Friday, May 1, 2009

DO'A

"Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulullah dan atas keluarganya.

"Ya Allah, tolonglah aku, berikanlah aku petunjuk, berilah aku taufiq untuk dapat mendidik akhlaqku, dan menghaluskan­nya dengan latihan maksimal yang akan menghapus kotoran-kotoran kejiwaan, yang akan menekan luapan nafsu syah­wat, yang dihiasi dengan senantiasa hadir bersama Allah Azza wa Jalla, dan memiliki adab yang indah di atas hamparan kehina­an, keputusasaan, keterpaksaan, dan ke­fakiran, demi pengabdian yang hakiki dan memenuhi hak-hak-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu."

"Ya Allah, keluarkanlah dari hatiku segala kecintaan kepada urusan dunia dan segala kecintaan kepada makhluk yang menyebabkan aku condong kepada perbuatan maksiat kepada-Mu, atau menyibukkan aku dari ketaatan kepada­Mu, atau menghalangi aku dengan hakikat makrifat-Mu'yang khusus dan kecintaanku yang tulus kepada-Mu. "

"Ya Tuhanku, ampunilah aku, rahmati­lah aku, dan terimalah taubatku. Sesung­guhnya Engkau Maha Pemberi Taubat lagi Maha Penyayang."

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui rahasiaku dan zhahirku, maka terimalah permohonan udzurku, dan Engkau pun mengetahui hajatku, maka penuhilah permohonanku, dan Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, maka ampunilah aku atas dosa-dosaku.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ke hadirat-Mu keimanan yang senantiasa melekat di hatiku dan keyakinan yang benar sehingga aku mengetahui bahwa tidak ada musibah yang menimpaku kecuali yang telah Engkau tentukan atas diriku, serta aku memohon keridhaan hati­ku atas karunia yang telah Engkau anu­gerahkan kepadaku, wahai Dzat Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan."
"Ya Allah, Yang Maha Belas Kasih, Yang Maha Pemberi Rizqi, Yang Maha­kuat, Yang Mahaperkasa .Aku memohon ke hadirat-Mu agar aku senantiasa menghambakan diri kepada­Mu dan tekun melakukan kewajiban ke­pada-Mu, dan sirnanya segala sesuatu dari diriku selain Engkau, dan kasih sayang yang penuh dari sisi-Mu, baik yang tampak jelas maupun tersembunyi, rizqi yang baik, luas, dan menyenangkan, kekuatan iman di dalam keyakinan, dan kekukuhan dalam menegakkan kebenaran dan agama, dan memperoleh kemuliaan (dengan karunia-Mu) yang langgeng lagi kekal, dan kemuliaan yang tetap lagi abadi, tidak dinodai dengan sifat sombong lagi congkak, dan tidak menginginkan berbuat kerusakan di muka bumi atau berlaku angkuh.Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar ,Mahadekat,lagi Maha mengabulkan.”

Friday, April 24, 2009

YA ALLAH

"Ya Allah, jadikanlah shalawat-Mu yang paling utama selamanya, keber­kahan dari-Mu yang selalu bertambah, penghormatan-Mu yang paling baik dalam keutamaan dan jumlah-Nya, tertuju kepada insan yang termulia, tempat berhimpunnya hakikat-hakikat keimanan, bukit tajalli ihsani (kesiapan untuk menerima kebaikan dari Allah SWT), tempat turunnya rahasia-raha­sia dari Allah, Yang Maha Penyayang, pusat lingkaran para nabi, pemimpin pasukan para rasul, panglima para nabi, yang dimuliakan, makhluk termu­lia, pembawa panji-panji kemuliaan yang tertinggi, raja kemuliaan yang paling luhur, yang menjadi bukti raha­sia-rahasia azali, yang menyaksikan rahasia-rahasia yang pertama-tama, juru bahasa tentang masa lalu, sumber ilmu, kesantunan, dan hikmah, per­wujudan rahasia kemurahan, inti alam yang di atas maupun di bawah, ruh jasad dua alam, inti kehidupan dua alam, yang mewujudkan tingkatan ubudiyah tertinggi, yang berakhlaq dengan akhlaq maqam-maqam pilihan, teman teragung, kekasih termulia, junjungan kami Nabi Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib, juga ke­pada semua nabi dan rasul, serta para keluarga dan sahabat mereka, selama orang-orang mengingat dan melupa­kanmu."
'Ya Allah, berilah aku petunjuk dari sisi-Mu, limpahkanlah bagiku dari kha­zanah karunia-Mu, karuniakanlah kepadaku rahmat-Mu, dan anugerah­kanlah bagiku keberkahan dari-Mu'."
Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tiada Tuhan selain Engkau. Kepada-Mu aku berserah din. Dan Engkaulah Tuhannya Arsy yang agung, Tiada daya dan ke­kuatan kecuali dengan izin Allah, Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Apa saja yang dikehendaki oleh-Nya pasti akan terjadi, dan apa saja yang tidak dike­hendaki kejadiannya oleh-Nya niscaya tak akan terjadi. Aku meyakini bahwa Allah adalah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, dan hitungan-Nya mencakup segala bilangan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan mahluk apa saja yang Engkau pegang ubun-ubunnya ( artinya semua makhluk, karena semua mahluk Allah kuasai). Sungguh, (kehendak) Tuhanku senantiasa di atas jalan yang lurus (Hadits riwayat Ath-Thabarani dalam Ad-Du'a dengan sanad dha’ if).
"Cukuplah Allah bagiku dalam urusan agamaku. Cukuplah Allah bagiku dalam urusan duniaku. Cukup­lah Allah, Yang Mahamulia, bagiku, dalam apa saja yang mengganggu pikiranku. Cukuplah Allah, Yang Maha Penyantun lagi Mahakuat, bagiku, dalam menghadapi siapa saja yang hendak menzhalimiku. Cukuplah Allah, Yang Mahaperkasa, bagiku, dalam menghadapi siapa saja yang berniat jahat terhadap diriku. Cukuplah Allah, Yang Maha Penyayang, bagiku, di saat kematianku. Cukuplah Allah, Yang Maha Pengasih, bagiku, di saat aku menghadapi pertanyaan dalam kubur­ku. Cukuplah Allah, Yang Mahamulia, bagiku, ketika aku menghadapi saat , perhitungan amalan. Cukuplah Allah, Yang Maha lembut, bagiku, di saat aku berada di atas neraca mizan. Cukuplah Allah, Yang Mahakuasa, bagiku, di saat berada di atas Shirath. Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal. Dan Dia­lah Tuhannya Arsy nan agung."

