dalam ibadah hendaklah diketahui bahwa seseorang bersabar beberapa hari dan akan bahagia selama-lamanya sebagai imbalannya. Ia memerlukan kesabaran untuk tidak menyiar­kan dan merusaknya dengan riya'.
Kesabaran terbesar adalah sabar dalam menahan diri dari me­lampiaskan syahwat dan berlarut-larut dalam melakukannya, dan jugs seseorang harus sabar bila diganggu oleh seseorang dengan perkataan atau perbuatan.

Seorang sahabat Nabi Saw. berkata, "Kami tidak menganggap iman seseorang sebagai iman bila ia tidak sabar di kala menghadapi gangguan."
Allah Ta'ala berfirman, "Dan Kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan ha­nya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang bertawakal. " (QS. Ibrahim:12)
Kesabaran ini terkadang dilakukan atas perbuatan itu dengan menahannya annya dan terkadang sabar dari pembalasannya. Kedua hal menunjukkan kesempurnaan iman.
Macam yang lain adalah sesuatu yang menyerang tanpa disengaja,seperti musibah berupa penyakit, hilangnya penglihatan, kelumpuhan anggota tubuh, dan kematian orang yang dicintai. Ibnu abbas ra. berkata, "Kesabaran dalam Al-Qur'an ada tiga macam, yaitu kesabaran untuk menunaikan kewajiban-kewajiban karna Allah Ta'ala dan ia mempunyai 300 derajat, kesabaran untuk tidak melanggar larangan-larangan Allah Ta'ala dan ia mempunyai 600 derajat, dan kesabaran dalam menghadapi musibah pada pukulan pertama dan ia mempunyai 900 derajat."
Kesabaran yang bagus itu ialah yang tidak diketahui dari penderita ­musibah, dan tidak mungkin mencapai hal ini kecuali dengan latihan yang lama dalam masa yang lama. Wallahu a'lam.
B. Syukur
Adapun rasa syukur, keutamaannya ialah bahwa Allah mengait­kannya dengan zikir, sedangkan Allah Ta'ala berfirman, "Sesung­guhnya zikrullah (mengingat Allah) itu lebih besar." (QS. Al-Anka­but 45)
Allah Ta'ala berfirman, "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (QS. Al-Baqarah:152)
Allah Ta'ala berfirman, "Dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur." (Ali-Imran: 144)
Allah Ta'ala berfirman, "Sedikit saja dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba':13) Di antara kabar-kabar adalah sabda Nabi Muhammad SAW, "orang yang makan dan bersyukur sama derajatnya dengan orang puasa yang sabar."
Rasa syukur itu dinyatakan dengan mengetahui bahwa tiada pemberi kenikmatan selain Allah. Kemudian apabila engkau ketahui rincian-rincian nikmat Allah atas dirimu pada anggota-anggo­ta badanmu, tubuh dan jiwamu serta segala yang engkau perlukan dari urusan-urusan penghidupanmu, timbullah di hatimu kegembi­raan terhadap Allah dan nikmat-Nya serta karunia-Nya atas dirimu.
Adapun dengan hati, rasa syukur itu dinyatakan dengan me­nyembunyikan kebaikan bagi seluruh manusia dan menghadir­kannya selalu dalam mengingat Allah Ta'ala sehingga tidak melu­pakannya.
Adapun dengan lisan, engkau nyatakan dengan banyak mengucap tahmid.
Dengan anggota tubuh dinyatakan dengan menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta'ala dalam menaati-Nya dan menghindari penggunaan nikmat-Nya untuk mendurhakai-Nya.


Syukur mata dinyatakan dengan menutupi setiap kejelekan yang engkau lihat dari seorang muslim dan tidak menggunakannya untuk melihat maksiat.


