Saturday, March 15, 2008

Asmaul Husna

"Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asmaul Husna (Q.S. Israa:110)"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, siapa yang menghafalnya akan masuk surga : Dia-lah Allah yang tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Dia [H.R. Bukhari]"Asma Ul-Husna adalah 99 nama lain dari Allah (banyak banget yak!!), ini nih ke-99 nama itu;"Bismillahir rohmaanir rohiim. Tiada tuhan selain Dia: Yang Maha Pemurah; Yang Maha Penyayang; Yang Merajai; Yang Maha Suci; Yang Maha Sejahtera; Yang membenarkan rasul-rasul-Nya dan menepati janji-Nya; Yang menaungi Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Kuasa; Yang dapat Memaksakan Kehendak-Nya; Yang Maha Perkasa; Yang patut Dipuja karena keagungan Sifat-Sifat-Nya; Yang Maha Pencipta; Yang menjadikan segala sesuatu; Yang Memberi Rupa dan Bentuk kepada segala sesuatu; Yang Maha Kuasa Menutupi kesalahan Hamba-Hamba-Nya; Yang dapat Menaklukkan segala sesuatu; Yang Maha Kuasa Memberi segala sesuatu kepada Makhluk-Nya; Yang Memberi Rezeki; Yang Maha Kuasa Membuka Perbendaharaan Rahmat-Nya kepada semua Makhluk; Yang Maha Mengetahui; Yang Maha Kuasa Menyempitkan; Yang Maha Kuasa Melapangkan; Yang Maha Kuasa Merendahkan Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang Maha Kuasa Mengangkat Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang meninggikan derajat sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang menghinakan kedudukan sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang Maha Mendengar; Yang Maha Melihat; Yang menetapkan Keputusan-Nya atas segala sesuatu; Yang Maha Adil; Yang Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang samar dan pelik; Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu; Yang tetap dapat menahan amarah; Yang Maha Besar; Yang Maha Pengampun; Yang Maha Mensyukuri Hamba-Hamba-Nya yang taat dengan memberikan pahala atas setiap perbuatan yang baik; Yang Maha Tinggi Martabat-Nya; Yang Maha Agung; Yang Memelihara dan Menjaga semua Makhluk-Nya; Yang Menjadikan segala apa yang dibutuhkan oleh Makhluk; Yang memberi kecukupan dengan kadar perhitungan yang tepat; Yang Maha Mulia; Yang melimpahkan karunia kepada Makhluk-Makhluk-Nya tanpa diminta sebelum-Nya; Yang Selalu Mengawasi dan Memperhatikan segala sesuatu; Yang dapat mengabulkan do'a Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Luas Kekayaan-Nya dan Pemberian-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Bijaksana; Yang Mencintai dan Mengasihi; Yang Maha Mulia dan Maha Besar Kemurahan-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Kuasa Membangkitkan sesiapa yang sudah wafat; Yang menyaksikan segala sesuatu; Yang Hak; Yang Maha Benar; Yang Menunjukkan Kebenaran; Yang dapat mengurusi dan menyelesaikan segala urusan Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Kuat lagi Perkasa; Yang Maha Kokoh dan Maha Sempurna Kekuatan-Nya; Yang Maha Melindungi dan Menolong serta membela Hamba-Hamba-Nya; Yang Patut dipuja dan dipuji; dengan Ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, Yang Maha Penghitung dan Pemelihara segala sesuatu; Yang menjadikan segala sesuatu dari tiada; Yang mengembalikan lagi segala sesuatu yang telah lenyap; Yang Maha Kuasa Menghidupkan apapun yang sudah mati; Yang Maha Kuasa mematikan apapun yang hidup; Yang Maha Tetap Hidup; Yang berdiri sendiri dan tetap mengurusi Makhluk-Makhluk-Nya; Yang Maha Kaya dengan Penemuan dan dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki; Yang Mempunyai Kemuliaan dan Maha Tinggi dari segala Kekurangan; Yang Maha Tunggal; Yang Maha Esa; Yang menjadi tujuan segala Makhluk dan tempat meminta sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka; Yang sanggup melaksanakan semua hal yang dikehendaki; Yang sangat berkuasa, Kekuasaan-Nya menguasai segala yang kuasa; Yang Maha Kuasa Mendahulukan; Yang Maha Kuasa Mengakhirkan; Yang pertama Ada-Nya sebelum segala sesuatu ada; Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah (berakhir); Yang lahir; Yang batin; Yang mengendalikan dan menguasai segala macam urusan Makhluk; Yang Pencapaian-Nya berada di puncak ketinggian yang amat tinggi; Yang Maha Baik dan membuat segala macam kebajikan; Yang menerima tobat dan memberi maaf kepada Makhluk yang berdosa; Yang Maha Kuasa Menindak Hamba-Nya yang bersalah dengan menyiksa; Yang Maha Memberi Maaf; Yang Maha Belas Kasih dan Penyayang; Yang memiliki segala kekuasaan di alam ini, dan dengan kekuasaan-Nya melaksanakan segala hal yang dikehendaki; Yang memiliki sifat Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan serta Kemurahan; Yang Maha Adil dalam Hukum-Nya; Yang dapat mengatur dan mengumpulkan segala sesuatu; Yang tidak membutuhkan sesuatu apapun; Yang dapat memberikan segala kebutuhan Makhluk dan Yang Maha Kuasa Memberikan Kekayaan kepada Hamba-Nya; Yang dapat mencegah dan mempertahankan sesuatu; Yang dapat mendatangkan bahaya dan memberikan kemelaratan; Yang dapat memberikan manfaat; Yang memberi cahaya kepada segala sesuatu; Yang memberi petunjuk; Yang menciptakan alam semesta dalam bentuk yang indah yang belum pernah dibuat oleh siapapun; Yang Maha Kekal Wujud-Nya; Yang tetap ada setelah segala makhluk tiada; Yang Maha Pandai dan Bijaksana; Yang Maha Sabar. Subhana-llah."
ALLAH - Nama Ilahi yang serba komprehensif. Nama panggilan Ketuhanan yang merupakan asal-usul segenap Nama lain-Nya.
AR-RAHMAN - Yang Maha Pemurah. Ia yang melimpahkan Kemurahannya kepada segenap Makhluk-Nya.
AR-RAHIEM - Yang Maha Penyayang. Ia melimpahkan Kemurahannya kepada semua orang yang beriman.
AL-MALIK - Yang Maha Kuasa dan Merajai. Ia Raja seluruh alam semesta.
AL-QUDDUS - Yang Maha Suci dari Sifat Kekurangan. Atau Yang Maha Kudus.
AS-SALAAM - Yang Maha Sejahtera (memberi keselamatan). Yang Maha Suci dari Sifat Buruk. "Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal."
AL-MUKMIN - Yang membenarkan rasul-rasul-Nya dan menepati Janji-Nya; Yang Memberi keamanan kepada Makhluk-Nya. Atau Maha Pelindung Iman, atau Maha Pelindung Mukminin. Dia mengaktifkan Nama ini di dalam diri mukminin sehingga terpelihara imannya.
AL-MUHAIMIN - Yang memperhatikan, menjaga, serta menaungi Hamba-Hamba-Nya dalam segala keadaan. Atau Yang Maha Pelindung, khususnya Pelindung iman.
AL-AZIZ - Yang Maha Kuat dan Mengalahkan segala sesuatu dan tidak dapat dikalahkan oleh apapun. Atau Yang Maha Mulia, atau pun Yang Maha Jaya.
AL-JABBAR - Yang dapat Memaksakan Kehendak-Nya atas semua Makhluk-Nya; Yang Maha Perkasa. Yang Kehendak-Nya tidak terkalahkan atau diingkari.
AL-MUTAKABBIR - Yang patut Dipuja karena Keagungan Sifat-Sifat-Nya; Yang Memiliki Kebesaran. Atau Yang Maha Bangga, atau Yang Maha Agung. Hanya Tuhan, Yang Berkuasa atas segala Hidup, berhak berbangga.
AL-KHALIK - Yang Maha Pencipta. Yang Maha Kuasa Menciptakan segala sesuatu, seluruh alam semesta, dan segala Makhluk di dalamnya.
AL-BARI' - Yang menjadikan segala sesuatu. Atau Yang Maha Pengembang. Tuhan merencanakan Makhluk-Nya dan menuntunnya melalui tahap-tahap dalam proses perkembangannya.
AL-MUSHAWWIR - Yang Memberi Rupa dan Bentuk kepada segala sesuatu. Secara aktif, Tuhan mencetak segala sesuatu dan membentuknya seraya Ciptaan-Nya menempuh segala tahap dalam proses perkembangannya.
AL-GHAFFAR - Yang Maha Kuasa Menutupi segala kesalahan Hamba-Hamba-Nya dengan mengampuni dosa-dosa mereka. Melalui Kuasa Nama ini, Tuhan mengampuni orang yang berdosa.
AL-QOHHAR - Yang dapat Menaklukkan segala sesuatu; Yang dapat Memaksakan segala yang menjadi Kehendak-Nya. Atau Yang Maha Penekan. Tuhan menaklukan dan mengakhiri segala sesuatu.
AL-WAHHAB - Yang Maha Kuasa Memberi segala sesuatu kepada Makhluk-Nya. Tuhan memberi Kurnia-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya.
AR-ROZZAQ - Yang Memberi Rezeki. Tuhan adalah satu-satunya Pemberi Rezeki.
AL-FATTAH - Yang Maha Kuasa Membuka Perbendaharaan Rahmat-Nya kepada semua Makhluk. Tuhan jualah yang membuka jalan ke arah segala pengembangan.
AL-'ALIEM - Yang Maha Mengetahui. Atau Yang Serba Mengetahui. Tiada suatu pun yang luput dari Pengetahuan-Nya.
AL-QOBIDH - Yang Maha Kuasa Menyempitkan. Dia yang menyempitkan atau menyusutkan sesuatu untuk mempersulit urusan Makhluk-Nya.
AL-BASITH - Yang Maha Kuasa Melapangkan. Dia yang mempermudah segala urusan Makhluk-Nya atau sebaliknya membiarkan mereka berkembang.
AL-KHOFIDH - Yang Maha Kuasa Merendahkan Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
AR-ROFI' - Yang Maha Kuasa Mengangkat Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
AL-MU'IZZ - Yang meninggikan derajat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
AL-MUDZILL - Yang menghinakan kedudukan sesiapa yang dikehendaki-Nya. Yang mampu meninggikan martabat juga mampu menurunkannya.
AS-SAMIE' - Yang Maha Mendengar. Tiada suatu pun yang luput dari Pendengaran-Nya.
AL-BASHIER - Yang Maha Melihat. Tiada suatu pun yang luput dari Pengamatan-Nya.
AL-HAKAM - Yang menetapkan Keputusan-Nya atas segala sesuatu. Tuhan adalah Hakim seluruh umat manusia, terutama pada Hari Kiamat.
AL-'ADLU - Yang Maha Adil. Tuhan adil dalam Keputusan-Nya dan membagikan hukuman dan pahala dengan segala cermat-Nya, sehingga di seluruh alam semesta, termasuk Keputusan-Nya, tidak terdapat ketimpangan atau deviasi yang kecil sekali pun.
AL-LATHIEF - Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang samar dan pelik. Yang bersifat santun dan lembut kepada Hamba-Hamba-Nya. Ia yang Maha Pemurah, mengagumkan, dan terlalu halus untuk dilihat dengan mata kepala. ("Tuhan Allah sulit ditebak, tetapi Ia tidak jahat." Albert Einstein.
AL-KHOBIER - Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu. Karena Ia Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, niscaya Tuhan memantau segala kejadian.
AL-HALIEM - Yang tetap dapat menahan amarah. Atau Yang Maha Lemah Lembut. Atau Yang Maha Penyabar. Tuhan baru tega menghukum bila digusarkan terus-menerus.
AL-'ADHIEM - Yang Maha Besar; Yang Maha Luhur; Yang Maha Agung. Ia Raja alam semesta dan Maha Besar dari sudut martabat.
AL-GHAFUR - Yang Maha Pengampun. Dia memaafkan segala dosa yang disesali pelakunya.
ASY-SYAKUR - Yang Maha Mensyukuri Hamba-Hamba-Nya yang taat dengan memberikan pahala atas setiap perbuatan yang baik.. Tuhan menerima syukur mereka yang bersyukur kepada-Nya. Sampai tingkat tertentu, Ia sekali gus pengucap syukur serta perbuatan mengucapkan syukur.
AL-'ALIY - Yang Maha Tinggi Martabat-Nya. Ia Tuhan Yang bertakhta jauh-jauh di atas.
AL-KABIER - Yang Maha Besar. Ia teramat Besar dari sudut ukuran ruang dan waktu.
AL-HAFIEDZ - Yang Memelihara dan Menjaga semua Makhluk-Nya. Ia melindungi segala sesuatu, terutama Sabda-Nya (Alquran), sampai tiba ajalnya, dengan pengertian bahwa Alquran akan bertahan sampai akhir segala zaman.
AL-MUQIET - Yang Menjadikan segala apa yang dibutuhkan oleh Makhluk-Makhluk-Nya., seperti makanan, minuman dan sebagainya. Atau Yang Maha Pemelihara. Di antara ketiga fase hidup (Kreasi, Hidup, dan Pemusnahan), Nama ini bertalian dengan fase kedua.
AL-HASIEB - Yang memberi kecukupan dengan kadar perhitungan yang tepat. Juga berarti Juru Hitung, yang menunjukkan bahwa Tuhan mencipta berdasarkan perhitungan yang amat sangat halus (oleh Al-Muhshi).
AL-JALIEL - Yang memiliki segala Sifat kebenaran dan kebesaran. Juga menyangkut segi Ilahi sebagai Yang Maha Pemurka.
AL-KARIEM - Yang Maha Mulia, yang melimpahkan karunia kepada Makhluk-Makhluk-Nya tanpa diminta sebelumnya. Karena Ia jua yang memberikan kita segala milik yang kita punyai, maka Kemurahan-Nya tak terhingga.
AR-RAQIEB - Yang Selalu Mengawasi dan Memperhatikan segala sesuatu, dan tiada suatu pun yang luput dari Pegawasan-Nya. Ia memantau, menyelia, dan mengontrol. (Banyak di antara penemuan teknologi mutakhir menjelmakan Nama ini.)
AL-MUJIEB - Yang dapat mengabulkan doa Hamba-Hamba-Nya. Atau Yang Maha Pengabul Doa.
AL-WASI' - Yang Maha Luas Kekayaan-Nya dan Pemberian-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya. Yang Maha Besar dari sudut keluasan atau permuaian.
AL-HAKIEM - Yang Maha Bijaksana. Ia Asal-Usul, Pemilik, dan Pembagi segala sifat kearifan.
AL-WADUD - Yang Mencintai dan Mengasihi. Tuhan adalah Cinta Kasih dan Pembagi-nya—Pengasih, Kasih, dan Kekasih.
AL-MAJIED - Yang Maha Mulia dan Maha Besar Kemurahan-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya. Ia teramat Ajaib dan patut dipuja, dan oleh karena itu paling patut diagungkan.
AL-BA'ITS - Yang Maha Kuasa Membangkitkan sesiapa yang sudah wafat. Tuhan membangkitkan ahli kubur pada Hari Kiamat. Ia juga menciptakan hidup baru dan menghidupkan kembali segala sesuatu yang hanya dikira mati.
ASY-SYAHIED - Yang menyaksikan segala sesuatu. Karena Ia Yang Serba Sadar dan Yang Maha Pengawas, maka Tuhan adalah Saksi akan segala kejadian sejagat raya, termasuk perbuatan kita yang kecil sekali pun.
AL-HAQ - Yang Haq; Yang Maha Benar; Yang Menunjukkan Kebenaran. Ia inti terdalam seluruh alam dan sama sekali luput dari segala sifat dusta dan kesilapan.
AL-WAKIEL - Yang dapat mengurusi dan menyelesaikan segala urusan Hamba-Hamba-Nya. Melalui Nama ini kita percaya kepada Tuhan, dan melalui Nama ini Ia memberi rezeki asalkan kita telah berusaha sendiri (memenuhi kewajiban dan mengambil tindakan pencegahan seperlunya).
AL-QOWIYU - Yang Maha Kuat lagi Perkasa. AtauYang Tak Terbatas.
AL-MATIEN - Yang Maha Kokoh dan Maha Sempurna Kekuatan-Nya. Ia Yang Bertahan, yang Maha Melawan, atau Yang Maha Pemberani. (Nama ini terwujud dalam bahan adikeras sebangsa intan.)
AL-WALIYU - Yang Maha Melindungi dan Menolong serta membela Hamba-Hamba-Nya. Atau Yang Maha Sahabat lagi Pelindung. Tuhan merupakan Sahabat setia terhadap segenap Sahabat-Nya
AL-HAMIED - Yang Patut dipuja dan dipuji. Segala puja dan puji adalah Milik-Nya jua.
AL-MUHSHI - Dengan Ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, Dia menghitung dan memelihara segala ada, baik yang besar maupun yang kecil sekali pun, hingga tiada suatu pun yang luput dari Perhitungan dan Pemeliharaan-Nya. Atau Yang Maha Penghitung atau pun Yang Maha Perancang. Ia sumber ilmu matematika, dan oleh sebab itu sumber segala ilmu pengetahuan alam (lihat juga Al-Hasieb). Menurut Leopold Kronecker, seorang ahli matematika tersohor, "Tuhan hanya menciptakan nomor; selain itu, segala sesuatu adalah ciptaan manusia." Atau, yang lebih tepat, di alam semesta ini Tuhan mewujudkan ilmu matematika-Nya yang tinggi serta Kalkulasi dan Proporsi Ilahi, sehingga tugas manusia ialah hanya menemukan dan meniru Kemuliaan-Nya.
AL-MUBDI'U - Yang menjadikan segala sesuatu dari tiada. Segala apa yang diambil oleh Tuhan dapat dikembalikan-Nya.
AL-MU'IED - Yang mengembalikan lagi segala sesuatu yang telah lenyap. Melalui Kekuatan Nama ini, semua doa kita untuk arwah tercinta yang telah tiada akan dikabulkan oleh-Nya pada Hari Kebangkitan.
AL-MUHYI - Yang Maha Kuasa Menghidupkan segala sesuatu yang sudah mati. Ia memberi hayat kepada segala Makhluk hidup.
AL-MUMIET - Yang Maha Kuasa mematikan apapun yang hidup. Atau Yang Maha Pencipta Maut, atau Yang Maha Pemusnah. Segala sesuatu yang hidup akhirnya ditakdirkan mati oleh-Nya.
AL-HAYYU - Yang Maha Tetap Hidup. Hanya Tuhan jualah yang mempunyai Hidup abadi, karena Ia tidak lahir dan tidak mati pula.
AL-QOYYUM - Yang berdiri sendiri dan tetap mengurusi Makhluk-Makhluk-Nya. Ia untuk selama-lamanya berdiri tegak, siaga, dan awas.
AL-WAAJID - Yang Maha Kaya dengan Penemuan dan dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki. Ia memberi bentuk badani kepada segala sesuatu yang terdapat di dunia ini.
AL-MAAJID - Yang Mempunyai Kemuliaan dan Maha Tinggi dari segala Kekurangan. Satu-satunya Ada yang patut diagungkan.
AL-WAAHID - Yang Maha Tunggal. Atau Yang Maha Tersendiri dalam bentuk dan jenis. Atau Yang Maha Pemersatu. Segala kelipat-gandaan tersatu di dalam Diri-Nya.
AL-AHAD - Yang Maha Esa. Yang Maha Tunggal, tanpa salinan, (maksudnya tidak ditinjau dari sudut urutan angka matematika, tetapi sebagai "Ia Yang tidak diserupai oleh sesama satu pun.")
ASH-SHOMAD - Yang menjadi tujuan segala makhluk dan tempat meminta sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka. Atau Yang Maha Abadi. Segenap Makhluk menyeru-Nya dalam kekurangan, dan Dia, yang bebas dari segala kebutuhan, menyediakan kebutuhan mereka.
AL-QODIR - Yang sanggup melaksanakan semua hal yang dikehendaki. Tuhan Maha Kuasa. (Sezarah dari segala Sifat Nama ini terwujud pada laut lepas, ilmu Ilahi, dan bidang keuangan.)
AL-MUQTADIR - Yang sangat berkuasa. Kekuasaan-Nya menguasai segala yang kuasa.
AL-MUQODDIM - Yang Maha Kuasa Mendahulukan. Atau Yang Maha Pemercepat. Bila dikehendaki-Nya, Tuhan sanggup mempercepat segala urusan.
AL-MU'AKHKHIR - Yang Maha Kuasa Mengakhirkan. Atau Yang Maha Pemerlambat. Sebaliknya, Ia sanggup memperlambat segala urusan.
AL-AWWAL - Yang pertama Ada-Nya sebelum segala sesuatu ada.
AL-AAKHIR - Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah (berakhir).
ADH-DHAHIR - Yang Lahir - Yang dapat dilihat kekuasaan-Nya. Segala sesuatu yang ada di luar.
AL-BATHIN - Yang Batin - Yang tidak dapat dilihat Zat-Nya. Segala sesuatu yang ada di dalam.
AL-WAALI - Yang mengendalikan dan menguasai segala macam urusan Makhluk-Nya. Direktur seluruh alam.
AL-MUTA'AAL - Yang Pencapaian-Nya berada di puncak ketinggian yang amat tinggi dan tidak dapat diatasi atau dilampaui oleh siapa atau apa pun.
AL-BARRU - Yang Maha Baik dan membuat segala macam kebajikan. Sumber segala kebaikan. Segala sesuatu yang baik berasal dari-Nya.
AL-TAUWAAB - Yang menerima tobat dan memberi maaf kepada Makhluk yang berdosa. Setelah menerima tobatnya, Ia mengampuni mereka.
AL-MUNTAQIM - Yang Maha Kuasa Menindak Hamba-Nya yang bersalah dengan menyiksa. Tuhan tidak meridai perbuatan jahat, dan lambat laun mesti membalas dendam-Nya.
AL-AFUWWU - Yang Maha Memberi Maaf, asalkan pendosa bertobat.
AR-RO'UF - Yang Maha Belas Kasih dan Penyayang. Belas Kasih ialah Tanda-Nya.
MALIKUL-MULKI - Yang memiliki segala kekuasaan di alam ini, dan dengan Kekuasaan-Nya melaksanakan segala hal yang dikehendaki. Atau Pemilik Kerajaan. Atau Pemilik Abadi segala Kedaulatan. Atau pun Pemilik Kerajaan Allah.
DZUL JALAALI wal IKROM - Yang memiliki sifat Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan, serta Kemurahan. Tuhan Segala Keagungan dan Kemurahan. Dia Lebih Besar, Penuh Rahmah, dan Maha Pemurah.
AL-MUQSITHU - Yang Maha Adil dalam Hukum-Nya. Ilmu ekonomi juga berasal dari Nama ini. Ekonomi Ilahi bersifat adil dan cermat.
AL-JAAMI'U - Yang dapat mengatur dan mengumpulkan segala sesuatu. Tuhan mempersatukan segala sesuatu (yang beraneka segi) di dalam Diri-Nya.
AL-GHONIYYU - Yang tidak membutuhkan sesuatu apapun. Yang Maha Mandiri. Sedemikian agung Kekayaan-Nya sehingga besarnya seluruh alam semesta ibarat kepala peniti saja.
AL-MUGHNI - Yang dapat memberikan segala kebutuhan Makhluk dan Maha Kuasa Memberikan Kekayaan kepada Hamba-Nya. Ia melimpahkannya kepada siapa saja menurut Kehendak-Nya.
AL-MAANI'U - Yang dapat mencegah dan mempertahankan sesuatu. Pada akhirnya, hanya Tuhan jualah yang mampu menahan sesuatu sehingga batal.
ADH-DHAARRU - Yang dapat mendatangkan bahaya dan memberikan kemelaratan. Hanya Tuhan jualah yang mampu mengganggu atau menyusahkan Makhluk-Nya.
ANN-NAAFI'U - Yang dapat memberikan manfaat. Atau Yang Maha Menguntungkan. Hanya Tuhan jualah yang mampu menolong atau menyembuhkan Makhluk-Nya.
AN-NURU - Yang memberi cahaya kepada segala sesuatu. "Allah yang menerangi langit dan bumi." (Q24.35) Makhluk pertama ialah Nur Ruh Muhammad, yang muncul dari Nur Ilahi Yang Purba. Itu berarti bahwa Rasul adalah Makhluk yang terdekat pada Tuhan, dilihat dari sudut ontologis (hakikat hidup), dan tidak hanya dari sudut temporal (berkenaan dengan waktu).
AL-HAADI - Yang memberi petunjuk. Tuhan dapat menuntun kita sepanjang jalan yang lurus (atau benar).
AL-BADIE'U - Yang menciptakan alam semesta dalam bentuk yang indah yang belum pernah dibuat oleh siapa pun. Atau Yang Tiada Bertara. Ia yang menimbulkan segala sesuatu.
AL-BAQI - Yang Maha Kekal Wujud-Nya. Atau Maha Selamat. Atau Yang Maha Tetap. Meskipun segala sesuatu akan habis, tetapi Ia takkan berkesudahan.
AL-WARITSU - Yang tetap ada setelah segala makhluk tiada. Atau Yang Maha Waris. Pada saat segala sesuatu kembali kepada-Nya, Ia akan berada di tempat untuk menerimanya.
AR-ROSYIEDU - Yang Maha Pandai dan Bijaksana. Atau Yang Maha Penyuluh. Atau Yang Maha Pemandu yang merintis Jalan yang Benar. Nama ini dikaruniakan kepada segenap nabi, rasul, wali Allah, ahli hikmah, dan syekh yang patut dipercaya.
ASH-SHOBURU - Yang Maha Sabar. Tuhan adalah sumber segala Kesabaran. Banyak Nama-Nya, namun Dia telah ridha mengungkapkan yang di atas kepada Hamba-Hamba-Nya sebagai Nama-Nya yang paling berguna baginya.yok sama-sama kita apalin.. ;) insya'Allah masuk surga sebagaimana hadist di atas, betul ??!

Thursday, March 13, 2008

Siapkah kita menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai harapan?

Dalam hidup ini, seringkali atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita, yang diluar dugaan dan diluar kemampuan kita untuk mencegahnya. Seandainya kita selalu terbenam dalam tindakan yg salah menyikapi, pasti bisa dibayangkan hari2 akan berlalu penuh kekecewaan, penyesalan, keluh kesah, kedongkolan dengan hati yang galau. Sikap seperti ini merugikan sekali. padahal hidup itu kan hanya satu kali (ga ada yg punya dobel nyawa kali dan pastinya dalam hidup ini, kejadian yang tak terduga pun akan terjadi, bukan?
Kita punya rencana, Allah SWT juga punya rencana. Dan...yang pasti terjadi adalah rencana Allah SWT. Cuma..... yang lucu dan menarik, yaitu kita sering marah dan kecewa dengan suatu kejadian. namun setelah waktu berlalu ternyata "Kejadian" tsb menguntungkan, membawa hikmah yangs sangat besar dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan sebelumnya.
Oleh karena itu, "Fa idzaa 'azamta fa tawakal 'alallah....." bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar. namun, hati harus tetap menyerahkan segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah SWT. Siapkan mental kita untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu Allah SWT. Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 216,
"Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal bagi Allah SWT lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal buruk dalam pandangan Allah SWT."
Hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. ini adalah kenyataan hidup. Kenanglah perjalanan hidup kita yang telah lalu dan kita harus benar2 arif menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin, dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan hati yang keluh kesah karena semua itu tidak akan menyelesaikan masalah, malahan bisa saja masalah yang ada jadi tambah runyam
Kalau kita mau jujur... sebenarnya kita ini paling Hobby mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Bisa jadi, sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan fikiran sendiri, lho...
Selain tidak pada tempatnya, pasti itu juga membuat masalah akan menjadi terasa lebih besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan aslinya, dan pada akhirnya kita akan merasa lebih "Nelangsa", dan lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya. Makanya..... didalam menghadapi persoalan apapun, jangan hanyut & tenggelam dalam fikiran yang salah. Kita harus TENANG, menguasai Diri, seraya merenungkan janji Allah SWT dan jaminan pertolongan ALlah SWT.
Yakinlah bahwa Allah yang Maha Tahu, pasti sudah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan "Dosis" yang tepat dengan keadaan dan kemampuan kita.
Maka sesungguhnya didalam kesulitan itu pasti ada kemudahan. dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah : 5-6).
Subhanallah..... sampai 2x Allah menegaskan janjiNya. tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus mendapatkan kesulitan, karena dunia bukanlah neraka. tapi juga sebaliknya.... kita tidak mungkin hidup terus menerus memperoleh kemudahan & kelapangan karena dunia bukanlah Syurga.
Segalanya pasti akan ada akhirnya dan dipergilirkan oleh Allah dengan keadilanNya.
Jadikanlah setiap masalah sebagai sarana efektif untuk MENGEVALUASI dan MEMPERBAIKI DIRI. karena hal itulah yang menjadi keuntungan bagi diri kita dan insya Allah yang akan dapat mengundang pertolongan Allah SWT.

Thursday, February 28, 2008

Tentang Taqdir




Seseorang bertanya kepada Rasulullah: “Beritahu aku tentang iman.” Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim. Hadits Arba’in no 2).
Iman kepada Qadha dan Qadar merupakan salah satu rukun iman dalam Islam.
Allah swt telah mencatat di Lauh Mahfudz seluruh takdir makhluk.
Nabi bersabda:“Pertama kali yang diciptakan Allah swt adalah Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya: “Tulislah!”. Ia menjawab: “Apa yang harus aku tulis?” Allah berfirman: “Tulislah semua yang terjadi sampai hari kiamat!”(Hasan melalui jalan Imam Ahmad).
Allah berfirman: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah (Qs. Al-Hajj: 70).
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”(Qs. Al-Hadid: 22)
karena itu, apa yang telah ditakdirkan menimpa manusia tidak akan meleset darinya, dan apa yang ditakdirkan tidak mengenai manusia, maka tidak akan mengenainya.
“.. Ketahuilah jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat, dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi, dia berkata “Hadits ini hasan sahih”. Terdapat di Hadits Arba’in no 19)
Allah swt telah mencatat dalam Lauh Mahfudz, semua apa yang dikehendaki-Nya. Sedangkan apabila Allah menciptakan janin sebelum ditiupkan ruh kepadanya, Maka Allah swt mengutus kepadanya seorang Malaikat yang diperintahkan untuk mencatat empat perkara: yaitu tentang rizkinya, ajalnya, amalnya, serta celaka atau bahagia. (Seperti yang terdapat pada hadits riwayat Bukhari no 3208, 3332, 6594,7454, dan Muslim no 2643).
Kemudian yang harus diketahui oleh setiap muslim, bahwa kita wajib mengimani qadha’ dan qadar baik buruk, manis, dan pahit. Qadha dan Qadar adalah rahasia Allah yang tidak diketahui oleh seseorang pun dari makhluk-Nya. Kewajiban kita mengimani dan beramal sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Semua gerak-gerik yang terjadi di langit dan di bumi hanyalah dengan kehendak Allah swt, tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam kerajaan-Nya apa yang tidak diinginkan-Nya.
Meskipun segala sesuatu yang ada telah Allah takdirkan, akan tetapi Allah tetap memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk taat kepada-Nya, serta taat kepada Rasul-Nya, dan melarang mereka durhaka kepada-Nya.
Manusialah yang benar-benar melakukan satu perbuatan, sedangkan Allah swt yang menciptakan perbuatan mereka itu. Manusia mempunyai kekuasaan atas perbuatan mereka, serta mereka pun mempunyai keinginan. Tetapi Allah-lah yang menciptakan mereka serta menciptakan kekuasaan (kemampuan) dan keinginan mereka itu, sebagaimana Allah berfirman:
“Yaitu bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam” (Qs. At-Takwir: 28-29).
———————————–
Allah swt telah menetapkan sesuatu kebaikan untuk kita. Kemudian, kita lah yang menentukan apakah kita akan mengambil kebaikan itu atau tidak.
Aliran-aliran sesat yang berhubungan dengan takdir:
1. Aliran Jabriyah: berasal dari kata Jabr (terpaksa), yaitu semua dipaksa dan tidak ada kekuasaan dan kebebasan dalam dirinya. Mereka berpandangan bahwa manusia dalam segala perbuatan, gerak-gerik dan tingkah lakunya adalah terpaksa, tidak memiliki kekuasaan dan kebebasan. Dan semua itu adalah perbuatan Allah.2. Qadariyah adalah aliran yang sesat dan termasuk ahlul bid’ah. Berasal dari kata ‘qadar’. Artinya ketentuan Ilahi. Aliran ini tidak mengakui adanya qadar tersebut dan mengatakan manusialah yang menentukan nasibnya sendiri dan dialah yang membuat perbuatannya, terlepas dari kodrat serta iradat Ilahi.

Wednesday, February 20, 2008

Makna Dzikir dalam Al-Qur'an


1. Al-Qur'anDzikir itu artinya al-Qur'an sebagaimana firman Allah, Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya(Q.S. al-Hijr: 9) Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan (Q.S. An-Nahl: 44) Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. Ar-Ra'du: 28)Semua kata "dzikr" dalam ayat-ayat di atas maksudnya al-Qur'an. Imam Ibnu Qoyyim berpendapat, "Dzikrullah itu ialah al-Qur'an yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya, dengannya akan tenang hati orang yang beriman, karena hati tidak akan tenang kecuali dengan iman dan yakin. Dan tidak ada jalan untuk memperoleh keimanan dan keyakinan kecuali dengan al-Qur'an" .Demikian firman Allah, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (An-Nahl:43). Yang dimaksud ahli dzikir disini bukanlah yang suka membaca kalimat dzikir seperti membaca laailaha illallah 1000 kali dsb, tapi ahli dzikir di sini maksudnya ialah yang menguasai al-Qur'an dan Sunnah. Mengapa al-Qur'an dikatakan dzikr, karena al-Qur'an berfungsi sebagai pengingat penggugah, dan penyadar. Dan arti dzikir itu sendiri ialah ingat, sadar.Banyak bukti terjadi pada jaman Nabi saw, bagaimana orang yang asalnya tidak percaya kepada Allah, tidak mau melaksanakan perintah-Nya, dengan adanya al-Qur'an mereka menjadi sadar untuk mengabdi dan berbakti kepada Allah. Pada suatu saat umar marah, ketika mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad saw. meninggal, sambil menghunus pedang ia berseru, siapa yang mengatakan bahwa rasul telah meninggal! Lalu Abu Bakar datang menghampirinya sambil membacakan ayat, "wa maa muhammdun illa rasuul …" yang artinya "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?" (Q.S. Ali Imran: 144), seketika itu pula umar sadar, lalu berkata, seolah-olah aku belum pernah mendengar ayat ini. Suatu hari, Ali Zainal Abidin, cucunya Ali bin Abi Thalib, menyuruh pembantunya untuk membawakan air wudhu, tanpa sengaja pembantunya tersebut menumpahkan air ke kakinya serta melukainya, Ali lalu marah kepadanya, sampai-sampai mau menempeleng dan menyiksanya. Dengan tenang pembantunya, membacakan ayat tentang ciri orang yang bertakwa ialah , wal kaazhimiina ghaizha, saat itu juga Ali sadar dan menjawab, ya saya tahan amarah saya, lalu dibacakan lagi lanjutan ayat tersebut, wal 'aafiin 'aninnas, Ali menjawab, ya saya maafkan kamu, kemudian ia melanjutkan lagi, wallaahu yuhibbul muhsinin, lalu Ali berkata, pergilah kamu, sekarang kamu menjadi manusia yang bebas. Inilah bukti bahwa al-Qur'an merupakan, pengingat, penggugah, dan penyadar bagi manusia.
1. Sholat
Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(Q.S. Thaha: 14) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Al-Ankabut: 45) Ibnu 'Atiyah berkata, "Sesungguhnya dalam sholat itu ada tiga hal, setiap shalat yang tidak terdapat padanya ketiga hal tersebut maka tidak dinilai shalat yang sempurna, yaitu ikhlas, rasa takut kepada allah, dan mengingat Allah" Orang Thaif adalah kaum yang paling terlambat menerima Islam, dan akhirnya mereka menerima Islam dengan persyaratan bahwa meraka hanya akan melaksanakan kewajiban shalat saja, sementara kewajiban yang lainnya, mereka belum siap melaksanakannya. Akhirnya, Rasul pun mengabulkan persyaratan mereka tersebut. Setelah mereka menjalankan ibadah shalat, dan meresapi setiap bacaan shalat, akhirnya mereka sadar lalu menghadap Rasulullah, dan berkata, ya Rasulullah, dulu kami menolak untuk melaksanakan, zakat, shaum, dan kewajiban yang lainnya, sekarang kami sadar, dan siap untuk melaksanakan semua kewajiban yang yang diperintahkan kepada kami. Ini menjadi bukti bahwa dengan shalat yang benar, ternyata mereka menjadi sadar. Apalagi bagi Rasulullah, jika beliau menghadapi suatu urusan yang tegang, berat, Nabi biasanya suka shalat 2 rakaat, untuk menenangkan, menyegarkan, dan berpikir lebih jernih.Bahkan untuk menghentikan riba pun, ternyata juga dengan shalat. Setelah menerangkan riba, Allah menerangkan tentang shalat. Ternyata dengan shalat, diharapkan mampu menghentikan perbuatan riba. Demikianlah peran dan fungsi shalat, jika dihayati dengan benar, maka akan mampu membuat orang dapat meninggalkan fahsya dan munkar
2. Jum'at
Firman allah, Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Q.S. Al-Jumu'ah:9) .Jum'at merupakan dzikrullah, yaitu sejak persiapan jum'at, shalat intizharnya, mendengarkan khutbahnya, dan shalatnya. Nabi menggambarkan ada 3 klasifikasi orang yang melaksanakan jum'at
1. ada orang yang hadir jum'at tapi hampa nilainya
2. Ada orang yang berdo'a dan besar harapan untuk dikabul do'anya, ia menggunakan kesempatan dan waktu tersebut untuk berdo'a kepada Allah. Karena Allah pun menjajikan ada saat ijabah di waktu jum'at.
3. ada orang yang dengan jum'atnya tersebut menjadi pelebur dosa, yang ada diantara jum'at ke jum'at.
3. Dzikrullah
Firman Allah, Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-Ahzab 41-43). Dalam ayat ini, pertama diperintahkan agar orang-orang beriman berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang banyak, kira-kira apa yang dimasud dzikir disini, mengingat ada ulama yang membagi dzikir itu kepada dua, dzikir dengan lisan saja dan dzikir dengan kenyataan, yaitu dengan sikap dan perilaku.Yang dimaksud, dzikir yang banyak bukan dalam artian jumlah, seperti membaca laa ilaaha illalllah, sepuluh kali, seratus kali, seribu kali, atau tiga ribu kali, setiap malam jum'at misalnya. Padahal bilangan itu tidak ada yang banyak, seratus banyak, tapi dibanding seribu sedikit, seribu dibanding sepuluh ribu sedikit, dan seterusnya. Ini menunjukkan banyak menurut jumlah itu relative. Kita bandingkan dengan dzikirnya orang yang munafik, "orang munafik tidak dzikir kecuali hanya sedikit saja". Sedikit disini bukan dalam arti jumlah. Kalau orang mu'min membaca tasbih, tahmid, dan takbir 33 kali, tidak berarti orang munafiq itu membacanya dzikirnya masing-masing 10 kali. Untuk mempraktekkan dzikir yang banyak dengan pengertian jumlah yang tadi, kadang menggunakan tasbih, tidak akan bisa dilaksanakan oleh setiap orang, Seorang mu'min yang sadar ialah tentu saja setiap gerak langkahnya tentu saja akan ingat terhadap aturan dan ketentuan Allah di manapun merea berada.Orang yang dzikrullah di pasar, tentu saja ia ingat bahwa tidak boleh menipu, tidak boleh berdusta, tidak boleh memanipulasi, tidak boleh berbuat curang, ingat bahwa itu semua dilarang oleeh agama Berarti ia telah berdzikir kepada Allah walaupun tidak membaca tasbih, tahmid, takbir dan sebagainya. Yang kedua, Allah memerintahkan bertasbih kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Siang dan malam itu untuk menunjukkan waktu. Mungkin saja ada orang yang pagi sadar sore tidak, siang sadar malam tidak, dst. Oleh karena itu setiap waktu dituntut untuk dzikran katsiira, bukan dalam artian jumlah. Sementara banyak orang yang menafsirkan ayat ini dengan artian jumlah yang banyak. Misalkan wirid setelah shalat, membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali, dan tahlil sekali, jumlahnya seratus kali. Ada juga yang mengubahnya dengan laa ilaaha illalah 165 kali dengan suara yang keras dan gerakan tertentu. Dzikir dengan cara seperti ini tidak ada ketentuannya dari Rasulullah Ada lagi dzikir khusus, katanya dalam hati manusdia itu ada beberapa bagian, manusia , untuk meni bagian ini membaca Allah 1000 kali, bagian lain 2000 kali, dst. Hal ini pun sama tida ada ketentuannya dari Rasulullah Arti sholat dinisbahkan kepada Allah artinya memberikan rohmat kepada manusia, sholat dinisbahkan kepada malaikat artinya memohonkan ampun, sholat dinisbahkan kepada manusia artinya berdo'a. Allah memberikan rahmat kepada manusia dengan menurunkan wahyunya untuk mengeluarkan manusia dari alam yang gelap ke alam yang terang benderang.Imam al-Maraghi berkata, "Ingatlah kepada Allah dengan hati kamu, lisan kamu dan seluruh anggotamu dengan dzikir yang banyak dalam setiap keadaan kamu dengan penuh kesungguhan". Ada orang yang dzikir hanya dengan lisan saja, tapi tidak sadar, tidak disertai dengan hati. Seperti seorang anak kecil yang bernyanyi, "bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi, ..". ketika disuruh mandi ia malah marah-marah, karena ia tidak sadar dengan apa yang diucapkannya.Atau mungkin di satu rumah yang memiliki burung beo, ketika ada tamu yang datang, burung tersebut bersuara, 'silahkan masuk'. Walaupun sampai sepuluh kali burung tersebut mempersilahkan masuk tetap saja tamu tersebut tidak akan masuk. Tapi ketika pribuminya mengatakan 'silahkan masuk, walapun Cuma sekali, maka tamu tersebut akan masuk ke rumah. Kenapa demikian, karena burung itu berkicau, kalau manusia berbicara. Kita mungkin sering merasa do'a kita tidak dikabul oleh Allah, bisa jadi karena selama ini kita hanya berkicau seperti burung, bukannya berdo'a. (191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran 191). Diantara ciri ulil albab ialah yang berdzikir dan berpikir. Ada orang yang berdzikir tapi tidak berpikir, maka akibatnya ketinggalan dalam bidang ekonomi, politik dsb. Adapula yang berpikir tapi tidak berdzikir, akibatnya orang tersebut sukses namun moralnya bejat, melakukan korupsi, manipulasi, dsb. Nabi Isa a.s. berkata, "beruntung orang yang ucapannya mengingat Allah, diamnya bertafakur, dan pandangannya menjadi pelajaran" Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Q.S. Al-Baqarah:152) Ibnu Sa'id bin Jubair berkata, ayat di atas maksudnya, "Ingatlah kalian dengan melaksanakan perintah-Ku maka Aku akan mengingatmu degan memberikan ampunan-Ku.Kalau dianalogikan, jiak ada seorang istri berpesan kepada suaminya untuk selalu mengingatnya selama perjalanannya. Tentu saja cara mengingat isterinya itu ialah dengan mengingat pesan-pesannya, apa yang dimintanya, dan apa kebutuhannya, bukan dengan menyebut-nyebut namanya selama perjalanan tapi tidak ingat akan pesan-pesannya

Tuesday, May 8, 2007

Apa pantas berharap syurga ?


Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.
Astaghfirullaah ...

Awali hari dengan sholat dhuha


Sebagian kita sudah tak asing lagi dengan sholat sunnah yang satu ini. Namun pengetahuan belum menunjukkan sebuah perbuatan: sebuah pengamalan dalam beribadah. Hal ini bisa jadi karena kita malas, tak punya waktu mengerjakannya, tidak tahu bagaimana cara melaksanakannya, tidak tahu segenap keutamaannya ( fadilah ) yang tersembunyi didalamnya. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan: " Kekasihku, Rasulullah SAW berwasiat kepadaku mengenai tiga hal :a). agar aku berpuasa sebanyak tiga hari pada setiap bulan, b). melakukan sholat dhuha dua raka'at dan c). melakukan sholat witir sebelum tidur." ( H.R. Bukhari & Muslim ).Di hadits yang lain dikatakan bahwa Mu'azah al Adawiyah bertanya kepada Aisyah binti Abu Bakar r.a :" apakah Rasulullah SAW, melakukan sholat dhuha?"Aisyah menjawab," Ya, Rasulullah SAW melakukannya sebanyak empat raka'at atau menambahnya sesuai dengan kehendak Allah SWT." ( H.R. Muslim, an-Nasa'i, at-Tirmizi, dan Ibnu Majah). Demikianlah hadits hadits tersebut meneguhkan ihwal kesunnahan sholat dhuha. Status sunnah sholat dhuha di atas tentu saja tidak berangkat dari ruang kosong. Berdasarkan tinjauan agama, paling tidak beragam keutamaanya (fadilah ) yang bisa ditarik:Pertama: sholat dhuha merupakan ekspresi terima kasih kita kepada Allah SWT, atas nikmat sehat bugarnya setiap sendi tubuh kita. menurut Rasulullah SAW, setiap sendi ditubuh kita berjumlah 360 sendi yang setiap harinya harus kita beri sedekah sebagai makanannya. Dan kata Nabi SAW, sholat dhuha adalah makanan sendi - sendi tersebut." Pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang bersangkutan ( pemilik sendi ) bersedekah untuk setiap sendinya." Lalu, para sahabat bertanya:" Ya Rasulullah SAW, siapa yang sanggup melakukannya?' Rasulullah SAW menjelaskan:" Membersihkan kotoran yang ada di masjid atau menyingkirkan sesuatu
( yang dapat mencelakakan orang ) dari jalan raya, apabila ia tidak mampu maka sholat dhuha dua raka'at, dapat menggantikannya" ( H.R. Ahmad bin Hanbal dan Abu Daud ) Kedua, sholat dhuha merupakan wahana pengharapan kita akan rahmat dan nikmatAllah sepanjang hari yang akan dilalui, entah itu nikmat fisik maupun materi. RasulullahSAW bersabda, " Allah berfirman,"Wahai anak Adam, jangan sekali kali engkau malasmelakukan sholat empat raka'at pada pagi hari, yaitu sholat dhuha,niscaya nanti akan . Kucukupi kebutuhanmu hingga sore harinya." ( H.R. al-Hakim dan at-Tabrani). Lebih dari itu, momen sholat dhuha merupakan saat dimana kita mengisi kembali semangat hidup baru. Kita berharap semoga hari yang akan kita lalui menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin. Disinilah, ruang kita menanam optimisme hidup. Bahwa kita tidak sendiri menjalani hidup. Ada Sang Maha Rahman yang senantiasa akan menemani kita dalam menjalani hidup sehari-hari. Ketiga, sholat dhuha sebagai pelindung kita untuk menangkal siksa api neraka di Hari Pembalasan ( Kiamat ) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi SAW dalam haditsnya," Barangsiapa melakukan sholat fajar, kemudian ia tetap duduk ditempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan kemudian ia melaksanakan sholat dhuha sebanyak dua raka'at, niscaya Allah SWT, akan mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya,"( H.R. al-Baihaqi) Keempat, bagi org yang merutinkan shalat dhuha, niscaya Allah mengganjarnya dengan balasan surga. Rasulullah SAW bersabda," Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha ( pintu dhuha ) dan pada hari kiamat nantiada orang yang memanggil," Di mana orang yang senantiasa megerjakansholat dhuha ? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah." ( H.R. at-Tabrani).Bila menilik serangkaian fadilah di atas, cukup beralasan, bila Nabi SAW menghimbau umatnya untuk senantiasa membiasakan diri dengan sholat dhuha ini. Kendati demikian, untuk meraih fadilah tersebut, beberapa tata cara pelaksanaannya, kiranya perlu diperhatikan. WAKTU SHOLAT DHUHA Kata dhuha yang mengiringi sholat sunnah ini berarti terbit atau naiknya matahari. Wajar bila sholat ini, kemudian, dilakukan pada pagi hari ketika matahari mulai menampakkan sinarnya. Namun, beberapa ulama fikh berbeda pendapat tentang ketentuan waktunya. Imam Nawawi di dalam kitab ar-Raudah mengatakan bahwa waktu sholat dhuha itudimulai, sejak terbitnya matahari, yakni sekitar setinggi lembing (lebih kurang 18 derajat)Sementara Abdul Karim bin Muhammad ar-Rifai, seorang ahli fikih bermazhab Syafi'iberkomentar bahwa sholat itu lebih utama bila dikerjakan saat matahari lebih tinggi dari itu. Ada sebuah hadits yang menentukan perihal dhuha di atas. Zaid bin Arqam meriwayatkan: " Rasulullah SAW keluar menemui penduduk Quba di saatmereka melaksanakan sholat dhuha, lalu Rasulullah SAW, bersabda :" Sholat dhuhadilakukan apabila anak anak unta telah merasa kepanasan ( karena tersengat matahari)
( H.R. Muslim dan Ahmad bin Hanbal). RAKAAT DHUHA. Sholat dhuha merupakan sholat yang tidak menyusahkan untuk dikerjakan.Sebab, pasalnya sholat dhuha itu menyesuaikan kemampuan dan kesempatan muslim yang hendak mengamalkannya. Poin ini tergambar dengan jelas pada bilangan raka'atnya. Mulai dari 2 raka'at, 4 raka'at, 8 raka'at hingga 12 raka'at.Masing masing raka'at memiliki sandaran hadits Rasulullah SAW,sebagaimana yang penulis singgung di atas. Sayid Sabiq, ahli fikih dari Mesir, menyimpulkan bahwa batas minimalsholat dhuha itu 2 raka'at sedangkan batas maksimalnya adalah delapan raka'at. Pada ketentuan minimal dapat ditemukan pada hadits riwayat Abu Hurairah.Sementara ketentuan maksimal dapat ditemukan pada hadits fi'li (perbuatan) yang diriwayatkan Aisyah, ra." Rasulullah SAW, masuk kerumah saya lalu melakukan sholat dhuha sebanyak delapan raka'at." ( H.R. Ibnu Hiban ) Bahkan lebih dari itu, menurut ulama mazhab Hanafi jumlah maksimal raka'at sholat dhuha itu enam belas raka'at . Sedang Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Tabari, pengarang kitab Tafsir Jami al-Bayan, sebagian ulama mazhab Syafi'I dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berpendapat bahwa tidak ada batas maksimal untuk jumlah raka'at sholat dhuha. Semuanya tergantung pada kemampuan dan kesanggupan orang yang ingin mengerjakannya. Wallahu'alam bil shawab. (Muaz/Hidayah).

Manfaat Sedekah




Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki;Allah pasti menurunkan balasannya pada saat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka. ALLAH adalah Zat yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang hampir setiap
desah napas selalu membangkang perintah-Nya, Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira. Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, pasti akan kembali kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada di genggaman kita.
Demi Allah, semuanya datang dari Allah yang Mahakaya. Dititipkan-Nya
kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh
keikhlasan. Kemudian kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya,
baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.Yakinlah apa yang
dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang
disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan
dari-Nya. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah: 261).
Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang
disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat
terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka
bertanya? 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada
gunung?'. Allah menjawab, 'Ada, yaitu besi'. Para malaikat pun kembali bertanya,
'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada
besi?'. Allah menjawab, 'Ada, yaitu api'. Bertanya kembali para malaikat, 'Ya
Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?'.
Allah menjawab, 'Ada, yaitu air'. 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu
yang lebih kuat dari air?,' tanya para malaikat. Allah pun menjawab, 'Ada, yaitu angin'. Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'. Allah yang Maha gagah menjawab, 'Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya'."
Wallahu a'lam bish-shawab.