YA ALLAH


"Ya Allah, sesungguhnya kami me­mohon kepada-Mu nikmat yang sem­purna, penjagaan yang senantiasa, rahmat yang meliputi, afiat yang tetap, kehidupan yang paling menyenang­kan, umur yang paling membahagia­kan, kebaikan yang paling sempurna, nikmat yang paling merata, anugerah yang paling enak, pemberian yang paling dekat, amal yang paling balk, ilmu yang paling bermanfaat, dan rizqi yang paling luas. Ya, Allah, jadilah Engkau sebagai Penolong kami, bu­kan lawan kami.


Ya Allah, akhirilah hidup kami de­ngan kebahagiaan, wujudkanlah amal kami semakin bertambah, sertailah saat pagi dan petang kami dengan afiat, jadikanlah akhir perjalanan kami dan harapan kami menuju rahmat-Mu, tuangkanlah limpahan-limpahan am­punan-Mu atas dosa-dosa kami, beri­kanlah kepada kami anugerah diper­baikinya kekurangan-kekurangan kami, jadikanlah taqwa sebagai bekal kami, agama sebagai perjuangan kami, serta tawakal dan ketergan­tungan kami hanya kepada-Mu.


Tuhan kami, tetapkanlah kami pada jalur istiqamah, lindungilah kami dari hal-hal yang dapat menyebab­kan penyesalan di hari kiamat, ringan­kanlah beratnya beban-beban dosa kami, berikanlah kepada kami kehidup­an orang-orang yang baik, peliharalah kami dan lindungilah kami dari kejahatan orang-orang yang berkarakter jahat, bebaskanlah kami, ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami dari neraka, utang, dan kezhaliman, wahai Yang Mahamulia, wahai Yang Maha Pengampun, wahai Yang Maha Pemurah, wahai Yang Maha Menutupi, wahai Yang Maha Penyantun, wahai Yang Mahaperkasa, dengan rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penya­yang di antara yang penyayang. Se­moga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk terbaik-Nya, Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluar­ga dan para sahabatnya.

Wednesday, January 7, 2009

Amaliah Hari 'Asyura

Salah satu keistimewaan Muharram adalah bahwa di bulan ini terdapat suatu hari yang mulia, yaitu tanggal 10, yang biasa disebut Hari 'Asyura. Rasulullah SAW bersabda mengenai tanggal itu, "`Asyura ialah hari tanggal sepuluh." Demikian hadits shahih yang diriwayat­kan oleh Imam Ad-Daraquthni dari Abu Hurairah.
Mengapa Hari 'Asyura dianggap mulia? Di dalam kitab at-Tuhfah al
Mardhiyyah disebutkan, "Dinamakan 'Asyura sebab pada hari itu Allah me­muliakan (yakni dengan memberikan ke­menangan atau keselamatan dari ben­cana) kepada sejumlah nabi."

Puasa Hari `Asyura
Pada Hari `Asyura, kaum muslimin di­sunnahkan melakukan puasa sebagai­mana tersebut dalam sebuah hadits, "`Asyura adalah hari raya nabi sebelum kalian, maka berpuasalah kalian semua pada hari itu." (Hadits hasan yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Abu Hurairah).
Selain puasa pada Hari 'Asyura, di­sunnahkan pula puasa pada hari kesem­bilan, yang disebut Hari Tasu`a. Dalam hadits dikatakan, "Seandainya aku ma­sih hidup sampai tahun depan, aku akan puasa pada Hari Tasu'a." Itu agar kaum muslim berbeda dengan orang Yahudi, karena orang-orang Yahudi pun berpua­sa pada Hari 'Asyura.
Diceritakan juga bahwa orang Arab pada masa Jahiliyah pun berpuasa di
hari itu. Mereka juga memakaikan kis­wah di Ka`bah pada hari itu.
Puasa pada hari itu sangat disunnah­kan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim disebutkan, ketika sampai di Madinah, Nabi men­dapati orang Yahudi berpuasa pada Hari 'Asyura, karena Allah telah menyelamat­kan Nabi Musa pada hari itu. Nabi lalu bersabda, "Aku lebih berhak terhadap Nabi Musa."

Kemudian Nabi berpuasa pada hari itu dan mengajak orang untuk berpuasa juga. Nabi sangat menuntut untuk ber­puasa `Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan. Ketika diwajibkan puasa pada bulan Ramadhan, puasa 'Asyura menjadi sunnah.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah, ia mengatakan, "Rasulullah me­merintahkan untuk berpuasa pada Hari 'Asyura sebelum diwajibkan puasa bu­lan Ramadhan. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, yang mau berpuasa boleh berpuasa dan yang tidak mau boleh tidak berpuasa." Dari Ibn Umar, disebutkan, Rasulullah SAW dan kaum muslimin berpuasa pada Hari Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan. Setelah puasa Ramadhan di­wajibkan, Rasulullah bersabda, "Barang siapa mau berpuasa boleh, dan siapa yang mau tidak berpuasa juga boleh."
Dari Aisyah, ia mengatakan, "Hari 'Asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa Jahi­liyah. Ketika Islam datang, Rasulullah bersabda, 'Barang siapa mau berpuasa, silahkan berpuasa; dan barang siapa tidak mau, silakan meninggalkannya." (Hadits riwayat Muslim).
Semoga dengan doa-doa yang kita panjatkan di akhir dan di awal tahun serta di bulan Muharram ini, Allah me­nerima semua amal baik kita dan menghapuskan dosa kita sepanjang tahun. Semoga pula Dia membimbing kita di tahun mendatang sehingga kita dapat senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, dapat mengalahkan hawa nafsu, dan terlindung dari godaan setan. Amin.

Wirid pada hari Asyura

Pada Hari `Asyura, yakni tanggal 10 Muharram, dianjurkan membaca wirid di bawah ini sebanyak tujuh puluh kali:

Hasbiyallahu wa ni`mal-wakil, ni`mal­ mawla wa ni `man-nashir.

"Cukuplah Allah bagiku. Dan Dialah sebaik-baik yang menjamin, sebaik-baik yang mengurus, dan sebaik-baik yang menolong."

Di lanjutkan dengan membaca

Subhanallahi mil-al mizan wa muntahal­`ilmi wa mablaghar-ridha wa zinatal-arsy la manja wa la malja minallahi illa ilayh. Subhanallahi `adadasy-syaf-`i wal watri wa `adada kalimatihit-tammati kulliha.
As-alukas-salamata birahmatika ya­arhamar-rahimin, wa la hawla wa la quw­wata illa billahil-`aliyyil-`azhim, wa huwa hasbi wa ni`mal-wakil, ni`mal-mawla wa ni`man-nashir, wa shallallahu `ala nabiy­yina khayri khalqihi sayyidina muham­madin wa `ala alihi wa shahbihi ajma `in.

"Mahasuci Allah sepenuh mizan, se­ujung pengetahuan, sepuncak keridhaan, dan seberat Arsy. Tidak ada tempat ber­lindung dan meminta pertolongan dari siksa Allah kecuali dengan mendekat kepada-Nya. Mahasuci Allah sejumlah segala yang genap dan ganjil dan se­jumlah kalimat Allah yang sempurna semuanya.
Aku memohon kepada-Mu keselamat­an, dengan rahmat-Mu, wahai Yang Paling
Pengasih di antara yang pengasih. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan de­ngan daya dan upaya dari Allah, Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Dan cukuplah Dia bagiku. Dan Dialah sebaik-baik yang membantu, sebaik-baik yang mengurus, dan sebaik-baik yang menolong. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kesejah­teraan-Nya kepada nabi, sebaik-baik makhluk-Nya, Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya."

14 Perkara Yang sunat dilakukan pada Hari ‘Asyura (10 Muharram)

1. Melapangkan masa/ belanja anak isteri
fadhilat - Allah akan melapangkan hidupnya pada tahun ini.

2. Memuliakan fakir miskin
fadhilat - Allah akan melapangkannya dalam kubur nanti.

3. Menahan marah
fadhilat - Di akhirat nanti Allah akan memasukkannya dalam golongan yang ridha.

4. Menunjukkan orang sesat
fadhilat - Allah akan memenuhkan cahaya iman dalam hatinya.

5. Menyapu / mengusap kepala anak vatim
fadhilat - Allah akan mengurniakan sepohon pokok di syurga bagi tiap-tiap rambut yang di sapunya.

6. Bersedekah
fadhilat - Allah akan menjauhkannya daripada neraka sekadar jauh seekor gagak terbang tak berhenti-henti dari kecil sehingga is mati. Diberi pahala seperti bersedekah kepada semua fakir rniskin di dunia ini.

7. Memelihara kehormatan diri
fadhilat - Allah akan mengurniakan hidupnya senantiasa diterangi cahaya keimanan

8. Mandi Sunat
fadhilat - Tidak sakit (sakit berat) pada tahun itu
lafaz niat : "Sahaja aku mandi sunat hari Asyura karena Allah Taala"

9. Bercelak
fadhilat - tidak akan sakit mata pada tahun itu.

10. Membaca surah Al-Ikhlas hingga akhir seribu kali
fadhilat - Allah akan memandanginya dengan pandangan rahmah diakhirat nanti.

11. Sembahyang sunat empat rakaat
fadhilat - Allah akan mengampunkan dosanya w alau telah berlarutan selama 50 tahun melakukannya. _
lafaz niat : "Sahaja aku sembahyang sunat hari Asyura empat rakaat kerana Allah Taala"
Pada rakaat pertama dan kedua selepas fatihah di baca surah AL-Ikhlas sebelas kali.

12. Membaca "hasbiyallahhu wani'mal wakil wa ni'mal maula wa ni'mannasiiru"
fadhilat - Tidak mati pada tahun ini.

13. Menjamu orang berbuka puasa
fadhilat - Diberi pahala seperti memberi sekalian orang Islam berbuka puasa.

14. Puasa
Niat - "Sahaja aku berpuasa esok hari sunat hari Asyura karena Allah Taala"
fadhilat - Diberi pahala seribu kali Haji, seribu kali umrah dan seribu kali syahid dan diharamkannya dari pada api neraka.

Friday, December 5, 2008

AMALIAH IDUL ADHA

Tak lama lagi kita akan memasuki Hari Raya Idul Adha. Meskipun di Indonesia kaum muslimin menyam­but hari raya ini tidak seperti menyambut raya 'Idul Fitri, sesungguhnya ia tak kalah penting. Bahkan, ia memiliki kelebihan yang tak terdapat pada hari raya `Idul Fitri maupun pada hari-hari besar umat Islam lainnya. Yang paling penting, hari raya ini di antaranya berkaitan de­ngan pelaksanaan ibadah haji, juga dengan ibadah qurban.
Sebagaimana `Idul Fitri, `Idul Adha juga hari raya kita yang harus kita agung­kan, dengan melaksanakan berbagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. `Idul Fitri dan `Idul Adha adalah hari raya tahunan kita, di samping hari raya setiap pekan, yaitu hari Jum'at. Da­lam hadits disebutkan, Rasulullah SAW mensyariatkan dua hari raya ini sebagai ganti dua hari raya Jahiliah yang digunakan orang Arab untuk masa-masa keramaian dan riang gembira. Rasulullah SAW berkata kepada penduduk Madinah, "Allah telah menggantikan kedua hari Jahiliah ini dengan yang lebih baik dari­pada keduanya, yaitu hari `Idul Adha dan `Idul Fitri."

Menghidupkan Hari dan Malam `Idul Adha
Ada beberapa hal penting berkaitan de­ngan `Idal Adha, terutama bagi mereka yang tidak sedang melakukan ibadah haji, yaitu tentang menghidupkan malam `Idul Adha, pelaksanaan shalat `Idul Adha, dan penyembelihan qurban. Meskipun masa­lah-rnasalah tersebut adalah hal-hal biasa saja yang secara rutin kita alami dan kita jalani, banyak hal penting berkaitan de­ngan ketiga persoalan tersebut yang perlu kita perhatikan. Beberapa hal di antaranya mungkin belum kita ketahui atau belum kita pahami, karena jarang dibicarakan atau disampaikan. Karena itulah, bonus doa kali ini akan menyuguhkan kepada Anda amalan-amalan yang berkaitan de­ngan hal-hal tersebut disertai penjelasan yang terperinci.

PUASA HARI ARAFAH
Sebelum memperhatikan amalan-amal­an yang berhubungan dengan meng­hidupkan malam dan hari `Idul Adha, kita perhatikan dulu ihwal puasa hari Arafah.

Sebelum Hari Raya 'Idul Adha, kita terlebih dahulu memasuki hari Arafah, yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari itu orang-orang yang tidak me­laksanakan ibadah haji disunnahkan berpuasa. Orang-orang yang melaksana­kan ibadah haji sedang berwuquf di Arafah. Puasa Arafah merupakan salah satu puasa yang disunahkan Rasulullah SAW.
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa mengerjakan puasa di hari Arafah ka­rena hanya mengharapkan ridha Allah, Allah akan menghapuskan doss-dosanya selama satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang." Namun orang­orang yang sedang melaksanakan ibadah haji (berwuquf di Arafah) dilarang ber­puasa pada hari tersebut. Abu Hurairah RA berkata, "Rasulullah SAW melarang berpuasa pada hari Arafah kepada orang­orang yang sedang berwuquf."

Menghidupkan Malam 'Idul Adha

Berdasarkan hadits-hadits yang ada, disunnahkan kita menghidupkan malam 'Idul Adha, sebagaimana juga malam 'Idul Fitri, dengan banyak berdzikir ke­pada Allah, melakukan shalat, berdoa, beristigfar, dan mengerjakan ketaatan-­ketaatan lainnya. Juga disunnahkan ba­nyak bersedekah. Di dalam Al-Quran di­katakan, "Dan sebutlah Allah di hari-hari yang berbilang-bilang." (QS Al-Bagarah: 203 1. Menurut Ibn Abbas, hari yang ber­bilang-bilang itu adalah ketiga hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijj ah).

Para ulama berbeda pendapat tentang berapa lama ukuran waktu untuk dapat dikatakan telah menghidupkan malam 'Idul Adha. Ada yang berpendapat, sese­orang harus menggunakan sebagian be­sar waktu malam itu untuk beribadah. Tetapi ada pula yang mengatakan, ber­ibadah beberapa saat saja di malam itu telah memadai.
Di malam 'Idul Adha serta sebelum dan sesudahnya kita disunnahkan ber­takbir, yakni sejak setelah shalat Subuh

pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai setelah shalat Ashar hari tasyriq yang terakhir, yakni tanggal 13 Dzulhij­jah. Jadi waktunya lebih lama dibanding­kan takbir pada saat 'Idul Fitri.

Dalam hadits yang diriwayatkan Ath­Thabarani dari Ubadah bin Shamit di­katakan, "Barang siapa menghidupkan dua malam 'Id, tidaklah mati hatinya di saat mati seluruh hati_' Dalam hadits lain yang diriwayatkan Anas dikatakan, "Hiasilah dua hari raya mu dengan tah­lil, takbir, tahmid, dan taqdis (menyuci­kan Allah)

Lafaz takbir adalah sebagai berikut:

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

"Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar."

Tetapi redaksi takbir pada 'Idul Adha dan juga 'Idul Fitri yang biasa dibaca masyarakat Islam sejak masa sahabat adalah berikut ini

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallahu wallahu akbar, Allahu akbar wa lilahil-hamd.

-Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Tidak ada Tuhan melain­kan Allah, dan Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan segala puji milik Allah."

Dan menurut Imam Syafi'i, bagus jika ditambahkan dengan kalimat-kalimat berikut ini:

Allahu akbar kabira, wal-hamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukrataw-wa ashila, la ilaha illallahu wa la na'budu illa iyyah, mukhlishina lahud-dina walau karihal-kafirun, la ilaha illallahu wahdahu shadaqa wahdahu wa nashara 'abdahu wa hazamal-ahzaba wahdahu la ilaha illallahu wallahu akbar.

“ Allah Mahabesar ,sangat besar sekali.Segala puji milik Allah, sungguh banyak sekali.Mahasuci Allah,baik di pagi hari maupun di petang hari.Tidak ada Tuhan melainkan Allah.

Tak ada yang kami sembah melainkan Dia, dengan ikhlas menjalankan agama karena-Nya sekalipun orang-orang kafir membenci. Ti dak ada Tuhan melainkan Allah semata, Dia menepati janji-Nya, me­nolong hamba-Nya, menghancurkan sekutu-sekutu musyrikin sendirian. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha­besar.'
Selama hari-hari takbir itu, kita me­ngumandangkan takbir setiap selesai me­lakukan shalat apa saja, baik shalat far­dhu. shalat sunnah, maupun shalat Jena­zah. Juga baik shalat fardhu itu shalat yang tunai, shalat qadha, maupun shalat yang dinazarkan. Takbir itu dapat dibaca di rumah, di masjid, di jalan jalan umum, di majelis-majelis khusus, di mana saja di tempat yang layak untuk itu, karena takbir itu merupakan syiar hari raya.

Malam 'Idul Adha dan juga siang harinya adalah salah satu di antara saat ­saat yang paling utama dalam setahun dan penuh dengan keberkahan. Berdoa di waktu itu sangat dianjurkan, karena merupakan saat dikabulkannya per­mohonan. Karena itu, sebaiknya malam dan siang hari 'Idul Adha, selain diguna­kan untuk mengerjakan hat-hat lain, juga dimanfaatkan untuk menyampaikan apa yang kita butuhkan kepada Allah SWT.

Untuk keperluan di atas, kita dapat me­lakukan shalat Hajat_ Di antara caranya adalah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Aufa, ia mengatakan, "Rasulullah pernah keluar ke tempat kami kemudian bersabda. 'Barang siapa memiliki ke­butuhan kepada Allah atau kepada se­orang manusia, hendaklah ia berwudhu dan membaguskan wudhunya, lalu melakukan shalat dua rakaat, kemudian memuji (bertahmid ) kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi SAW. Setelah itu mengucapkan:

La ilaha illallahul-halimul-karim, sub­ hanallahi rabbil-`arsyil-`azhimi wal-hamdu lillahi rabbil-`alamin, as'aluka mujibati rah­matika wa`aza'ima maghfiratika wal-gha­nimata min kulli birrin was-salamata min kulli dzanbin, la tada ` li dzanban illa ghafartahu wa la hamman illa farajtahu wa la hajatan hiya laka ridhan illa qadaytaha ya arhamar­-rahimin.

"Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Penyantun lagi Maha Pemurah. Mahasuci Allah, Tuhannya Arsy, yang agung, dan segala puji milik Allah, Tuhan sekalian alam. Aku memohon kepada-Mu penyebab-penyebab rahmat-Mu, ampun­an-Mu, simpanan setiap kebaikan, dan ke­selamatan dari setiap dosa. Janganlah Engkau biarkan suatu dosa padaku melain­kan aku Engkau ampuni, jangan biarkan suatu kesusahan melainkan Engkau le­paskan, jangan pula biarkan suatu ke­butuhan yang Engkau ridhai melainkan Engkau penuhi, wahai Yang Paling Peng­asih di antara yang pengasih.

Shalat Idul Adha

Shalat `Idul Adha, sebagaimana juga shalat `Idul Fitri, menurut jumhur Ulama, hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) bagi orang yang wajib melakukan shalat Jum'at. Pertama kali shalat ini dilakukan oleh Rasulullah SAW pada tahun kedua Hijriah dan be­liau terus melakukannya sampai berpu­lang ke rahmatullah. Dan sunnah menu­naikannya secara berjamaah.
Boleh juga mengerjakannya sendiri, tapi itu kurang utama. Sekurang-kurangnya berjamaah adalah dua orang, yakni imam dan mak­mum. Tetap disunnahkan dua khutbah bagi orang yang melakukannya dengan berjamaah meskipun hanya berdua.

Menurut para ulama Madzhab Syafi'i, shalat 'Id lebih utama dikerjakan di masjid, karena merupakan tempat yang termulia. Tetapi para ulama di luar Madzhab Syafi'i pada umumnya berpen­dapat, shalat `Id lebih utama dilakukan di tanah lapang yang luas dan suci, agar suara takbir membahana.
Ketika pergi ke tanah lapang atau ke masjid untuk menunaikan shalat `Idul Adha, disunnahkan kita berjalan kaki seraya mengucapkan takbir dengan nya­ring dan terus-menerus. Selain itu, yang utama menurut sunnah, kita pergi dan kembali dari shalat `Id tidak melalui jalan yang sama.

Sebelum melakukan shalat `Idul Adha, disunnahkan kita tidak makan apa-apa. Berbeda dengan ketika akan pergi shalat 'Idul Fitri, kita disunnahkan makan sedikit terlebih dahulu. Dan amat disukai pula kita mandi dan memakai wangi-wangian pada pagi hari raya ini serta memakai pakaian terbaik yang kita miliki. AI-Hasan bin Ali, cucu Rasulullah SAW. meriwayatkan. "Pada setiap hari raya. Rasulullah SAW menyuruh kami agar mengenakan pakai­an terbaik yang kami miliki, memakai min-yak wangi terbaik yang kami punyai, dan menyembelih hewan qurban termahal yang kami mampu sediakan.
Disunnahkan pula mengajak kaum pe­rempuan, yang dewasa maupun yang masih remaja, telah bersuami maupun yang masih gadis, demikian pula anak ­anak, untuk menghadiri shalat hari Raya. Bahkan, perempuan yang sedang haid dianjurkan juga untuk hadir untuk men­dengarkan khutbah. Tetapi jika pelak­sanaannya di dalam masjid, perempuan yang sedang haid itu harus mencari tempat tersendiri, tidak masuk ke dalam masjid.
Selain itu, kaum perempuan yang akan melakukan shalat `Id itu sebaiknva memakai pakaian yang tidak berlebihan, tidak berdandan secara mencolok, dan tidak memakai wangi-wangian yang kuat aromanya, karena akan menjadikan mereka aebagai sumber fitnah (godaan). Artinya, kaum laki-laki akan tergoda oleh penampilan yang demikian dan mungkin juga akan menggoda, sehingga merugi­ kan kedua pihak.
Shalat `Idul Adha dikerjakan dua ra­kaat seperti shalat yang lain dan tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudahnya. Kecuali apabila dilakukan di masjid, tetap disunnahkan melakukan shalat Tahiyatul masjid sebelum duduk.

Pada shalat `Idul Adha dan `Idul Fitri tidak ada adzan dan iqamah, karena hal itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, ia mengatakan, "Aku pernah melakukan shalat `Id bersama Nabi SAW, bukan hanya sekali-dua kali, tanpa adzan dan iqamah." (HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi).
Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas dan Jabir,” belum pernah dilakukan adzan dan iqamah pada hari `Idul Fitri dan `Idul Adha." (HR Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim).
Pada setiap rakaat sebelum membaca surah Al-Fatihah, kita disunnahkan membaca beberapa takbir tambahan. Pada rakaat pertama, kita membaca tujuh kali takbir - selain takbiratul ihram - setelah membaca doa Iftitah. Dan pada rakaat kedua, membaca lima kali takbir, selain takbir ketika bangkit dari sujud.

Mengenai apa yang dibaca di antara satu takbir dan takbir lainnya, ada bebe­rapa pendapat sebagaimana yang diurai­kan oleh An-Nawawi dalam kitabnya, al­-Adzkar. Menurut mayoritas ulama, kita disunnahkan mengucapkan kalimat berikut:

Subhanallahi wal-hamdu lillahi wa la ilaha illallahu wallahu akbar.
La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu bi yadihil-khair, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir.

"Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu apa pun bagi-Nya. Bagi-Nya-lah kerajaan (kekuasa­an) dan bagi-Nya jualah segala pujian. Di tangan-Nya semua kebaikan. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu."

Ada pula yang mengatakan bahwa yang dibaca adalah kalimat berikut:

Allahu akbar kabira. wal-hamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukrataw-wa ashila.

"Allah Mahabesar, besar sekali. Segala puji milik Allah, sungguh banyak sekali. Mahasuci Allah, baik di pagi hari maupun di petang hari

Kita dapat memilih bacaan yang mana saja di antara bacaan-bacaan di atas. Se­andainya semua bacaan tersebut tidak dibaca, bahkan bila takbir-takbir tambah­an itu juga tidak dibaca, shalatnya tetap sah dan tidak perlu melakukan sujud sahwi. Hanya saja ia tidak mendapatkan keutamaan. Jika imam lupa membaca takbir-takbir itu sampai membaca Al-­Fatihah, menurut pendapat yang shahih, ia tidak perlu mengulangi untuk mem­baca takbir-takbir itu. Sedangkan bagi makmum yang ketinggalan, jika imam sudah membaca beberapa kali takbir, ikutilah takbir yang diucapkan imam, tidak perlu diulangi yang tertinggal.

Mengenai surah yang dibaca, disukai sesudah membaca Al-Fatihah kita mem­baca surah. Al-A’la dalam rakaat yang per­tama_,Dan di rakaat yang kedua sesudah Al-Fatihah, membaca surah Al-Ghasyiyah.
Sedangkan di dalam khutbahnya, khathib disunnahkan membaca takbir ,Sembilan kali di awal khutbah yang per­tama dan kemudian membaca takbir tujuh kali di awal khutbah yang kedua. Jadi sama dengan yang dilakukan ketika khutbah `Idul Fitri. Dan sangat baik khutbah itu di akhiri dengan firman Allah.

Subhana rabbika rabbil-'izzati `amma yashifuna wa salamun `alal-mursalina wal­hamdu lilahi rabbil-'alamin.

"Mahasuci Tuhan-Mu, yang mempunyai kebesaran dari apa yang mereka sifatkan, dan kesejahteraan itu atas para rasul, se­dangkan segala pujian itu merupakan milik Allah, yang memelihara seluruh alam."

Apabila seseorang tidak dapat pergi berjamaah shalat 'Id karena sakit atau ada halangan lain, hendaklah ia me­ngerjakan shalat sendiri dua rakaat juga. AL-Bukhari mengatakan, "Apabila sese­orang tidak mendapatkan shalat `Id ber­sama jamaah, hendaklah ia melakukan shalat dua rakaat juga. Demikian pula orang-orang perempuan (maksudnya, yang tak dapat melakukannya karena suatu keperluan) dan orang di padang gurun, mengingat sabda Nabi SAW, `Ini adalah hari raya kita, umat Islam'."

Bacaan pada Hari Raya

Di dalam kitab Al- Wasail Asy-Syafi'ah fi Al-Adzkar wa Al-Ad'iyyah li AI-Asbab Al-Waqi'ah halaman 215-216, karya Habib Muhammad bin Ali Khird, disebutkan, di antara doa yang dapat dibaca pada hari raya, baik 'Idul Fitri maupun 'Idul Adha, adalah doa ini:

Allahumma inni as-aluka 'aysyatan taqiy­yatan wa maytatan sawiyyatan wa marad­-dan ghayra makhzin wala fadhih. Allahumma la tuhlikna faj-atan wala ta'khudzna bagh­tatan wala tu’jilna 'an haqqin wa washiyyah. Allahumma inna nas-alukal-'afafa wal-ghina wat-tuqa wal-huda wa husna `aqibatil-­akhirati wal-ula, wa na'udzu bika minasy­syakki wasy-syiqaqi war-riya-i was-sum`ati fi dinika ya muqallibal-qulub (Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaytana wa hab lana min ladunka rahmah. Innaka antal­wahhab).

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kehidupan yang bertaqwa, kematian yang benar, dan kepulangan yang tidak dibuat malu dan tidak terbuka aibnya.
Ya Allah, janganlah Engkau binasakan kami dengan tiba-tiba. dan janganlah Engkau cabut kami dan kebenaran dan nasihat. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu sifat iffah (suka menjaga diri), kekayaan, ketaqwaan, petunjuk, dan akhir yang baik di dunia dan di akhirat. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keraguan, per­tikaian, riya', dan sum'ah (melakukan se­suatu karma ingin didengar orang) dalam agama-Mu, wahai Dzat Yang membolak ­balikkan hati (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu. Se­sungguhnya Engkau Maha Pemberi anugerah).”

Dalam kitab itu juga disebutkan bah­wa Umar bin Abdul Aziz mengatakan, 'Bacalah pada hari raya (baik 'Idul Fitri maupun `Idul Adha ) sebagaimana yang diucapkan oleh nenek moyang kalian. Nabi Adam AS:

Rabbana zhalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal-khasirin (OS AI-A'raf: 23)."

"Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak meng­ampuni kami dan menyayangi Kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi:"

Faghfirlana warhamna wa anta khayrur-rahimin (QS Al-Mu'minun: 109).

”Maka ampunilah kami, dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik.”

Walladzi athma`u an yaghfirali khathi'ati yawmaddina (QS Asy-Syu'ara': 82).

"Dan yang amat kuinginkan akan menghapuskan kesalahanku pada hari kiamat."

Juga sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Musa AS:

Qala rabbi inni zhalamtu nafsi faghfirli faghafara lahu, innahu huwal-ghafururrahim (QS Al-Qashash:16)

"Musa berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguh­nya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.' Maka Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.­

Juga sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Yunus AS:

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin (QS Al-Anbiya: 87)

”Tidak ada Tuhan selain Engkau.Maha suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.”

BERQURBAN










Pengertian dan Keutamaan Qurban


Salah satu ibadah yang sangat dite­kankan juga pada 'Idul Adha adalah me­nyembelih qurban (udhhiyyah). Berikut diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah ini.

Qurban disebut juga udhhiyyah, yang berasal dari kata dhahwah, yang berarti naik siang sesudah matahari terbit. Jadi penamaan dengan udhhiyyah ini dengan melihat permulaan waktunya. Sedang­kan menurut istilah, pengertian udhhiy­yah adalah nama bagi suatu hewan ternak yang disembelih, yang terdiri dari kambing, unta, kerbau, atau sapi, pada hari 'Idul Adha dan hari-hari tasyriq, sebagai pendekatan diri kepada Allah SWT.
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidaklah seorang manu­sia melakukan suatu perbuatan pada hari nahar (hari `Idul Adha) yang lebih disukai Allah daripada menumpahkan darah (yakni berqurban). Dan sesungguhnya qurbannya itu akan datang pada hari kiamat beserta tanduknya, kukunya, dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah­nya itu sampai kepada Allah di suatu tempat sebelum jatuhnya ke bumi. Maka nyamanlah engkau dengan qurban-qur­ban itu." HR Ibnu Majah dan At-Tir­midzi ).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam dikatakan, "Aku pernah bertanya atau mereka pernah bertanya, 'Apa sesungguhnya qurban qurban ini?

Rasulullah menjawab, 'Sunnah ayah kalian, Ibrahim.'
Mereka bertanya kembali, 'Apa yang kami dapat darinya?'
Beliau menjawab, `Tiap helai rambut­nva satu kebaikan.'
Mereka bertanya lagi, 'Bagaimana bulu halusnya?'
Jawab beliau, Tiap rambut dari bulu halusnya, satu kebaikan'." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Hukum Berqurban
Hukum menyembelih qurban adalah sunnah muakkadah dan menjadi wajib apabila dinazarkan. Dan ditekankan bahwa menyembelih hewan qurban itu bukan hanya sekali seumur hidup, me­lainkan setiap tahun jika mampu. Dalam sebuah hadits riwayat Abdullah bin `Aun disebutkan, "Hai manusia, sesungguhnya setiap penghuni rumah disunnahkan berqurban setiap tahun." Hadits ini di­riwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan.
Bila suatu keluarga mampu melaku­kannya tetapi meninggalkannya, hukum­nya makruh (dibenci). Demikian kuat penekanannya sehingga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hu­rairah disebutkan, "Rasulullah SAW ber­sabda, `Barang siapa mampu tetapi tidak berqurban, janganlah mendekati tempat shalat kami'." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Adapun waktu menyembelih qurban adalah setelah matahari terbit pada hari nahar, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah, dan telah berlalu waktu seukuran shalat dua rakaat dan dua khutbah yang ringan. Dan waktu menyembelih itu terus ber­langsung hingga masuknya matahari di hari tasyriq terakhir, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Dengan demikian, waktu­ waktu menyembelih itu ada empat hari. Yaitu tanggal 10 Dzulhijah, yang disebut hari nahar, atau sering dikatakan sebagai hari `Idul Adha, kemudian tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, yakni hari tasyriq pertama, kedua, dan ketiga (terakhir).

Doa menyembelih Qurban

Ketika melakukan penyembelihan, di­sunnahkan menghadapkan hewan qur­bannya ke arah kiblat, kemudian me­nyembelihnya dengan mengucapkan:

Bismillahi Allahu akbar. Allahumma taqabbal minni.

"Dengan nama Allah. Allah Mahabesar. Ya Allah, terimalah dariku."

Karena pada umumnya sekarang ke­banyakan orang tidak menyembelih sen­diri qurbannya, melainkan orang lain yang menyembelih, orang yang hewan qurbannya disembelihkan oleh orang lain pun dapat membaca doa di atas.