Syukur telinga dinyatakan dengan menutupi kejelek­an-kejelekan yang didengar dan mendengarkan apa-apa yang dibolehkan saja.
Nabi Saw. berkata kepada seorang laki-laki, "Bagaimana kea­daanmu di waktu pagi ini?"
Orang itu menjawab, "Baik."
Nabi Saw. mengulangi pertanyaan itu dan orang tersebut me­ngulangi jawabannya hingga pada ketiga kalinya ia menjawab, "Keadaanku baik dan aku memuji syukur kepada Allah Ta'ala."
Nabi Saw. berkata, "Inilah yang aku inginkan darimu."
Setiap orang jika ditanya tentang sesuatu, maka ia antara bersyu­kur atau mengeluh. Bila ia bersyukur, maka ia pun telah menaati Allah. Dan apabila mengeluh, maka ia pun durhaka.
Jika ada yang bertanya, "Apa makna syukur, sedangkarn syukur adalah nikmat sempurna dari Allah Ta'ala?" Maka kami jawab, "Pertanyaan ini telah terlintas di hati Dawud dan Musa as."
Maka Musa as. berkata, "Bagaimana aku mensyukuri-Mu, sedang­kan aku tak dapat mensyukuri-Mu kecuali dengan nikmat yang berasal dari nikmat-Mu?"
Kemudian Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya, "Apabila engkau mengetahui ini, maka engkau pun telah mensyukuri Aku."
Dalam kabar lain, "Apabila engkau tahu bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari-Ku, maka Aku rela hal itu sebagai pernyataan syukur darimu."
Jika engkau katakan, "Aku tidak mengerti dengan jawaban ini, maka itu juga merupakan nikmat dari-Nya."
ini adalah cabang dari satu bab tauhid, yaitu bahwa Dialah yang mensyukuri dan disyukuri, yang mencintai dan yang dicintai. Tiada sekutu pun di wujud ini selain Allah. Segala sesuatu akan binasa kecuali l diri-Nya, dan ini adalah kebenaran yang azali dan abadi, karena tiada sesuatu pun di wujud ini selain Allah. Dia berdiri sen­diri.
Segala Sesuatu Selain Dia Dirikan olehnya Maka Dialah yang Sendiri dan Hidup Kekal
Ketika membaca ayat "Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)", (QS. Shaad: 44) Habib bin Habib berkata, :"Alangkah mengherankannya, Allah memberi dan memuji, sebaga isyarat bahwa apabila Allah memuji pemberiannya, maka Dia memuji diri-Nya. Maka Allah yang memuji dan Dialah yang dipuji."
Dari sinilah, Asy-Syeikh Abu Said Al-Maihani memandang ketika dibacakan di hadapannya "Dia mencintai mereka dan mereka mencintainya ", maka ia berkata, "Demi umurku, sungguh Dia mencintai mereka dan biarkan Dia mencintai mereka bagi diri-Nya."
Dialah yang mencintai dan Dialah yang dicintai. Ini adalah ting­kat yang tinggi dan tidak sampai kepada pemahamanmu kecuali dengan sebuah contoh menurut kadar akalmu.
Telah jelas bagimu bahwa apabila pengarang mencintai kara­gannya, maka ia pun telah mencintai dirinya. Apabila pembuat sesuatu mencintai buatannya, maka ia pun telah mencintai dirinya. Apabila seorang ayah mencintai anaknya karena ia anaknya, maka ia pun telah mencintai dirinya. Segala sesuatu di dalam wujud selain Allah Ta'ala adalah karangan dan buatan. Jika Allah mencintainya, maka sesungguhnya Allah mencintai diri-Nya. Ini adalah pandangan dari sisi tauhid.
Itulah yang diisyaratkan dengan perkataan Sufi, "Ia lenyap dari dirinya dan orang lain sehingga tidak melihat selain Allah."
Orang-orang tidak memahami hal ini sehingga mereka mem­persalahkan para Sufi.
Mereka berkata, "Bagaimana ia lenyap, panjang bayangannya tetap seperti dulu dan setiap malam dan siang memakan berbagai macam makanan.
Orang-orang menertawakan mereka karena kebodohan mereka, padahal syarat bagi orang-orang yang arif adalah menjadi tertawaan orang-orang bodoh."
Allah Ta'ala berfirman, "Sesunguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman." (QS. Al­Muthaffifin: 29)
Hingga firman Allah, "Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (QS. Al-Muthaffifin: 34)
Maka, rasa syukur adalah penggunaan nikmat di jalan yang di­ciptakan baginya. Contohnya, seorang raja mengirim kepada seorang sahayanya seekor kuda dengan segala keperluannya untuk diken­darai. Jika ia menaiki dan menggunakannya di jalan yang telah ditetapkan baginya, maka ia pun menggunakan nikmat itu dengan semestinya. Jika ia menaikinya dan menjauh dari raja, maka itu. adalah kebodohan dan mengingkari nikmat. Wallahu a'lam.

MENGASINGKAN DIRI (UZLAH)


Orang-orang berselisih tentang hal itu. Sebagian mereka ber­pendapat lebih menyukai uzlah daripada pergaulan, seperti Sufyan Ats-Tsauri, .Ibrahim bin Adham, Dawud At-Tha'iy, Al-Fudhail bin Iyadh, Sulaiman Al-Khawash, dan Basyar Al-Hafi.
Sebagian besar tabi'in lebih menyukai pergaulan dan memper­banyak saudara (teman) untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Semuanya berdalil dengan sabda Nabi Saw. ten­tang persaudaraan dan kerukunan ketika ia datangkan kepadanya seorang laki-laki yang telah pergi ke gunung untuk beribadah di situ. Maka Nabi Saw. bersabda, "Jangan engkau lakukan dan jangann seorang pun di antara kamu melakukannya. Sungguh kesabaran seseorang di antara kamu dalam suatu negeri Islam lebih baik daripada ibadah sese­orang dari kamu selama 40 tahun."

