Thursday, February 28, 2008

Tentang Taqdir




Seseorang bertanya kepada Rasulullah: “Beritahu aku tentang iman.” Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim. Hadits Arba’in no 2).
Iman kepada Qadha dan Qadar merupakan salah satu rukun iman dalam Islam.
Allah swt telah mencatat di Lauh Mahfudz seluruh takdir makhluk.
Nabi bersabda:“Pertama kali yang diciptakan Allah swt adalah Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya: “Tulislah!”. Ia menjawab: “Apa yang harus aku tulis?” Allah berfirman: “Tulislah semua yang terjadi sampai hari kiamat!”(Hasan melalui jalan Imam Ahmad).
Allah berfirman: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah (Qs. Al-Hajj: 70).
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”(Qs. Al-Hadid: 22)
karena itu, apa yang telah ditakdirkan menimpa manusia tidak akan meleset darinya, dan apa yang ditakdirkan tidak mengenai manusia, maka tidak akan mengenainya.
“.. Ketahuilah jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat, dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi, dia berkata “Hadits ini hasan sahih”. Terdapat di Hadits Arba’in no 19)
Allah swt telah mencatat dalam Lauh Mahfudz, semua apa yang dikehendaki-Nya. Sedangkan apabila Allah menciptakan janin sebelum ditiupkan ruh kepadanya, Maka Allah swt mengutus kepadanya seorang Malaikat yang diperintahkan untuk mencatat empat perkara: yaitu tentang rizkinya, ajalnya, amalnya, serta celaka atau bahagia. (Seperti yang terdapat pada hadits riwayat Bukhari no 3208, 3332, 6594,7454, dan Muslim no 2643).
Kemudian yang harus diketahui oleh setiap muslim, bahwa kita wajib mengimani qadha’ dan qadar baik buruk, manis, dan pahit. Qadha dan Qadar adalah rahasia Allah yang tidak diketahui oleh seseorang pun dari makhluk-Nya. Kewajiban kita mengimani dan beramal sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Semua gerak-gerik yang terjadi di langit dan di bumi hanyalah dengan kehendak Allah swt, tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam kerajaan-Nya apa yang tidak diinginkan-Nya.
Meskipun segala sesuatu yang ada telah Allah takdirkan, akan tetapi Allah tetap memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk taat kepada-Nya, serta taat kepada Rasul-Nya, dan melarang mereka durhaka kepada-Nya.
Manusialah yang benar-benar melakukan satu perbuatan, sedangkan Allah swt yang menciptakan perbuatan mereka itu. Manusia mempunyai kekuasaan atas perbuatan mereka, serta mereka pun mempunyai keinginan. Tetapi Allah-lah yang menciptakan mereka serta menciptakan kekuasaan (kemampuan) dan keinginan mereka itu, sebagaimana Allah berfirman:
“Yaitu bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam” (Qs. At-Takwir: 28-29).
———————————–
Allah swt telah menetapkan sesuatu kebaikan untuk kita. Kemudian, kita lah yang menentukan apakah kita akan mengambil kebaikan itu atau tidak.
Aliran-aliran sesat yang berhubungan dengan takdir:
1. Aliran Jabriyah: berasal dari kata Jabr (terpaksa), yaitu semua dipaksa dan tidak ada kekuasaan dan kebebasan dalam dirinya. Mereka berpandangan bahwa manusia dalam segala perbuatan, gerak-gerik dan tingkah lakunya adalah terpaksa, tidak memiliki kekuasaan dan kebebasan. Dan semua itu adalah perbuatan Allah.2. Qadariyah adalah aliran yang sesat dan termasuk ahlul bid’ah. Berasal dari kata ‘qadar’. Artinya ketentuan Ilahi. Aliran ini tidak mengakui adanya qadar tersebut dan mengatakan manusialah yang menentukan nasibnya sendiri dan dialah yang membuat perbuatannya, terlepas dari kodrat serta iradat Ilahi.

Wednesday, February 20, 2008

Makna Dzikir dalam Al-Qur'an


1. Al-Qur'anDzikir itu artinya al-Qur'an sebagaimana firman Allah, Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya(Q.S. al-Hijr: 9) Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan (Q.S. An-Nahl: 44) Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. Ar-Ra'du: 28)Semua kata "dzikr" dalam ayat-ayat di atas maksudnya al-Qur'an. Imam Ibnu Qoyyim berpendapat, "Dzikrullah itu ialah al-Qur'an yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya, dengannya akan tenang hati orang yang beriman, karena hati tidak akan tenang kecuali dengan iman dan yakin. Dan tidak ada jalan untuk memperoleh keimanan dan keyakinan kecuali dengan al-Qur'an" .Demikian firman Allah, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (An-Nahl:43). Yang dimaksud ahli dzikir disini bukanlah yang suka membaca kalimat dzikir seperti membaca laailaha illallah 1000 kali dsb, tapi ahli dzikir di sini maksudnya ialah yang menguasai al-Qur'an dan Sunnah. Mengapa al-Qur'an dikatakan dzikr, karena al-Qur'an berfungsi sebagai pengingat penggugah, dan penyadar. Dan arti dzikir itu sendiri ialah ingat, sadar.Banyak bukti terjadi pada jaman Nabi saw, bagaimana orang yang asalnya tidak percaya kepada Allah, tidak mau melaksanakan perintah-Nya, dengan adanya al-Qur'an mereka menjadi sadar untuk mengabdi dan berbakti kepada Allah. Pada suatu saat umar marah, ketika mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad saw. meninggal, sambil menghunus pedang ia berseru, siapa yang mengatakan bahwa rasul telah meninggal! Lalu Abu Bakar datang menghampirinya sambil membacakan ayat, "wa maa muhammdun illa rasuul …" yang artinya "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?" (Q.S. Ali Imran: 144), seketika itu pula umar sadar, lalu berkata, seolah-olah aku belum pernah mendengar ayat ini. Suatu hari, Ali Zainal Abidin, cucunya Ali bin Abi Thalib, menyuruh pembantunya untuk membawakan air wudhu, tanpa sengaja pembantunya tersebut menumpahkan air ke kakinya serta melukainya, Ali lalu marah kepadanya, sampai-sampai mau menempeleng dan menyiksanya. Dengan tenang pembantunya, membacakan ayat tentang ciri orang yang bertakwa ialah , wal kaazhimiina ghaizha, saat itu juga Ali sadar dan menjawab, ya saya tahan amarah saya, lalu dibacakan lagi lanjutan ayat tersebut, wal 'aafiin 'aninnas, Ali menjawab, ya saya maafkan kamu, kemudian ia melanjutkan lagi, wallaahu yuhibbul muhsinin, lalu Ali berkata, pergilah kamu, sekarang kamu menjadi manusia yang bebas. Inilah bukti bahwa al-Qur'an merupakan, pengingat, penggugah, dan penyadar bagi manusia.
1. Sholat
Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(Q.S. Thaha: 14) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Al-Ankabut: 45) Ibnu 'Atiyah berkata, "Sesungguhnya dalam sholat itu ada tiga hal, setiap shalat yang tidak terdapat padanya ketiga hal tersebut maka tidak dinilai shalat yang sempurna, yaitu ikhlas, rasa takut kepada allah, dan mengingat Allah" Orang Thaif adalah kaum yang paling terlambat menerima Islam, dan akhirnya mereka menerima Islam dengan persyaratan bahwa meraka hanya akan melaksanakan kewajiban shalat saja, sementara kewajiban yang lainnya, mereka belum siap melaksanakannya. Akhirnya, Rasul pun mengabulkan persyaratan mereka tersebut. Setelah mereka menjalankan ibadah shalat, dan meresapi setiap bacaan shalat, akhirnya mereka sadar lalu menghadap Rasulullah, dan berkata, ya Rasulullah, dulu kami menolak untuk melaksanakan, zakat, shaum, dan kewajiban yang lainnya, sekarang kami sadar, dan siap untuk melaksanakan semua kewajiban yang yang diperintahkan kepada kami. Ini menjadi bukti bahwa dengan shalat yang benar, ternyata mereka menjadi sadar. Apalagi bagi Rasulullah, jika beliau menghadapi suatu urusan yang tegang, berat, Nabi biasanya suka shalat 2 rakaat, untuk menenangkan, menyegarkan, dan berpikir lebih jernih.Bahkan untuk menghentikan riba pun, ternyata juga dengan shalat. Setelah menerangkan riba, Allah menerangkan tentang shalat. Ternyata dengan shalat, diharapkan mampu menghentikan perbuatan riba. Demikianlah peran dan fungsi shalat, jika dihayati dengan benar, maka akan mampu membuat orang dapat meninggalkan fahsya dan munkar
2. Jum'at
Firman allah, Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Q.S. Al-Jumu'ah:9) .Jum'at merupakan dzikrullah, yaitu sejak persiapan jum'at, shalat intizharnya, mendengarkan khutbahnya, dan shalatnya. Nabi menggambarkan ada 3 klasifikasi orang yang melaksanakan jum'at
1. ada orang yang hadir jum'at tapi hampa nilainya
2. Ada orang yang berdo'a dan besar harapan untuk dikabul do'anya, ia menggunakan kesempatan dan waktu tersebut untuk berdo'a kepada Allah. Karena Allah pun menjajikan ada saat ijabah di waktu jum'at.
3. ada orang yang dengan jum'atnya tersebut menjadi pelebur dosa, yang ada diantara jum'at ke jum'at.
3. Dzikrullah
Firman Allah, Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-Ahzab 41-43). Dalam ayat ini, pertama diperintahkan agar orang-orang beriman berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang banyak, kira-kira apa yang dimasud dzikir disini, mengingat ada ulama yang membagi dzikir itu kepada dua, dzikir dengan lisan saja dan dzikir dengan kenyataan, yaitu dengan sikap dan perilaku.Yang dimaksud, dzikir yang banyak bukan dalam artian jumlah, seperti membaca laa ilaaha illalllah, sepuluh kali, seratus kali, seribu kali, atau tiga ribu kali, setiap malam jum'at misalnya. Padahal bilangan itu tidak ada yang banyak, seratus banyak, tapi dibanding seribu sedikit, seribu dibanding sepuluh ribu sedikit, dan seterusnya. Ini menunjukkan banyak menurut jumlah itu relative. Kita bandingkan dengan dzikirnya orang yang munafik, "orang munafik tidak dzikir kecuali hanya sedikit saja". Sedikit disini bukan dalam arti jumlah. Kalau orang mu'min membaca tasbih, tahmid, dan takbir 33 kali, tidak berarti orang munafiq itu membacanya dzikirnya masing-masing 10 kali. Untuk mempraktekkan dzikir yang banyak dengan pengertian jumlah yang tadi, kadang menggunakan tasbih, tidak akan bisa dilaksanakan oleh setiap orang, Seorang mu'min yang sadar ialah tentu saja setiap gerak langkahnya tentu saja akan ingat terhadap aturan dan ketentuan Allah di manapun merea berada.Orang yang dzikrullah di pasar, tentu saja ia ingat bahwa tidak boleh menipu, tidak boleh berdusta, tidak boleh memanipulasi, tidak boleh berbuat curang, ingat bahwa itu semua dilarang oleeh agama Berarti ia telah berdzikir kepada Allah walaupun tidak membaca tasbih, tahmid, takbir dan sebagainya. Yang kedua, Allah memerintahkan bertasbih kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Siang dan malam itu untuk menunjukkan waktu. Mungkin saja ada orang yang pagi sadar sore tidak, siang sadar malam tidak, dst. Oleh karena itu setiap waktu dituntut untuk dzikran katsiira, bukan dalam artian jumlah. Sementara banyak orang yang menafsirkan ayat ini dengan artian jumlah yang banyak. Misalkan wirid setelah shalat, membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali, dan tahlil sekali, jumlahnya seratus kali. Ada juga yang mengubahnya dengan laa ilaaha illalah 165 kali dengan suara yang keras dan gerakan tertentu. Dzikir dengan cara seperti ini tidak ada ketentuannya dari Rasulullah Ada lagi dzikir khusus, katanya dalam hati manusdia itu ada beberapa bagian, manusia , untuk meni bagian ini membaca Allah 1000 kali, bagian lain 2000 kali, dst. Hal ini pun sama tida ada ketentuannya dari Rasulullah Arti sholat dinisbahkan kepada Allah artinya memberikan rohmat kepada manusia, sholat dinisbahkan kepada malaikat artinya memohonkan ampun, sholat dinisbahkan kepada manusia artinya berdo'a. Allah memberikan rahmat kepada manusia dengan menurunkan wahyunya untuk mengeluarkan manusia dari alam yang gelap ke alam yang terang benderang.Imam al-Maraghi berkata, "Ingatlah kepada Allah dengan hati kamu, lisan kamu dan seluruh anggotamu dengan dzikir yang banyak dalam setiap keadaan kamu dengan penuh kesungguhan". Ada orang yang dzikir hanya dengan lisan saja, tapi tidak sadar, tidak disertai dengan hati. Seperti seorang anak kecil yang bernyanyi, "bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi, ..". ketika disuruh mandi ia malah marah-marah, karena ia tidak sadar dengan apa yang diucapkannya.Atau mungkin di satu rumah yang memiliki burung beo, ketika ada tamu yang datang, burung tersebut bersuara, 'silahkan masuk'. Walaupun sampai sepuluh kali burung tersebut mempersilahkan masuk tetap saja tamu tersebut tidak akan masuk. Tapi ketika pribuminya mengatakan 'silahkan masuk, walapun Cuma sekali, maka tamu tersebut akan masuk ke rumah. Kenapa demikian, karena burung itu berkicau, kalau manusia berbicara. Kita mungkin sering merasa do'a kita tidak dikabul oleh Allah, bisa jadi karena selama ini kita hanya berkicau seperti burung, bukannya berdo'a. (191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran 191). Diantara ciri ulil albab ialah yang berdzikir dan berpikir. Ada orang yang berdzikir tapi tidak berpikir, maka akibatnya ketinggalan dalam bidang ekonomi, politik dsb. Adapula yang berpikir tapi tidak berdzikir, akibatnya orang tersebut sukses namun moralnya bejat, melakukan korupsi, manipulasi, dsb. Nabi Isa a.s. berkata, "beruntung orang yang ucapannya mengingat Allah, diamnya bertafakur, dan pandangannya menjadi pelajaran" Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Q.S. Al-Baqarah:152) Ibnu Sa'id bin Jubair berkata, ayat di atas maksudnya, "Ingatlah kalian dengan melaksanakan perintah-Ku maka Aku akan mengingatmu degan memberikan ampunan-Ku.Kalau dianalogikan, jiak ada seorang istri berpesan kepada suaminya untuk selalu mengingatnya selama perjalanannya. Tentu saja cara mengingat isterinya itu ialah dengan mengingat pesan-pesannya, apa yang dimintanya, dan apa kebutuhannya, bukan dengan menyebut-nyebut namanya selama perjalanan tapi tidak ingat akan pesan-pesannya

Tuesday, May 8, 2007

Apa pantas berharap syurga ?


Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.
Astaghfirullaah ...

Awali hari dengan sholat dhuha


Sebagian kita sudah tak asing lagi dengan sholat sunnah yang satu ini. Namun pengetahuan belum menunjukkan sebuah perbuatan: sebuah pengamalan dalam beribadah. Hal ini bisa jadi karena kita malas, tak punya waktu mengerjakannya, tidak tahu bagaimana cara melaksanakannya, tidak tahu segenap keutamaannya ( fadilah ) yang tersembunyi didalamnya. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan: " Kekasihku, Rasulullah SAW berwasiat kepadaku mengenai tiga hal :a). agar aku berpuasa sebanyak tiga hari pada setiap bulan, b). melakukan sholat dhuha dua raka'at dan c). melakukan sholat witir sebelum tidur." ( H.R. Bukhari & Muslim ).Di hadits yang lain dikatakan bahwa Mu'azah al Adawiyah bertanya kepada Aisyah binti Abu Bakar r.a :" apakah Rasulullah SAW, melakukan sholat dhuha?"Aisyah menjawab," Ya, Rasulullah SAW melakukannya sebanyak empat raka'at atau menambahnya sesuai dengan kehendak Allah SWT." ( H.R. Muslim, an-Nasa'i, at-Tirmizi, dan Ibnu Majah). Demikianlah hadits hadits tersebut meneguhkan ihwal kesunnahan sholat dhuha. Status sunnah sholat dhuha di atas tentu saja tidak berangkat dari ruang kosong. Berdasarkan tinjauan agama, paling tidak beragam keutamaanya (fadilah ) yang bisa ditarik:Pertama: sholat dhuha merupakan ekspresi terima kasih kita kepada Allah SWT, atas nikmat sehat bugarnya setiap sendi tubuh kita. menurut Rasulullah SAW, setiap sendi ditubuh kita berjumlah 360 sendi yang setiap harinya harus kita beri sedekah sebagai makanannya. Dan kata Nabi SAW, sholat dhuha adalah makanan sendi - sendi tersebut." Pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang bersangkutan ( pemilik sendi ) bersedekah untuk setiap sendinya." Lalu, para sahabat bertanya:" Ya Rasulullah SAW, siapa yang sanggup melakukannya?' Rasulullah SAW menjelaskan:" Membersihkan kotoran yang ada di masjid atau menyingkirkan sesuatu
( yang dapat mencelakakan orang ) dari jalan raya, apabila ia tidak mampu maka sholat dhuha dua raka'at, dapat menggantikannya" ( H.R. Ahmad bin Hanbal dan Abu Daud ) Kedua, sholat dhuha merupakan wahana pengharapan kita akan rahmat dan nikmatAllah sepanjang hari yang akan dilalui, entah itu nikmat fisik maupun materi. RasulullahSAW bersabda, " Allah berfirman,"Wahai anak Adam, jangan sekali kali engkau malasmelakukan sholat empat raka'at pada pagi hari, yaitu sholat dhuha,niscaya nanti akan . Kucukupi kebutuhanmu hingga sore harinya." ( H.R. al-Hakim dan at-Tabrani). Lebih dari itu, momen sholat dhuha merupakan saat dimana kita mengisi kembali semangat hidup baru. Kita berharap semoga hari yang akan kita lalui menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin. Disinilah, ruang kita menanam optimisme hidup. Bahwa kita tidak sendiri menjalani hidup. Ada Sang Maha Rahman yang senantiasa akan menemani kita dalam menjalani hidup sehari-hari. Ketiga, sholat dhuha sebagai pelindung kita untuk menangkal siksa api neraka di Hari Pembalasan ( Kiamat ) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi SAW dalam haditsnya," Barangsiapa melakukan sholat fajar, kemudian ia tetap duduk ditempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan kemudian ia melaksanakan sholat dhuha sebanyak dua raka'at, niscaya Allah SWT, akan mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya,"( H.R. al-Baihaqi) Keempat, bagi org yang merutinkan shalat dhuha, niscaya Allah mengganjarnya dengan balasan surga. Rasulullah SAW bersabda," Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha ( pintu dhuha ) dan pada hari kiamat nantiada orang yang memanggil," Di mana orang yang senantiasa megerjakansholat dhuha ? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah." ( H.R. at-Tabrani).Bila menilik serangkaian fadilah di atas, cukup beralasan, bila Nabi SAW menghimbau umatnya untuk senantiasa membiasakan diri dengan sholat dhuha ini. Kendati demikian, untuk meraih fadilah tersebut, beberapa tata cara pelaksanaannya, kiranya perlu diperhatikan. WAKTU SHOLAT DHUHA Kata dhuha yang mengiringi sholat sunnah ini berarti terbit atau naiknya matahari. Wajar bila sholat ini, kemudian, dilakukan pada pagi hari ketika matahari mulai menampakkan sinarnya. Namun, beberapa ulama fikh berbeda pendapat tentang ketentuan waktunya. Imam Nawawi di dalam kitab ar-Raudah mengatakan bahwa waktu sholat dhuha itudimulai, sejak terbitnya matahari, yakni sekitar setinggi lembing (lebih kurang 18 derajat)Sementara Abdul Karim bin Muhammad ar-Rifai, seorang ahli fikih bermazhab Syafi'iberkomentar bahwa sholat itu lebih utama bila dikerjakan saat matahari lebih tinggi dari itu. Ada sebuah hadits yang menentukan perihal dhuha di atas. Zaid bin Arqam meriwayatkan: " Rasulullah SAW keluar menemui penduduk Quba di saatmereka melaksanakan sholat dhuha, lalu Rasulullah SAW, bersabda :" Sholat dhuhadilakukan apabila anak anak unta telah merasa kepanasan ( karena tersengat matahari)
( H.R. Muslim dan Ahmad bin Hanbal). RAKAAT DHUHA. Sholat dhuha merupakan sholat yang tidak menyusahkan untuk dikerjakan.Sebab, pasalnya sholat dhuha itu menyesuaikan kemampuan dan kesempatan muslim yang hendak mengamalkannya. Poin ini tergambar dengan jelas pada bilangan raka'atnya. Mulai dari 2 raka'at, 4 raka'at, 8 raka'at hingga 12 raka'at.Masing masing raka'at memiliki sandaran hadits Rasulullah SAW,sebagaimana yang penulis singgung di atas. Sayid Sabiq, ahli fikih dari Mesir, menyimpulkan bahwa batas minimalsholat dhuha itu 2 raka'at sedangkan batas maksimalnya adalah delapan raka'at. Pada ketentuan minimal dapat ditemukan pada hadits riwayat Abu Hurairah.Sementara ketentuan maksimal dapat ditemukan pada hadits fi'li (perbuatan) yang diriwayatkan Aisyah, ra." Rasulullah SAW, masuk kerumah saya lalu melakukan sholat dhuha sebanyak delapan raka'at." ( H.R. Ibnu Hiban ) Bahkan lebih dari itu, menurut ulama mazhab Hanafi jumlah maksimal raka'at sholat dhuha itu enam belas raka'at . Sedang Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Tabari, pengarang kitab Tafsir Jami al-Bayan, sebagian ulama mazhab Syafi'I dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berpendapat bahwa tidak ada batas maksimal untuk jumlah raka'at sholat dhuha. Semuanya tergantung pada kemampuan dan kesanggupan orang yang ingin mengerjakannya. Wallahu'alam bil shawab. (Muaz/Hidayah).

Manfaat Sedekah




Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki;Allah pasti menurunkan balasannya pada saat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka. ALLAH adalah Zat yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang hampir setiap
desah napas selalu membangkang perintah-Nya, Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira. Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, pasti akan kembali kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada di genggaman kita.
Demi Allah, semuanya datang dari Allah yang Mahakaya. Dititipkan-Nya
kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh
keikhlasan. Kemudian kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya,
baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.Yakinlah apa yang
dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang
disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan
dari-Nya. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah: 261).
Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang
disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat
terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka
bertanya? 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada
gunung?'. Allah menjawab, 'Ada, yaitu besi'. Para malaikat pun kembali bertanya,
'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada
besi?'. Allah menjawab, 'Ada, yaitu api'. Bertanya kembali para malaikat, 'Ya
Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?'.
Allah menjawab, 'Ada, yaitu air'. 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu
yang lebih kuat dari air?,' tanya para malaikat. Allah pun menjawab, 'Ada, yaitu angin'. Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'. Allah yang Maha gagah menjawab, 'Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya'."
Wallahu a'lam bish-shawab.

Indahnya kesabaran




Mudah mudahan kita digolongkan menjadi ahli sabar...amin.Karena ternyata kedudukan seseorang ditentukan oleh kualitas kesabarannya." Wallahu ma'ashshaabiriin." " dan Allah beserta orangorang yang sabar" ( QS. Al Baqarah : 249 ). Bahkan " Wasta'iinuubishobri washsholaah". " dan mintalah pertolongan kepada Allah dengansabar dan sholat." ( QS. Al Baqarah: 45 ). Dalam ayat ini kata-kata sabar di dahulukan, karena ornag yang tidak sabar maka sholatnya juga tidak akan khusyuk.Begitu juga dengan pemimpin yang tidak sabar, pasti tidak akan berhasilmemimpin dan akan jatuh akibat ketidaksabarannya.Oleh karena itu, orang yang tidak pernah sungguh sungguh melatihkesabaran dalam kehidupan ini, maka dia akan menderita. Karena kesabaranmembuat daya tahan yang luar biasa dan benar benar memperindah pribadi seseorang. ASSHABUR ( ALLAH MAHA PENYABAR )Menurut Bp. Quraish Shihab dalam bukunya " menyingkap Tabir Ilahi", kataAsshabur ( Allah Maha Penyabar ) berasal dari akar kata yg terdiri daritiga huruf : shad, ba dan ra. Makna dari kata ini adalah : pertama "menahan", kedua,"ketinggian sesuatu", dan yang ketiga," sejenis batu".dari makna menahan lahirlah makna "konsisten/istiqomah". karena sikapmenahan pandangannya terhadap suatu gejolak dinamai sabar.Seseorang yang ditahan dipenjara dan dia sabar sampai mati disebutMashburah. Dari makna kedua lahir kata," shubr", yang berarti puncaksesuatu. Jadi orang yang memiliki kesabaran yang tinggi maka dia akan memiliki puncak kemuliaan.Dan dari makna yang ketiga, muncul kata," ash subrah" yakni "batu yangamat kukuh lagi kasar" atau bisa juga disebut dengan "potongan besi". Apabila makna itu saling kait mengkait maka orang yang punya kemampuan sangat menahan diri, gigih, tangguh, maka dia akan punya tingkat ketinggian, kemuliaan, ketinggian kehormatan selaku manusia dan dia akan memiliki ketahanan yang amat dahsyat.Oleh karena itu bagi para akhwat, andai akan mencari calon suamipilihlah laki laki yang sabar, yang tidak temperamental, dan tidak emosional. Karena berat bagi sebuah rumah tangga bila memiliki suami yang kasar,mudah marah dan mudah kecewa. Akibatnya rumah tangga akan mengarungi derita tiada akhir. Begitu juga dengan kaum laki laki, kalau mau mencari istri carilah istri yang sabar, yang bisa menahan lisannya dan istri yang sabar menghadapi kehidupan.

KIAT MENJADI PRIBADI SABAR

Kesabaran itu amatlah berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada Allah." alladziina idzaa ashobathm mushibah qoolu innalillahi wainna ilaihirojiuun. Ulaa ika 'alayhim sholawaatum minraobbihin warohmah wauulaaikahumul muhtaduun" Yaitu orang orang yang apabla ditimpamusibah, mereka mengucapkan, " Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un.Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dariTuhan mereka, dan mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk ( QS.Al Baqarah : 156-157 )." Maa ashoobaminmushiban illa biidznillah. Wamayyu, minbillahi yahdiqalbah" ( QS. At Taghabun : 11 ). Dan orang yang yakin bahwa apapun yang terjadi mutlak karena ijin Allah. Makhluk hanya jalanya saja. Tidak ada kejadian tanpa izin Allah. Ketidaksabaran timbul ketika kita melihat makhluk terlalu hebat dan melihat sebagai makhluk sebagai sumber. Padahal makhluk cuma jalan ( perantara ). kalau fokus kita kepada makhluk maka kualitas kesabaran kita bakal berkurang . Tapi kalau kita melihat Allahlah yang menguasai setiap kejadian, maka akan meningkatkan kesabaran kita. Orang yang targetnya akherat maka kesabarannya akan meningkat. Sabar itu berat awalnya tapi manis akhirnya. Latihan sabar adalah latihan kesungguhan. latihan sabar adalah latihan kemuliaan. Karena tiada pahala yang terputus kecuali pahala orang yang ahli sabar.

MACAM MACAM KESABARAN

KESABARAN DALAM BERJUANG

Dalam surah Ali Imran ayat 200 diceritakan tentang kesabaran ketika berjuang." Hai orang orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga ( diperbatasan negerimu ) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." Peperangan adalah ujian kesabaran. bagaimana caranya sabar ketika dalam peperangan? Caranya, yakinlah bahwa musuh musuh kita adalah milik Allah. Tidak ada sesuatu pun yang berperang kecuali semuanya milik Allah Swt. Jangan gentar melihat musuh karena musuh kita adalah juga milik Allah semuanya. Kalau nggak ada musuhnya maka susah syahidnya. Ketika melawan musuh kita harus yakin, bahwa bukan musuh itu yang berbahaya tapi sikap kita kepada musuh yang berbahaya. Apakah sikap kita pengecut atau kita penakut ?Oleh karena itu kita harus sabar ketika menghadapi ancaman musuh.

*. SABAR KETIKA BERBEDA PENDAPAT

" Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikan dan ada ( pula ) segolongan yang tdak beriman maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumNya di antara kita. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik baiknya ( QS Al A'raf : 87 ) Jadi dalam menghadapi orang yang berbeda pendapat kita harus sabar,jangan terpancing. karena kalau Allah menghendaki di dunia ini semuaorang beragama Islam maka itu amat mudah bagi Allah. Tapi kenyataannya Allah tidak membuat orang beragama Islam semua. Maka wajar kalau kita menghadapi perbedaan pendapat dan keinginan. Dan sikapi semua itu dengan kesabaran. Ketika menghadapi perbedaan khilafiyah maka sabarlah. jangan sampai ketika menghadapi urusan sunnah malah melalaikan yang wajib yaitu bersatu. Kalau perbedaan pendapat terjadi saat rapat maka bersabarlah, jangan sampai rapat menjadi ajang angkara murka.

# SABAR DALAM UPAYA BERSATU

Bersabarlah ketika berupaya untuk bersatu. Karena untuk bersatu memerlukan mengalah dan sikap bersabar." Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar, dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. sesungguhnya Allah beserta orang orang yang sabar ( QS. Al Anfal : 46 )

~. SABAR DALAM IBADAH

Kita sering sabar dalam menghadapi musibah tapi belum tentu sabar dalam ibadah. ada yang sabar saat ibadah tapi tidak sabar ketika menghadapi musibah. Dan tidak jarang ada orang yang tidak sabar ketika diberikan kelapangan dan kemudahan. Jangan mudah terpancing dan jangan mudah bereaksi negatif karena kesabaran itu ada pada " pukulan " pertama. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita bertekad untuk memiliki komitmen," Saya harus menjadi ahli sabar !. saya tidak boleh hancurkan hidup saya karena ketidaksabaran, saya tidak boleh hancurkan hari harisaya karena tidak sabar, dst. Karena dunia memang tempatnya ujian. Oleh karena itu tidak ada pilihan, kecuali kita harus menjadi ahli sabar. Kita tunggu saat kematian kita dengan kesabaran. Situasi sesulit apapun sudah diukur oleh Allah. tidak ada yang overdosis, tidak ada yang meleset. Sesakit apapun Allah tahu kita sakit karena Dialah yang menciptakan rasa sakit. Saudara saudaraku hadapilah hidup ini . terus dekati Allah dengan kesabaran. akan tampil menjadi orang yang indah, menawan, mempesona, orang yang gigih mengarungi hidup ini dengan kesabaran. Mudah mudahan kita digolongkan menjadi orang orang yang memiliki kualitas sabar. Hati yang pasrah 100% kepada Allah, tapi dengan akal dan tubuh yang selalu gigih menyempurnakan ikhtiar di jalan Allah, itulah sabar. Jika seseorang " lahirnya " taat kepada Allah dan hatinya tawakal sepenuhnya kepada Allah. Itulah kesabaran. Sabar bukan berarti pasrah, pasif, sabar adalah kegigihan kita untukterus ada di jalan yang disukai Allah. wallahu'alam

Tanda-tanda kiamat



1) Penaklukan Baitulmuqaddis Dari Auf b. Malik r.a. katanya,Rasulullah s.a.w telah bersabda: "Aku menghitung 6 perkara menjelang hari kiamat." Baginda menyebutkan salah 1) diantaranya, yaitu penaklukan Baitulmuqaddis." - Sahih Bukhari
2) Zina merajalela. "Dan tinggallah manusia2 yang buruk, yang seenaknya melakukan persetubuhan seperti himar (keledai). Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang." - Sahih Muslim
3) Merajalela alat musik. "Pada akhir zaman akan terjadi tanah runtuh, rusuhan & perubahan muka." Ada yang bertanya kepada Rasulullah; "Wahai Rasulullah kapan hal ini terjadi?" Baginda menjawab; "Apabila telah merajalela bunyian (musik) & penyanyi2 wanita" -Ibnu Majah
4) Menghias masjid & membanggakannya. "Di antara tanda2 telah dekatnya kiamat ialah manusia bermegahan dalam mendirikan masjid" - Riwayat Nasai.
5) Munculnya kekejian, memutuskan kerabat & hubungan dengan tetangga tidak baik. "Tidak akan datang kiamat sehingga banyak perbuatan & perkataan keji, memutuskan hubungan silaturahim & sikap yang buruk dalam tetangga." - Riwayat Ahmad dan Hakim.
6) Ramai orang soleh meninggal dunia. "Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil orang2 yang baik & ahli agama di muka bumi,maka tiada yang tinggal padanya kecuali orang2 yang hina & buruk yang tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran" - Riwayat Ahmad
7) Orang yang hina mendapat kedudukan terhormat. "Di antara tanda semakin dekatnya kiamat ialah dunia akan dikuasai oleh Luka' bin Luka'(orang yang bodoh & hina). Maka orang yang paling baik ketika itu ialah orang yang beriman yang diapit oleh 2 orang mulia" - Riwayat Thabrani
8) Mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya saja. "Sesungguhnya di antara tanda2 telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mahu mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja." - Riwayat Ahmad
9) Banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. "Di antara anda2 telah hari kiamat ialah akan muncul pakaian2 wanita & apabila mereka memakainya keadaannya seperti telanjang".
10) Bulan sabit kelihatan besar. "Di antara tanda2 telah dekatnya hari kiamat ialah menggelembung (membesarnya) bulan sabit." - Riwayat Thabrani

11) Banyak dusta & tidak tepat dalam menyampaikan berita. "Pada akhir zaman akan muncul pembohong2 besar yang datang kepadamu dengan membawa berita2 yang belum pernah kamu dengar & belum pernah didengar oleh bapa2 kamu sebelumnya, karena itu jauhkanlah dirimu dari mereka agar mereka tidak menyesatkanmu & memfitnahmu" - Sahih Muslim -
12) Banyak saksi palsu & menyimpan kesaksian yang benar. "Sesungguhnya sebelum datang-nya hari kiamat akan banyak kesaksian palsu & disembunyikan kesaksian yang benar." -Riwayat Ahmad
13) Negara Arab menjadi padang rumput & sungai. "Tidak akan datang hari kiamat sehingga negeri Arab kembali menjadi padang rumput & sungai2" - Sahih Muslim