Pendukung keutamaan uzlah, seperti Fudhail bin Iyadh ra. berdalill dengan sabda Rasulullah Saw. kepada Abdullah bin Amr Al juhani ketika ia berkata, "Ya Rasulullah, bagaimana cara keselamatan itu?" Nabi Saw. menjawab, "Cukuplah engkau tinggal di rumahmu, tahanlah lidahmu (dari perkataan buruk), dan tangisilah dosamu,"


Faedah-Faedah, Gangguan-Gangguan, dan Keutamaan Uzlah

Masalah ini berbeda menurut perbedaan orang-orangnya. Adapun faedah uzlah, ada kemungkinan untuk selalu melakukan ketaatan dan mengajarkan ilmu serta menghindari perbuatan­-perbuatan terlarang yang cenderung dilakukan manusia dengan pergaulan, seperti riya', ghibah, tidak melakukan amar makruf nahi mungkar, meniru akhlak tercela, dan juga terlalu menekuni urusan-­urusan duniawi serta pekerjaan dan pabrik.


Faedah Pertama: Menekuni Ibadah, Berpikir, Menghibur Diri dengan Allah Ta'ala, Bermunajat kepada-Nya, dan Merenungkan Kerajaan Allah.
Hal itu bisa dilakukan dengan uzlah dan menjauhi masyarakat. Itulah sebabnya, seorang bijak berkata bahwa tidaklah seseorang mampu melakukan khalwat, kecuali bila menekuni Kitabullah. Orang-orang yang berpegang pada Kitab Allah adalah mereka yang beristirahat dari kepayahan dunia dengan mengingat Allah.
Orang yang mengingat Allah Ta'ala hidup dengan menyebut nama Allah dan mati dengan menyebut nama Allah serta bertakwa kepada Allah dengan menyebut nama Allah.
Tidaklah diragukan bahwa mereka ini terhalang oleh pergaulan untuk berpikir dan berzikir. Begitu aRasulullah SAW di awal dakwahnya beribadah di gunung Hira. Maka apabila seseorang tetap di dalam khalwat, hasilnya ialah ayang dikatakan oleh Al-Junaid ra.: "Aku berbicara dengan Allah selama 30 tahun di saat orang-orang menyangka bahwa aku berbicara dengan mereka."
Dikatakan kepada salah seorang dari mereka, "Kenapa engkau tinggal sendirian ?"
Ia menjawab, "Aku tidak sendirian, tetapi aku duduk di sisi Allah , Apabila aku ingin Allah berbicara kepadaku, maka kubaca kitab Allah ,dan apabila aku ingin berbicara kepada-Nya, maka akupun shalat." diceritakan bahwa ketika Uwais Al-Qarani sedang duduk, tiba-tiba datang kepadanya Haram bin Hayyan. Kemudian ia berkata, Kenapa Engkau datang?"
Haram menjawab, "Aku datang untuk menghibur diri denganmu."
Uwais berkata, "Aku tidak yakin bahwa seseorang mengenal Tuhan-nya, bila ia menghibur diri dengan orang lain."
Al-Fudhail berkata, "Apabila kulihat malam datang, akupun gembira dengannya dan aku katakan : Aku menyendiri dengan Tuhanku. Apabila aku lihat Subuh datang, maka aku pun merasa gelisah karena khawatir bertemu orang-orang dan datang kepadaku orang yang membuat aku lalai dari Tuhanku."
Malik bin Dinar berkata, "Barangsiapa tidak senang berbicara dengan Allah hingga meninggalkan pembicaraan dengan manusia, maka iapun sedikit amalnya dan buta hatinya serta menyia-nyiakan umurnya.


Faedah Kedua:
Menjauhi Maksiat-Maksiat yang Biasanya Menimpa Manusia dengan Pergaulan dan la Selamat darinya di dalam khlawat (Ghibah,Riya dan tidak Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar)
Ringkasnya, tidak dapat kita memutuskan bahwa lebih utama secara mutlak, tetapi berbeda-beda menurut perbedaan orang-orangnya.

Bersikap wajar adalah lebih utama, yaitu tidak menjauh sama sekali hingga luput sama sekali dari faedah-faedah yang tergantung pada pergaulan, dan tidak bergaul sebebas-bebasnya sehingga luput dari faedah-faedah uzlah.
Dengan uzlah hendaklah ia berniat menjauhi manusia dari keja­hatannya dan mengingat Tuhannya dengan segenap hatinya. Janganlah berangan-angan panjang sehingga nafsunya mengkha­yalkan panjang angan-angan. Hendaklah dengan uzlah ia berniat jihad akbar, yaitu jihad melawan nafsunya.
Sebagaimana dikatakan pada sahabat, "Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar."