Monday, July 21, 2008

Terpuruknya Kemuliaan Diri

Nasib manusia tak ubahnya seperti roda yang berputar
Kadang ia berada di atas
namun pada kali lain tiba-tiba berada di bawah

Hari ini seseorang mungkin tengah asyik menikmati karunia kemuliaan
Hidup penuh gelimang penghargaan, penghormatan,
dan pujian dari sesama manusia lantaran harta, gelar,
dan jabatan tergenggam di tangan.
Akan tetapi, esok lusa mungkin ia jatuh terpuruk menjadi makhluk
yang hina dina. Hidup berlumuran aib, sehingga ke mana pun kakinya melangkah, cercaan, celaan, cibiran, dan cemoohan senantiasa menimpuki sekujur tubuhnya.
Orang-orang yang dulu menghormati dan mengalunginya dengan sanjung puji
telah menjauhinya sejauh-jauhnya

Tinggallah ia sendiri menjalani hidup tanpa harga diri.
Beruntunglah bila semua hanyalah "sekadar" ujian dari Allah
dan disadari sepenuhnya,
sehingga ia pun menjadi ahli syukur ketika ujian berupa bala bencana
datang mendera.Tetapi, sungguh amat celaka bila semua itu tak lebih merupakan laknat Allah
sehingga datangnya dunia membuat ia terlena,
sehingga ia tidak punya harga hidup di dunia.

Sedangkan datangnya bencana membuat dirinya benar-benar tidak lagi punya harga hidup di dunia.
Baik dalam pandangan manusia maupun dalam pandangan-Nya.
Harga diri adalah barang teramat mahal
yang sekali-kali tidak akan bisa dibeli dengan uang. Namun, sayangnya manusia yang telah mabuk dengan harta, gelar,
dan kedudukan, justru beranggapan bahwa harga diri akan datang
bila segala asesoris duniawi itu tergenggam erat di tangan

Padahal, demi Allah,
itulah jiwa materialistis yang akan menghancurkan harga diri seseorang.

Menurut Prof Emil Salim, ada lima ciri bangsa yang telah terasuki karakter kapitalistik.

Pertama,
segalanya hanya diukur dengan materi

Kedua,
rakus, tamak, dan tidak pernah merasa puas dalam memenuhi kebutuhan diriKetiga,
aji mumpung

Keempat,
individualistis atau hanya mau mementingkan dirinya sendiri

Kelima,
hanya mau berkalkulasi untung rugi

Sekiranya kita telah ikut terasuki karakter seperti ini, maka hancurnya harga diri dan tinggal menunggu waktu.

Apa saja faktor penghancur harga diri tersebut ?

Tak tahu malu dan enggan membalas jasa budi baik orang lain
merupakan dua di antara empat karakter negatif
yang sangat potensial membuat terpuruknya kemuliaan diri itu. Tidak tahu malu
Inilah faktor pertama yang sangat potensial dapat menghancurkan harga diri kita
Sekali seseorang tebal muka, bermuka badak,
maka ia tidak akan pernah merasa malu kalau hidupnya menjadi beban bagi orang lain.
Di rumah, di kantor, maupun di lingkungan masyarakatnya
ia hanya menjadi beban lantaran telapak tangannya selalu
ia tadahkan kepada orang lain.

Ketika pergi ke sekolah atau ke kantor, ia sangat senang mencari tumpangan.la begitu menikmati jok mobil atau motor temannya tanpa sedikit pun terlintas di benaknya untuk membalas jasa, membelikan bensin atau mencucikan kendaraannya, misalnya.

Hidup berkeluarga, bertahun-tahun ikut numpang di rumah mertua,
namun semuanya ia jalani dengan ringan, tanpa berpikir sama sekali untuk turut membayarkan listrik, telepon, atau air ledeng yang sehari-hari dipakainya.

Pemuda yang telah tamat sekolah, susah mencari kerja,
tetapi sehari-hari hanya duduk mencangkung,
sementara batang demi batang rokok ia isap,
yang uang pembelinya ia dapatkan dari orang tua. Siapa pun yang selama hidupnya hanya mengharapkan uluran tangan orang lain
tanpa kemauan untuk suatu ketika memberikan sesuatu kepada orang lain,
maka sehebat apapun ia, manusia-manusia benalu semacam ini tidak akan pernah mempunyai nilai.

Islam mengajarkan, harga diri kita harus dijaga sekuat-kuatnya
Allah yang Mahakaya tidak mungkin lupa terhadap kebutuhan hamba-hamba-Nya

Terlalu berharap banyak dari makhluk,
banyak suka terhadap apa yang ada di tangan orang lain; semua ini hanya akan membuat rontoknya wibawa dan kemuliaan diri kita. Benar, kita memiliki beberapa kekurangan yang membuat kita membutuhkan pertolongan orang lain
Akan tetapi, hal yang harus kita ingat baik-baik adalah
bahwa setiap kali kita menjadi beban bagi orang lain, maka kita pun harus berjuang sekuat tenaga
agar bisa meringankan beban orang lain semampu kita

Belajarlah untuk malu menikmati sesuatu yang bukan menjadi hak kita
Karena, tanpa ini kita tidak akan pernah mempunyai harga
dalam mengarungi hidup di dunia ini. Tidak tahu balas budi
Membalas budi baik yang pernah dilakukan orang lain terhadap kita, sebenarnya bukanlah perkara yang sulit
Akan tetapi, sungguh tidak banyak orang yang memiliki kemauan
dan kemampuan semacam ini.
Padahal, ketika sangat membutuhkan bantuan seseorang
Kita begitu bersungguh-sungguh mengiba
karena amat berharap orang sudi memberikan pertolongan

Namun. begitu masalah terpecahkan, kita pun segera melupakannya
seolah-olah jalan keluar itu datang dengan sendirinya. Satu contoh ringan saja
Ketika sakit biasanya kita segera pergi ke dokter untuk berobat
Namun, apa yang terjadi setelah penyakit sirna dari tubuh ?
Kita pun segera kembali tenggelam dengan kesibukan sehari-hari

Hampir tidak pernah terlintas dalam pikiran kita untuk mengangkat gagang telepon
atau menulis surat sekadar untuk mengucapkan terima kasih kepada dokter tersebut.
"Bukankah sudah saya berikan sekian ribu rupiah untuk jasa pengobatan?,"
itulah yang paling lumrah kita ucapkan. Bahkan, ada sebuah pepatah,
"Karena nila setitik, rusak susu sebelanga".

Bertahun-tahun seseorang telah menghidupi kita
Dari asalnya seorang pengangguran, diberinya kita lapangan pekerjaan. Kebutuhan kita pun jadi tercukupi berkat imbalan yang diberikan. Terkadang kita lalai, terkadang pula mungkin
sempat mengambil yang bukan menjadi hak kita
Namun, tidak membuat kita diberhentikan dari pekerjaan
Apa yang terjadi kemudian? Suatu ketika orang itu berbuat sesuatu yang membuat perasaan kita tersakiti
maka serta-merta hilanglah segala kebaikan yang selama ini ia berikan
Yang melingkar di dalam pikiran justru keburukan yang pernah dilakukannya kepada kita itu,
walau mungkin hanya satu kali. Bukan tidak mungkin pula, hal itu hanya sebuah kesalahpahaman.

Nah, bisakah harga diri kita pertahankan bila memiliki karakter demikian ? Sanggupkah kita mengubah persepsi negatif terhadap orang lain yang justru diakibatkan oleh peremehan kita terhadap jasa orang tersebut? Mari kita renungkan dalam-dalam!

Wallahu a'lam bisshawab.

Monday, July 14, 2008

JANGAN MENGELUH….



JANGAN MENGELUH….Kita selalu bertanya…dan Al-Quran sudah menjawabnya…

KITA BERTANYA: KENAPA AKU DIUJI?
QURAN MENJAWAB"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman."("I am full of faith to Allah") sedangkan mereka tidak diuji?Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yg benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."-Surat Al-Ankabut ayat 2-3
KITA BERTANYA: KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
QURAN MENJAWAB"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."-Surat Al-Baqarah ayat 216
KITA BERTANYA: KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
QURAN MENJAWAB"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,"-Surat Al-Baqarah ayat 286
KITA BERTANYA: KENAPA RASA FRUSTASI ITU KERAP MUNCUL?
QURAN MENJAWAB"Janganlah kamu bersikap lemah. dan janganlah pula kamu bersedih hati,padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi darjatnya, jika kamu org2yg beriman."-Surat Al-Imran ayat 139
KITA BERTANYA: BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan dengan jalan sabar dan mengerjakan shalat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk."-Surat Al-Baqarah ayat 45
KITA BERTANYA: APA YANG AKU DAPAT DARI PADA SEMUA INI?
QURAN MENJAWAB"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min,diri,harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka… ?-Surat At-Taubat ayat 111
KITA BERTANYA: KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
QURAN MENJAWAB'Cukuplah Allah bagiku,tidak ada Tuhan selain dariNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal."-Surah At-Taubat ayat 129
KITA BERKATA: AKU TAK TAHAN!!!!!!
QURAN MENJAWAB"……dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."

Thursday, July 3, 2008

Qiyaamullail (Salat Malam)



Maasyiral muslimin rahimakumullah! Allah SWT telah berfirman, yang artinya, "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan, di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian." (Adz-Dzaariyaat: 17--19).
”(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabnya?” (Az-Zumar: 9). Allah Azza wa Jalla telah mendidik dan mensucikan Rasulullah saw. dengan kewajiban mulia ini. Allah SWT berfirman, "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit." (Al-Muzzammil: 1--3). "Dan, pada sebahagian malam hari salat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (Al-Israa': 79). Abu Abdurrahman as-Salmi rhm. berkata, "Tatkala ayat dari surah Muzzammil diturunkan, Rasulullah saw. dan para sahabatnya melaksanakan salat malam selama setahun hingga kaki mereka bengkak-bengkak. Lalu, Allah menurunkan ayat-Nya, yang artinya, "Sesungguhnya Rabmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan, Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat….”(Al-Muzzammil: 20). Allah SWT menjadikan salat malam sebagai sekolah bagi jiwa dan obat jiwa dan fisik. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Hendaknya kalian mengerjakan salat malam karena ia merupakan kebiasaan orang saleh sebelum kalian, pendekatan kepada Rab kalian, pencegahan dari perbuatan dosa, menghapus kesalahan dan mengusir penyakit dari tubuh." Seorang hamba yang melaksanakan salat malam di sepertiga malam yang terakhir, berdiri dan duduk, ruku dan sujud, berdoa dan merendahkan diri, menangis dan bertobat, maka Allah pada waktu itu akan memandang kepadanya dengan pandangan rahmat, waktu ketika Allah Azza wa Jalla turun ke langit dunia dan berfirman, "Siapa yang meminta, Aku beri. Siapa yang meminta ampunan, Aku beri ampunan. Siapa yang bertobat, Aku terima tobatnya. Siapa yang berdoa, Aku penuhi doanya." Itulah waktu di akhir malam di waktu sahur, waktu turunnya rahmat dan mengandung banyak keberkahan. Allah menerima tobat orang yang bertobat kepada-Nya, mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya, memberi orang yang meminta-Nya, siapa yang mendekat kepada-Nya sejengkal, Ia akan mendekat kepada orang itu sehasta. Bila ia mendekat kepada Allah sehasta, Allah akan mendekat kepadanya sedepa. Dan, siapa yang datang kepada-Nya dengan berjalan, Allah akan mendatangi orang itu dengan berjalan dengan bergegas. Maasyiral muslimin rahimakumullah! Rasulullah saw. bila mengerjakan qiyaamullail (salat malam), beliau melamakan berdiri--dan ini adalah sunah--, dan begitulah para sahabat melakukannya hingga mereka bersandar kepada tongkat akibat lamanya berdiri. Bila kalian merasa berat atau susah dengan lamanya berdiri, ingatlah hari ketika manusia berdiri menghadap Rab alam semesta. Ingatlah lamanya berhenti di hadapan Allah di hari yang orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Ingatlah ketika kamu berhenti di dunia ini untuk mendapatkan bagian dari dunia, padahal Allah Jalla Jalaaluhu lebih berhak untuk kita berhenti di hadapan-Nya, mengatur kaki mendekat kepada-Nya dan bersemangat untuk memperoleh pahala dan ganjaran dari-Nya. Adalah Rasulullah saw. bila mengerjakan salat malam hingga bengkak kedua kakinya. Maasyiral muslimin rahimakumullah! Rasulullah saw. memerintahkan kepada para sahabatnya agar melaksanakan salat malam. Abdullah bin Umar r.a. berkata, "Saya adalah pemuda bujangan. Saya tidur di masjid, lalu saya bermimpi didatangi dua orang malaikat dan membawaku ke neraka dan ia seperti sumur yang dilipat. Dan, mendadak kedua malaikat itu menghubungkannya seperti dua tanduk sumur. Maka aku mendapati di dalamnya manusia yang aku mengenal mereka, lalu aku berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari api neraka. Aku berlindung kepada Allah dari api neraka." Kedua malaikat itu lalu berkata, "Engkau tidak akan takut … engkau tidak akan takut." Peristiwa ini lalu aku ceritakan kepada Hafsah, dan ia kemudian menceritakannya kepada Rasulullah saw., lalu Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik orang adalah Abdullah, bila ia melakukan salat malam. Maka, setelah itu Abdullah bin Umar tidak meninggalkan salat malam. Ia tidak tidur malam kecuali hanya sedikit karena Allah Azza wa Jalla memuji atas orang yang zuhud terhadap dunia dan menghabiskan waktunya untuk Rabnya. Ia menyendiri dengan Allah dalam kegelapan malam ketika mata manusia telah terpejam, gerakan telah diam, dan suara telah sunyi. Ia mneyendiri bersama Rab Azza wa Jalla. Maka Allah SWT berfirman, "(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (Ali Imran: 17). Allah mengenakan kepada mereka cahaya dari cahaya-Nya, memberikan kepada mereka mahabah (kewibawaan) di hati para makhluk dan menjadikan ucapan dan perbuatannya manis dan diterima manusia. Itulah para sahabat Muhammad saw. Mereka perutnya kosong karena lapar dan matanya kabur karena tidak tidur. Mereka sujud dan ruku kepada Rabnya di waktu malam. Muadz bin Jabal r.a. berkata, "Kami datang dari Perang Tabuk, lalu saya melihat Rasulullah saw. tengah sendirian, Lalu aku mendatangi beliau dan berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amal perbuatan yang bisa mendekatkan diriku kepada surga." Rasulullah saw. bersabda, "Bagus … bagus … sesungguhnya engkau telah bertanya tentang sesuatau yang besar dan sesungguhnya itu adalah kemudahan bagi yang dimudahkan oleh Allah. Engkau melaksanakan salat yang ditetapkan (salat wajib), menunaikan zakat yang diwajibkan, menjumpai Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, melaksanakan salat malam karena salat seseorang dalam sepertiga akhir dari malam akan menghapus kesalahan, bukankah aku telah menunjukkan kepadamu atas tiang itu semua, salat adalah cahaya dan sedekah adalah bukti." Rasulullah saw. memerintahkan kepada Mu'adz bahwa bila ia menginginkan surga, hendaknya ia melaksanakan salat malam. Dan Mu'adz pun melaksanakan wasiat tersebut, ia melakukan salat malam dan berkata, "Ya Allah, bintang-bntang telah terbenam, mata telah tenang, dan Engkau Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur. Ya Allah, sesungguhnya permintaanku kepada surga pelan dan lariku dari api neraka lemah, maka berilah aku petunjuk dari sisi-Mu yang engkau benamkan untukku hingga hari kiamat, sesungguhnya Engkau tidak menyelisihi janji." Mu'adz kemudian membiasakan salat malam, melaksanakan wasiat Rasulullah saw. Ketika kematian datang kepadanya, ia berkata, "Selamat datang kematian. Ya Allah, sesungguhnya saya takut kepadamu dan hari ini saya mengharap kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui saya tidak senang tetap berada di dunia untuk menggali sungai atau menanam tumbuhan, tetapi saya ingin tetap tinggal di dunia untuk merasakan dahaga di panas yang terik, tidak tidur di waktu malam, dan berada dalam lingkaran ilmu bersama para ulama." Itulah sahabat Rasululullah saw., Mu'adz bin Jabal r.a. Maasyiral muslimin rahimakumullah! Abu Hurairah r.a. pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla membenci setiap ja'dhari jawwath (orang yang keras, kasar, pelahap dan berjalan dengan sikap sombong), yang berteriak di pasar, menjadi bangkai di malam hari dan menjadi keledai di siang hari, mengetahui perkara dunia bodoh terhadap urusan akhirat." Sejelek-jelek sifat adalah berjalan dengan sombong, keras, kasar, dan banyak minum, berteriak-teriak di pasar, menjadi bangkai di malam hari, senantiasa tidak bangun malam, siang hari menjadi keledai, mahir dengan perkara dunia, mengetahui dan paham kondisinya, tetapi ia bodoh terhadap urusan akhirat, ia tidak bertanya tentang halal dan haram, ia tidak mengetahui mana sunah dan mana wajib, tidak terdetik sehari pun untuk membaca sesuatu dari Alquran, na'uudzubillaahi dari kondisi seperti itu. Allah Azza wa Jalla membenci orang yang memiliki sifat di atas, setiap yang keras, yang kasar, pelahap, yang berjalan dengan sikap sombong, yang berteriak di pasar, menjadi bangkai di malam hari dan menjadi keledai di siang hari, mengetahui perkara dunia bodoh terhadap urusan akhirat. Abu Hurairah mendengar perkataan tersebut dari Nabi saw. Maka kalimat-kalimat itu tertanam dalam hati Abu Hurairah r.a. Abu Utsman an-Nahdiyyi r.a. berkata, "Saya datang sebagai tamu kepada Abu Hurairah selama tujuh hari. Ia, istrinya, dan pembantunya saling membagi malam. Ia salat ini kemudian membangunkan itu, dan salat itu dan membangunkan ini. (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam)." Keadaan mereka seperti keadaan keluarga Daud yang Allah berfirman untuk mereka, "Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (Saba': 13). Dhirar bin Dhamrah al-Kanani berkata menyifati Ali r.a., "Ali adalah orang yang sangat kuat, langkahnya jauh, berkata dengan jelas dan berbicara dengan adil. Dari sekelilingnya terpancar ilmu dan dari sisi-sisinya hikmah berbicara. Demi Allah, ia seperti salah seorang di antara kita, akan mendekati kita bila kita mendatanginya dan memulai kita bila kita bertanya kepadanya. Ia tidak suka terhadap dunia dan perhiasannya, tetapi suka dengan malam dan kegelapannya. Saya bersaksi kepada Allah, saya telah melihatnya dalam sebagian sikapnya, saat malam telah menurunkan tabirnya dan bintang telah tenggelam, ia memegang jenggotnya meliuk-liukkan orang miskin dan menagis tangisan orang sedih. Ia berdoa, "Ya Rab kami, ya Rab kami, kemudian ia berkata, "Wahai dunia, tipulah orang lain selainku, pergilah jauh-jauh … saya telah menceraikanmu dengan tiga, kedudukanmu hina, usiamu pendek, dan perkaramu mudah, ah sedikitnya bekal, risaunya perjalannya, dan jauhnya jalan". Begitulah para sahabat Muhammad, maka marilah kita mencontoh mereka dalam perilaku dan sikap, termasuk dalam melaksanakan salat malam. Kita tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari manusia, tetapi yang kita harapkan adalah balasan dan rida Allah SWT. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang sabar dalam menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Amin. Wallahu a'lam.

PENYEMBUHAN KANKER DENGAN SHOLAT TAHAJUD

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Dr. Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunnah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.

Tidak percaya? "Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. Jika anda melakukannya secara rutin, benar,khusuk, dan ikhlas, niscaya anda terbebas dari infeksi dan kanker", ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan "tukang obat" jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul "Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Respons ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan siko-neuroimunologi". Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu. Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakanibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi. (coping). Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan. Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh.

Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00- normalnya antara 69-345 nmol/liter. "Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

DR. Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika) Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang ang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud.

Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajuud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil. "jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress,"
Nah, menurut DR. Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahjjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker.
Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.
"Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah", (Q.S Al-Kautsar:2) Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya.
Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ??????? Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga
tidak dapat diterima oleh akal fikiran.

Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Quran" Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran.
Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya. Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah.

Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja.
Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang di wajibkan oleh Islam.
Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal.

Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.
Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi lagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal.
Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

"Anda ingin beramal shaleh...?
Tolong kirimkan kepada rekan-rekan muslim lainnya yang anda kenal."
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran 104:105)

Wednesday, July 2, 2008

ZUHUD


Zuhud itu ada 10 perkara dan setinggi-tinggi darjat zuhud sama dengan serendah-rendah darjat wara'; setinggi-tinggi darjat wara' sama dengan serendah-rendah darjat yaqin; Setinggi-tinggi darjat yaqin sama dengan serendah-rendah darjat redha; Ketahuilah, sesungguhnya zuhud itu terdapat dalam suatu ayat dalam Kitabullah iaitu firman-NYA:'... supaya kamu jangan berduka-cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-NYA kepadamu.':: Jika kalian melihat orang yang baik dalam bertutur-kata, gerak-geri dan perilakunya dengan logika yang merendah-rendah diri; Maka, berhati-hatilah jangan sampai kalian terperdaya olehnya; Sebab, banyak sekali orang yang tidak mampu memperoleh dunia dengan jalan haram disebabkan oleh kekecilan nyali dan kelemahan serta kepengecutannya; Maka, ia lalu menggunakan agama sebagai kedok untuk menipu orang dengan perilaku lahiriahnya; Tetapi, begitu mendapatkan kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang haram, segera ia meloncat menerkamnya.:: Selanjutnya, jika kalian melihat orang yang menahan diri dari harta yang haram; Berhati-hatilah jangan sampai kalian tertipu; Sebab, hawa nafsu perilaku itu bermacam-macam; Banyak sekali orang yang menolak barang yang haram, tapi nafsunya membawanya kepada syahwat yang menjijikkan yang dilampiaskannya dengan cara yang haram.Adapun, jika kalian melihat orang yang menjauhkan diri dari perilaku yang demikian itu; Maka, tetaplah berhati-hati jangan sampai kalian tertipu; Sampai kalian melihat keyakinan orang yang dianut akalnya; Sebab, banyak orang yang meninggalkan semua keburukan diatas, tapi tidak mahu berpegang pada akal yang kuat; Akibatnya, kerosakan yang ditimbulkan oelh kebodohannya jauh lebih besar dari kebaikan yang diperolehinya dengan kepandaiannya yang sedikit.:: Begitu pula, jika kalian melihat orang yang kuat logikanya; Berhati-hatilah jangan sampai kalian tertipu olehnya; Sampai kalian melihat, apakah akalnya yang mengendalikan hawa nafsunya ataukah hawa nafsunya yang menunggangi akalnya; Bagaimana kecintaannya terhadap kepemimpinan yang batil atau ketidak-inginannya terhadapnya; Sebab, di antara manusia ada yang merugi dunia dan akhirat; Ia meninggalkan dunia demi untuk memperoleh dunia dan menganggap bahawa kenikmatan menguasai kepemimpinan yang batil lebih utama dari menikmati harta benda dan kenikmatan yang mubah dan halal itu demi untuk menguasai kepemimpinan kebatilan hingga, manakala dikatakan kepadanya,"Takutlah kamu kepada ALLAH." Ia malahan semakin kukuh berpegang pada dosanya; Maka, cukuplah neraka Jahannam baginya dan itulah seburuk-buruk tempat kembali; Ia terjerumus secara membuta; Awal kebatilannya membawanya kepada hujung kerugian terjauh; Ia terbawa jauh oleh upayanya untuk memperoleh apa yang tidak dapat diperolehnya dengan cara melanggar hak sesamanya; Ia menghalalkan apa yang diharamkan ALLAH Azza Wa Jalla dan mengharamkan apa yang dihalalkan-NYA, tidak peduli terhadap sesuatu yang hilang dari agamanya jika kepadanya diserahkan kekuasaan yang ingin diperolehnya demi kekuasaan itu sendiri; Mereka itulah orang-orang yang dimarahi dan dilaknat ALLAH Azza Wa Jalla dan disediakan-NYA bagi mereka azab yang menghinakan.Yang sesungguhnya lelaki iaitu sebaik-baik lelaki adalah orang yang menjadikan hawa nafsunya tunduk mengikuti perintah ALLAH Azza Wa Jalla dan kekuatannya digunakan untuk melaksanakan ketetapan-NYA; Ia menganggap bahawa kehinaan dalam kebenaran adalah lebih dekat kepada kehormatan abadi daripada kehormatan dalam kebatilan; Ia tahu bahawa sedikitnya harta yang dimiliki dalam kesempitan hidupnya akan membawa kepada kenikmatan lestari di negeri yang tidak akan binasa serta tidak akan lenyap dan bahawa banyaknya harta yang dapat diperoleh dengan jalan mengikuti hawa nafsu akan membawanya kepada seksa yang tidak akan terputus atau hilang; Inilah manusia sejati, berpeganglah padanya dan ikutilah jalan hidupnya dan ber[wasilah]lah kepada Tuhanmu dengannya sebab doanya tidak akan ditolak dan usahanya tidak merugi.:: Apa akal itu; Bagaimana kedudukannya; Apa yang boleh dicapainya dan apa yang tidak dapat dicapainya serta apa pula tahapan-tahapannya? :::: Sesungguhnya akal itu adalah ikatan yang mencegah kebodohan. Hawa nafsu adalah bagaikan binatang yang paling bodoh. Jika tidak diikat, ia akan tersesat. Oleh sebab itu, akal merupakan ikatan yang dapat mencegah manusia dari kebodohan. ALLAH Azza Wa Jalla yang menciptakan akal itu berkata kepadanya: 'Majulah! Lalu, ia maju; Dan berkata lagi: 'Mundurlah! Maka, mundurlah ia.ALLAH Azza Wa Jalla berkata: 'Demi keagungan dan kemuliaan-KU; Sebenarnya, AKU tidak menciptakan makhluk yang lebih mulia dan lebih taat daripadamu. Keranamu, AKU memulai ciptaan dan keranamu pulalah AKU mengakhirinya. Bagimulah pahala dan akan menimpamu pula seksaan.':: Dari [akal] muncul kerendahan hati; Dari kerendahan hati, lahir pengetahuan; Dari pengetahuan, lahir sikap konsisten pada kebaikan; Dari sikap konsisten pada kebaikan, lahir kesucian diri; Dari kesucian diri, lahir penjagaan; Dari penjagaan, lahir rasa malu; Dari rasa malu, lahir keteguhan; Dari keteguhan, lahir sikap untuk selalu berbuat baik; Dari sikap untuk selalu berbuat baik, lahir sikap membenci kejahatan; Dan dari sikap membenci kejahatan, lahir sikap untuk selalu menaati pemberi nasihat.:: [Inilah sepuluh bentuk dari sekian macam kebaikan dari tiap-tiap satu dari sepuluh itu lahir sepuluh bentuk kebaikan lagi]- yakni:Dari [kerendahan hati] lahir rasa suka pada keindahan, bergaul dengan kebaikan, menghilangkan kesusahan, menangkis kehinaan, cinta pada kebaikan, dekat dengan orang-orang yang mempunyai darjat yang tinggi, rasa pemaaf, kasih sayang, suka pada kebajikan dan diam diri. Sikap inilah yang lahir pada orang yang berakal dari sikap rendah diri.:: [Pengetahuan] akan melahirkan rasa kaya sekalipun fakir, pemurah sekalipun pelit, disegani sekalipun hina (kecil), sejahtera sekalipun sakit, dekat sekalipun jauh, malu sekalipun tidak mempunyai apa-apa, tinggi sekalipun rendah, mulia sekalipun hina, bijaksana dan beruntung. Inilah yang akan lahir pada orang yang mengamalkan ilmunya. Maka, berbahagialah orang yang berakal dan berilmu.:: Dari adanya [sikap konsisten pada kebaikan] lahir selalu berkata benar, selalu melaksanakan petunjuk, selalu berbuat kebajikan, selalu bertakwa, suka menerima kebaikan, selalu berniat baik, selalu hemat, selalu mendapat balasan baik, selalu dimuliakan dan mengetahui agama ALLAH dengan baik. Inilah yang akan dilahirkan oleh orang yang mempunyai sikap konsisten pada kebaikan. Maka, berbahagialah orang yang mampu menegakkannya pada jalan yang benar.:: Dari [sikap pemurah] lahir rasa rela, ketenangan, keberuntungan, santai (tidak teburu-buru), keutamaan, kekhusyu'an, selalu ingat (zikir), merenung, peramah dan dermawan. Inilah yang akan lahir pada orang yang berakal dengan rasa pemurahnya, selalu rela atas keputusan dan pembahagian ALLAH.:: Dari [penjagaan] lahir perdamaian, kerendahan hati, sifat wara' (tidak suka hal-hal yang syubhat, apalagi yang haram), mahu bertaubat, kefahaman, kesopanan, sikap untuk selalu berbuat baik, kecintaan serta tidak suka melontarkan kesalahan kepada orang lain. Inilah yang akan dilahirkan orang yang berakal dari sikap menjaga dirinya. Maka, berbahagialah orang yang memuliakan dan menjunjung tinggi sikap tersebut.:: Dari [rasa malu] lahir kelemah-lembutan, kasih sayang, sikap selalu mendekatkan diri kepada ALLAH (baik dalam keadaan sepi mahupun ramai/selamat) serta menjauhi kejahatan. Inilah yang akan dilahirkan oleh orang yang berakal dengan rasa malunya. Maka, berbahagialah orang yang menerima nasihat ALLAH dan takut kepada kejahatan.:: Dari [keteguhan] lahir lemah-lembut, ketegaran, ketegasan, melaksanakan amanat serta meninggalkan khianat, jujur, mampu menjaga kemaluan, mempergunakan harta demi kemaslahatan, selalu siap menghadapi musuh, mencegah kemungkaran dan meninggalkan penipuan. Inilah yang akan dilahirkan oleh orang yang berakal dengan keteguhan hatinya. Maka, berbahagialah orang yang mempertebal keteguhan hatinya dan tidak pernah tampak remeh serta bodoh, selalu pemaaf dan ramah.:: Dari [ketekunan untuk selalu berbuat baik] lahir sifat meninggalkan kekejian, menjauhi kecurangan serta menyulitkan orang, cinta pada keselamatan serta taat pada Yang Maha Pengasih, menjunjung tinggi dalil dan bukti, menjauhi syaitan, menjawab dengan adil dan selalu berkata benar. Inilah yang akan dilahirkan oleh orang yang berakal bila teguh pada kebaikan. Maka, berbahagialah orang yang selalu ingat terhadap apa yang akan terjadi padanya di masa akan datang (akhirat) dan saat ia dibangkitkan serta berfikir tentang fana.:: Dari [kebencian pada kejahatan] akan lahir kemuliaan, kesabaran, kemenangan, istiqomah (konsisten) pada jalan yang ditempuhinya, selalu mengikuti petunjuk, iman kepada ALLAH, banyak berbuat baik, ikhlas dalam segala perbuatan, meninggalkan apa yang tidak berguna dan memelihara apa yang bermanfaat bagi dirinya. Inilah yang akan lahir dari orang yang berakal bila sikap kebenciannya pada kejahatan. Maka, berbahagialah orang yang menegakkan kebenaran ALLAH dan berpegang teguh pada tali ALLAH yang kuat.:: Dari [ketaatan kepada yang memberi nasihat] lahir kemampuan akalnya akan bertambah, hati nuraninya akan lebih sempurna, terpuji pada akhirnya, selamat dari celaan, mempunyai sikap adaptasi dan rasa simpatik, menjadi pelita bagi orang lain, memelopori untuk membentuk orang lain menjadi baik, maju dalam segala persoalan dan teguh hati untuk taat kepada ALLAH. Maka, berbahagialah orang yang selamat dari pergolakan hawa nafsu.[Semuanya sifat-sifat tersebut bersumber dan lahir dari akal].:: Apa tanda-tandanya orang bodoh? ::Kalau kamu menemaninya, ia memperhatikan kamu. Tetapi kalau kamu menjauhinya, ia mencacimu; Bila ia memberimu, ia akan menyebut-nyebutnya dan bila kamu memberinya, ia mengingkarimu; Bila ia menyimpan rahsianya kepadamu, ia menuduhmu dan bila diperlukan, ia congkak dan keras kepala; Bila memerlukan, ia mengingkari nikmat ALLAH dan tidak mahu bersusah payah; Bila mendapatkan kegembiraan, ia berfoya-foya dan berlebih-lebihan; Bila sedih, ia putus asa dan bila tertawa, ia terpingkal-pingkal; Bila menangis, ia seakan-akan menjadi orang yang baik; Ia tidak mencintai ALLAH, tidak pula berusaha untuk mendekati-NYA dan tidak malu kepada-NYA. Bila kamu rela (suka), ia memujimu. Lalu berkata,"Hanya pada kamu sajalah adanya kebaikan, bukan pada yang lain." Bila marah kepadamu, ia menarik semua pujian yang dilontarkannya untukmu dan mengatakan bahawa,"Kejelekan itu hanya ada pada dirimu, tiada pada orang lain." Begitulah, sikap-sikap dan tanda-tanda orang bodoh.[Tanda-tanda Islam iaitu iman, ilmu dan amal].:: Apa tanda-tandanya iman, ilmu dan amal?[Tanda-tanda iman] itu ada empat: Berikrar terhadap keesaan ALLAH Azza Wa Jalla, mempercayai-NYA, beriman kepada kitab-kitab-NYA dan beriman kepada rasul-rasul-NYA.:: Sedangkan [tanda-tanda ilmu] juga ada empat: Mengenal ALLAH Azza Wa Jalla serta apa yang disukai-NYA, mengetahui kewajiban-kewajibannya dan menjaganya sampai ia melaksanakannya.Sedangkan [tanda-tanda amal] adalah menegakkan sholat, melaksanakan puasa, zakat dan ikhlas.

Wednesday, June 18, 2008

CAHAYA HATI



Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh, Hamdan li Robbin Khosshona bi MuhammadinWa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiriAlhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaaShollallahu wa sallama wa baarok’alaihAlhamdulillahilladzi jam’anaa fi hadzalmahdhor, Limpahan puji kehadirat Allah, dengan terpanggilnya jiwa untuk menyebut nama Allah, limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi, yang selalu mengizinkan bibir pendosa untuk terus menyebut nama Allah, mengizinkan jiwa yang penuh kegelapan dan kesalahan untuk memanggil namanya, untuk meminta pengampunan, dan pengampunannya adalah gerbang terluas di alam semesta, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, melebihi semua pemilik sifat kasih sayang, Allah, Allah SWT Maha mendahului hajat dan kebutuhan hambanya untuk melewati kehidupan, sebelum hambanya meminta
Kedermawanan Ilaahi yang tertutup dengan tabir-tabir yang tiada akan terbuka terkecuali bagi mereka yang mempelajarinya, bahwa didalam kehidupannya, didalam menopang hari-harinya, ia membutuhkan bantuan dari Allah siang dan malam setiap waktu dan kejap, bantuan terus mengalir dari gerbang kedemawanan-Nya SWT, dan hamba-hambanya terus melupakannya dan berpaling dari kelembutan-Nya, demikian kasih sayang Ilaahi yang melebihi segenap kasih sayang, yang keindahan-Nya adalah awal dari segala keindahan, yang dengan mengingat dan merindukan-Nya terangkatlah derajat dan berjatuhanlah dosa-dosa, cahaya bulan purnama yang demikian indah, yang itu adalah mengambil dari rahasia cahaya keindahan Allah ”yaktabisul-badru min sanaahu” dan bulan purnama itu mengambil dari cahaya keindahan Robbul’alamin, demikian indahnya Allah SWT, menyinari jiwa hamba-hambanya yang merindukan-Nya.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Sungguh kedatangan sang Nabi pembawa rahmat adalah menuntun kita kepada kesejahteraan dunia dan akhirat, bimbingan yang paling sempurna, yang dengan itu membuka rahasia kedermawanan Ilaahi, membuka rahasia keluasan kebahagiaan yang milik Allah, yang Maha mampu merubah kejadian dan keadaan, yang Maha berkuasa dalam setiap tempat dan keadaan, Allah.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Ingin saya sampaikan sedikit, ketika salah seorang saudara kita, mengadakan satu tes percobaan, ia menaruhkan dua buah gelas yang berisi nasi yang sudah matang, yang satu ditutup, ditaruh ditempat terpisah, diucapkan padanya ucapan yang baik-baik, kasih sayang, terima kasih dan lain sebagainya dari ucapan baik, yang satu lagi diisi nasi yang sama, ditutup dan ditaruhkan ditempat yang terpisah dan diucapkan padanya caci maki, ucapan-ucapan buruk, umpatan, cacian, maka dilihat setelah satu minggu, terlihatlah gelas yang terisi nasi yang diucapkan padanya kalimat-kalimat indah, tetap pada posisinya tidak berubah, tapi yang dicaci maki dan diumpat, berubah menjadi hitam, sebagian membusuk dan basi, sangat busuk baunya, demikian percobaan yang bisa kalian coba dirumah kalian masing-masing, disinilah kita memahami bahwa ucapan-ucapan, emosi dan reaksi jiwa keturunan Adam mempengaruhi alam semesta, hal ini telah ditemukan sebelumnya oleh Prof. Masaru Emoto pada air, telah saya jelaskan beberapa hari yang lalu, dan sekarang percobaan itu bisa diuji oleh siapapun, betapa benda-benda mati itu berubah menjadi lebih buruk dengan ucapan umpatan dan caci maki dan dosa tentunya, sedangkan ucapan-ucapan baik malah mengawetkan nasi tersebut hingga bertahan seminggu belum berubah warnanya.
Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Ketika salah seorang isteri sang Nabi, terlepas ucapannya menghina seorang wanita, dengan mengatakan dia itu pendek, maka berkata Rasul, ucapanmu itu, umpatanmu yang kau tidak sadari itu, jika ditaruhkan dilautan, akan berubah lautan itu warnanya, berubah menjadi air yang busuk dan menjijikkan, satu ucapan umpatan keturunan Adam, kita berkata; barang kali hal itu hanyalah tahdzir, hanya peringatan, ternyata benar, umpatan dan cacian merubah benda-benda, menjadi lebih buruk dan lebih busuk dan menjijikkan, menunjukkan perbuatan keturunan Adam sebagai khalifah berpengaruh di alam semesta.
Demikian hadirin hadirot, bagaimana dengan jiwa kita, makanan kita dan rumah kita dan harta kita dan rumah tangga keluarga kita, yang dipenuhi dengan dosa-dosa ini, bagaimana rumah kita yang sepi dari kalimatullah, sepi dari al-Quranul karim, rumah-rumah kita terus senang diperdengarkan ucapan-ucapan orang-orang yang tidak pernah mengenal Allah, ketika ia mencari ketenangan, ia cari wajah orang-orang yang tidak pernah sujud kepada Allah, ia melihatnya dan jiwanya tenang, jika ia dalam keadaan sumpek dan gundah, dicari suara orang-orang yang tidak pernah menyembah Allah, dengan itu ia mencari ketenangan, bukankah ini merupakan satu hal yang membuat kita semakin terpuruk, dalam kesialan, kesulitan, kegundahan, permasalahan.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Telah jelas benda-benda ini berubah dengan dosa-dosa keturunan Adam, dan juga dengan pahala amal ibadah mereka, maka kita mesti memahami untuk semakin merujuk diri kita, memperindah diri kita dengan tuntunan manusia yang membawa seindah-indah tuntunan, sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih, sebagaimana munajat-munajat yang keluar dari sanubari beliau, muncul dari bibir beliau, menuntun keturunan Adam kepada kedekatan kehadirat Ilaahi, menuntun mereka kepada puncak kemuliaan, sampailah kita di malam hari ini, kepada sayyidul istighfar, raja dari semua istighfar, dimana Rasul SAW mengajarkan, ucapan-ucapan yang dipenuhi asmara dan cinta kepada Allah, ucapan-ucapan indah yang membuka rahasia kebahagiaan yang kekal, Allahumma anta Robbii, Robbii, apa artinya Robb? Mempunyai tiga makna artinya Robb, malik yaitu raja, maalik dan yang memiliki, yang ketiga Robb itu adalah yang mengasuh, yang mengasuh semua hambanya, yang mengasuh mereka dari sejak mereka di alam rahim hingga mereka wafat.
Allah yang mengasuhnya dengan alam semesta, maka ketika kita memanggil Allahumma anta Robbii, wahai Allah Engkaulah yang memiliki diriku, memang tidak ada manusia yang memiliki dirinya sendiri, karena dia tidak pernah membeli dirinya sendiri dari siapapun, tidak pernah pula bisa menciptakan dirinya sendiri, dirinya sendiripun milik Allah, orang yang memahami kelembutan dan keindahan Allah semakin gembira jika mengingat ini, ternyata diriku ini milik-Mu wahai yang Maha Pengampun, ternyata diriku ini adalah milik-Mu wahai yang Maha Dermawan, wahai yang Maha berkasih sayang, berarti aku ini dekat dan Kau telah mengenalkan diri-Mu al-qorib, yang Maha Dekat.
Allahumma anta Robbii, wahai yang memilikiku, wahai Allah Engkaulah yang memiliki aku, Engkaulah yang memelihara aku, “laa ilaaha illa anta” tiada Tuhan selain-Mu, kholaktanii; Engkaulah yang menciptakan aku, kita renungkan ini kalimat-kalimat, akan mengalir air mata kerinduan terhadap indahnya dan kasih sayang Allah kepadamu, betapa indahnya hubungan kita dengan Allah, anta Robbii kholaktanii wa ana ‘abduka, aku ini hamba-Mu, indah sekali ini percakapan sang Nabi kepada Allah, yang diajarkan kepada kita, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, dan aku ini dalam janji kepadamu dan dalam perjanjian yang harus ku selesaikan dan harus ku tunaikan “mastatho’tu” tapi segenap kemampuanku, barangkali ada kelemahanku dalam menjalankan janji setiaku, dalam kalimat “laa illaa ha illallah” maafkan aku, lalu apa wahai sang Nabi, wahai sang pemilik jiwa terindah, wahai yang seindah-indah mengajarkan doa, “a’uudzubika min syarri maa shona’tu” aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang kuperbuat.
Perbuatan buruk itu hadirin, banyak efeknya, Rasul berlindung kepada Allah dari pada efek setiap perbuatan buruk, pertama dosa, menjauhkan kita dari Allah, menjauhkan kita dari keluasan rizki, menjauhkan kita dari surga, menjauhkan kita dari pengabulan doa, menyempitkan jiwa kita, karena semakin banyak dosa, semakin gelap jiwa ini, “a’uudzubika min syarri maa shona’tu” aku berlindung dari buruknya apa yang kuperbuat, sudah ia jadikan Allah membentengi semua keburukan apa yang ia perbuat, dengan itu ia membuka pengampunan Ilaahi, dengan itu dia meminta terbukanya dirinya dari segala yang menutupnya sebab dosa-dosanya, ketika semua perbuatan buruknya itu ia rindukan kepada Allah, maka tidak akan membawa mudharat baginya dunia dan akhirat, “abuu,u laka bi ni’matika ‘alayya” dan aku ini tahu wahai Allah betapa nikmat yang Kau limpahkan kepadaku, “wa abuu-ulaka bi dzanbii” dan aku tahu bagaimana dosa-dosaku, lalu apa wahai Robb, lalu apa wahai sang Nabi yang mengajarkan kami doa-doa yang indah, “faghfirlii” baru minta ampunan dosa, dari tadi adalah ucapan-ucapan yang menghubungkan cintanya dengan Allah, menunjukkan betapa besar harapan kita kepada Allah, baru setelah itu kembali kepada hajat yang dibutuhkan “faghfirlii” satu kalimat singkat yang bila Allah berikan, selesai sudah permasalahan kita dunia dan akhirat.
Hadirin, jika masih ada satu dosa kita yang belum Allah ampuni, belum akan kita menginjak surga, lalu dimana tempat kita? kalau masih ada satu dosa yang terkecil, yang masih belum Allah maafkan, tidak akan sampai kita kedalam surga-Nya Allah SWT, lalu dengan apa? dengan pengampunan, bagaimana caranya? doa yang diajarkan sang Nabi, salah satu pintu menuju pengampunan Ilaahi, “fainnahuu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta” sungguh tidak ada yang bisa memberikan pengampunan terkecuali Engkau wahai Allah, wahai penciptaku, wahai yang memiliki diriku, wahai yang aku adalah hamba-Mu, wahai yang menciptakan kerajaan langit dan bumi, wahai yang mencipta hewan dan tumbuhan, wahai yang mencipta bumi dan langit, wahai yang mencipta surga dengan segala keindahan, wahai yang mengundang keturunan Adam untuk sampai kepada istana-istana yang kekal dan abadi, Allah.
Demikian indahnya dan mesranya hubungan sang Nabi kepada Allah, dan ini diajarkan sang Nabi kepada kita, seraya bersabda: “barang siapa yang mengucapkan ucapan ini “muuqinan bihaa” dengan ucapan yang giat, dalami maknanya, bukan hanya sekedar asal ucap, tapi ia dalami maknanya, ia membacanya diwaktu siang hari disuatu hari, maka Allah “ketika ia wafat, sebelum terbenam matahari ia wafat”, maka ia akan masuk ke dalam surga-Nya Allah” jika ia membacanya dimalam hari, lalu ia wafat sebelum terbit matahari, Allah menjadikannya ahli surga juga, kenapa? kita lihat betapa cepatnya pengampunan Allah dan rahmatnya Allah datang dengan istghfar ini, bukan tunggu 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, untuk masuk kedalam surga jika ia wafat, jika ia wafat dihari itu, ia sudah masuk kedalam surganya Allah SWT, lalu mana amalnya? lalu mana ibadahnya?
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, ucapan-ucapan seperti ini, yang didalami makna kedalam hati kita, akan membangkitkan seluruh keinginan kita untuk melakukan hal-hal yang menjadi perintah Allah dan mempermudahnya, membuat jiwa kita selalu ingin berbuat yang taat, membuat jiwa kita selalu enggan berbuat dosa, hingga jika ia wafat, Allah sudah pastikan ia ahli surga, ini ucapan singkat, berapa detik tadi kalau kita baca, tadikan kita bicara bagaimana nasi saja berubah menjadi buruk kalau dicaci maki, benda-benda, barangkali rumah kita, rumah tangga kita, harta kita, pekerjaan kita ini, barangkali penuh cacian, penuh sangka buruk, penuh perbuatan yang buruk, sangka buruk pada makhluk, sangka buruk pada Allah, dusta dan lain sebagainya, menjadi buruklah kehidupan kita, tapi dengan kalimat-kalimat pendek ini, kesemuanya rata dengan rahmat Ilaahi Jalla wa ‘ala, tuntunan Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak ‘alaih.
Berubah keadaan yang demikian buruk menjadi keadaan yang paling indah, adakah lagi keadaan yang lebih indah selain wafat dijamin surga oleh Nabi Muhammad SAW, inilah, merubah keadaan yang demikian buruk menjadi hari yang indah sepanjang hari, dibaca dimalam hari menjadi malam yang indah sepanjang malam, demikianlah tugas rahmatan lil’alamiin sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih, seraya bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori: “wallah inni la astaghfirullah wa atuubu ilaih fil-yaumi aktsar min sab’iina marroh” demi Allah, aku beristighfar kepada Allah SWT dalam satu hari dan bertaubat kepada Allah lebih dari 70 kali setiap harinya” ini orang yang ma’sum, yang tidak mempunyai dosa, yang tidak pernah berbuat kehinaan dan kesalahan, hadirin hadirot kita bertanya, bagaimana terhadap diri kita? kenapa sang Nabi beristighfar dan bertaubat, karena beliau tahu betapa indahnya anugerah Allah pada orang yang beristighfar dan bertaubat, oleh sebab itu beliau ingin dalam kelompok mereka, padahal beliau sudah orang yang paling mulia, tapi beliau tahu betapa agungnya kemuliaan orang-orang yang bertaubat dan beristighfar, jangan tertipu dengan bisikan syaithon yang berkata; hati-hati taubat nanti kau berdosa lagi, kau berarti khianat pada taubatmu, hadirin itu bisikan syaithon, karena ketika kita bertaubat, kita meminta kekuatan kepada Allah, Robbi aku telah banyak berbuat dosa, mungkin besok berbuat lagi, tapi aku tidak mau menunda taubatku dan aku ingin sekarang aku bertaubat, beri aku kekuatan jika seandainya aku terjebak lagi dalam dosa, beri aku kekuatan untuk bertaubat lagi, Allah tidak bosan dengan perbuatan taubat, Allah tidak akan pernah bosan, kitalah yang akan bosan, orang berkata; percuma taubat lagi, nanti ma’siat, taubat lagi, tidak percuma demi Allah.
Allah SWT berfirman didalam hadits qudsi riwayat Shohih Muslim: ketika Allah melihat seorang hambanya berbuat dosa, lalu ia memohon ampun dan taubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, bukan taubat main-main, maka Allah SWT berkata; hambaku telah berbuat dosa dan ia tahu Tuhannya Maha Pengampun Ku ampuni dosanya, ia berbuat dosa lagi setelah taubatnya, lalu ia taubat lagi, Allah jawab lagi; hambaku ia tahu memiliki Tuhan yang Maha Pengampun, Ku ampuni dosa-dosanya, karena apa? karena jiwa yang betul-betul bertaubat kepada Allah SWT, berkali-kali pun, “innallaha la yamil innakum antum tamilluu” au kama qol, riwayat Shohih Bukhori; “sungguh Allah itu tidak pernah bosan tapi kalianlah yang akhirnya menemui kebosanan”
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Nabi kita ini seindah-indahnya manusia, kenali ajaran beliau, kenali ucapan-ucapan beliau, akan merubah keadaan kita semakin indah, semakin sejahtera, semakin bahagia.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah. Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori Rasul SAW berdoa, salah seorang shahabat mendengar doa sang Nabi dimalam hari, ketika beliau selesai melakukan sholat qobliyah shubuh, beliau berdoa sebelum melakukan sholat shubuh, apa doanya: “Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo, wa fii bashorii nuuroo, wa fii sam’ii nuuroo, wa an yamiinii nuuroo, wa an yasaarii nuuroo, wa amamii nuuroo, wa kholfii nuuroo, wa fauqii nuuroo, wa tahtii nuuroo” demikian riwayat Shohih Bukhori, dan lafadznya berbeda-beda dalam riwayat ini.
Ada beberapa riwayat, dan Imam Bukhori menukil lagi salah satu dari riwayat lain, dalam hadits yang sama, Rasul menyebut: wa fii damii nuuroo, wa fii basyarii nuuroo, wa fii ‘ashobii nuuro, wa fii sya’rii nuuroo”, yaitu doanya apa, Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo” wahai Allah jadikanlah didalam hatiku cahaya, Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo” jadikanlah didalam jiwaku cahaya, cahaya apa? cahaya Allah yang menerbitkan seluruh kebahagiaan, yang menerangi seluruh keadaan, yang meruntuhkan segala dosa, yang membuka seluruh rahmat dunia dan akhirat, cahaya Allah, beliau meminta agar Allah menerangi jiwa beliau padahal jiwa beliaulah yang paling terang benderang dengan cahaya Allah, demikian beliau berdoa; Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo, cukupkah? belum cukup, “wa fii bashorii nuuroo” dan dipenglihatanku cahaya, ”wa fii sam’ii nuuroo” dipendengaranku cahaya, , “wa an yamiinii nuuroo, wa an yasaarii nuuroo” dan jadikan cahaya di kananku, cahaya di kiriku “wa amamii nuuroo, wa kholfii nuuroo, didepanku cahaya, dibelakangku cahaya, “wa fauqii nuuroo, wa tahtii nuuroo” diatasku cahaya, dibawahku cahaya” dan diriwayatkan didalam riwayat lain beliau menyebut, wa fii damii nuuroo, wa fii basyarii nuuroo, wa fii ‘ashobii nuuro, wa fii sya’rii nuuroo, jadikan cahaya di darahku, jadikan cahaya di tulang-tulangku, jadikan cahaya diurat-urat tubuhku, jadikan cahaya dirambutku, jadikan cahaya pada darah dan kulit dan dagingku, waj’alnii nuuroo” jadikan untukku cahaya, demikian indahnya lantunan doa dari jiwa yang paling bercahaya dan terang benderang, sayyidina Muhammad SAW, demikian doa beliau sebelum terbitnya matahari, matahari yang terbit membawa cahaya dimuka bumi, beliau telah meminta cahaya menerangi jiwanya, menerangi panca inderanya, menerangi seluruh tubuhnya, warisi kemuliaan sunnah sayyidina Muhammad.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Rasul SAW mu’jizatnya tetap tidak akan pernah berhenti, sunnah-sunnah beliau adalah rahasia mu’jizat beliau, hidupkan rahasia mu’jizat itu di dalam hari-hari kita, karena sunnah beliau juga adalah mu’jizat sang Nabi, sedemikian banyak sunnah-sunnah beliau membawa keberkahan dunia dan akhirat, itupun mu’jizat beliau, oleh sebab itu, kita bukan orang yang bisa mempunyai mu’jizat, tetapi warisi mu’jizat sang Nabi pada sunnah-sunnah beliau, kita akan lihat bagaimana perbedaannya orang yang meminta kepada Allah dengan sunnah sang Nabi, meminta cahaya dihatinya, meminta cahaya dipanca inderanya, meminta cahaya diseluruh sel tubuhnya, meminta cahaya pada darahnya, pada seluruh apa-apa yang ia miliki pada tubuhnya, kiri kanan, atas bawah, dan diberikan padanya cahaya, inilah doa yang diajarkan Nabimu.
Hadirin hadirot, betapa ruginya kita yang tidak mau mewarisi cahaya yang dibawakan oleh sang Nabi, doa ini digelari oleh para ulama, doa cahaya, inilah doa dari yang paling indah, dari sang Nabi meminta cahaya kepada Allah SWT.Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Rasul SAW adalah sosok manusia yang paling ramah dan paling indah, semua tuntunan beliau membawa keberkahan, beliau, perlu saya sampaikan juga bahwa hal yang sunnah bagi setiap orang itu merubah namanya, jika namanya mempunyai makna yang kurang baik, jika namanya maknanya sudah baik tidak perlu dirubah, tapi kalau namanya bermakna kurang baik, sunnah dirubah.
Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, Rasul SAW, menemui salah seorang yang berkata; namanya Huzn artinya sedih, namanya sedih, Rasul SAW berkata ; “bal anta sahl” engkau ini jangan Huzn namamu, tapi Sahl, sahl itu indah dan mudah, ganti namamu dengan indah dan mudah, “sahl atau sahlun”, orang itu belum mengerti makna mu’jizat sunnah sang Nabi, seraya berkata; aku tidak mau mengganti nama yang sudah diberikan oleh ayah ibuku, salahnya, ketaatannya kepada ayah ibu itu benar, tapi kalau sudah perintah sang Nabi, Nabi mengatakan padanya ganti namamu dengan “Sahlun” mudah dan luas, ia tetap berkata; aku tidak mau menganti nama yang telah diberikan oleh ayah ibuku, maka berkata Anas bin Malik; sepanjang usia orang itu dirundung kesedihan hingga ia wafat, kenapa? karena ia mengingkari hal-hal yang telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW, sepanjang usianya hingga ia wafat ia dirundung kesedihan.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Rasul SAW bersabda: “sammu bi ismii wa laa ta,tanuu bi qudyatii” kalau mau beri nama, beri nama seperti namaku kata Rasulullah, (Muhammad) wa laa ta,tanuu bi qudyatii” jangan pakai gelar yang diberikan kepadaku yaitu (Rasulullah SAW), didalam riwayat lain (Abu Qosim), tapi yang disunnahkan menamai dengan nama beliau SAW, semampu kita, jika punya keturunan atau teman yang ingin mempunyai keturunan, ingat sunnah sang Nabi, warisi keberkahan nama Muhammad SAW.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Kita bermunajat kepada Allah SWT, semoga Allah SWT membangkitkan rahasia kemuliaan dalam diri kita, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali wal-Ikrom, kami bermunajat kepada-Mu demi kebangkitan muslimin muslimat, untuk lebih banyak lagi yang mencintai sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW, Ya Robb kami mengadukan kepadanya gelapnya hari-hari kami dengan kesulitan, dengan dosa, dengan kegundahan, dengan kesedihan, gantikan dengan cahaya kebahagiaan.
Ya Rahman malam hari ini kami mendengar betapa indahnya doa istighfar, malam ini kami mendengar betapa indahnya doa cahaya, maka Robbi Robbi terangi jiwa kami dengan cahaya, terangi penglihatan kami dengan cahaya, terangi pendengaran kami dengan cahaya, terangi depan kami dengan cahaya, terangi belakang kami dengan cahaya, terangi seluruh penjuru kami dengan cahaya, terangi darah kami dengan cahaya, terangi tulang tubuh kami dengan cahaya, terangi pemikiran kami dengan cahaya, terangilah hari-hari kami dengan cahaya, Ya Rahman cahaya keindahan-Mu, wahai yang menamakan diri-Mu An-Nuur, Maha Bercahaya, terangilah hari-hari kami, terangilah sakaratul maut kami, terangi kubur kami kelak, dan bangkitkan kami di yaumil qiyamah bersama yang terang benderang, bersama orang-orang yang bersama Rasulullah, sebagaimana firman-Mu: “yauma laa yukhzillaahunnabiy walladziina amanuu ma’ahuu nuuruhum yas’a baina aidiihim wa bi aimaanihim” hari dimana Allah tidak mengecewakan sang Nabi, hari kiamat Allah tidak akan membuat beliau sedih, tidak akan pula mengecewakan para pengikutnya “walladziina amanuu ma’ahuu nuuruhum yas’a baina aidiihim” cahaya mereka menerangi seluruh tubuh mereka, menerangi depan belakang mereka, demikian keadaan orang-orang yang bersama Rasulullah kelak.
Robbi pastikan nama kami tertulis bersama mereka, pastikan wajah kami bercahaya terang benderang di yaumil qiyamah, sebagaimana firman-Mu: “wujuuhuyyaumaidzin naadhiroh, ilaa robbiha naazhiroh” wajah-wajah yang terang benderang bercahaya kata Allah di yaumil qiyamah, “ilaa robbiha naazhiroh” memandang kepada Tuhannya yang Maha bercahaya, Robbi pastikan wajah kami bercahaya dan memandang indahnya cahaya-Mu ya Allah, Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali wal-Ikrom Ya Dzathouli wal-in’am, hadirin hadirot, disaat Allah mengumpulkan mu’minin mu’minat, Allah membukakan dan menyikap cahaya keindahan Dzat-Nya, maka mereka semua bersujud kehadirat Allah, Allah SWT katakan kepada mereka: idfau’ ru,uusakum ‘ibaadii undzuru ilaiha” angkat kepala kalian dari sujud kalian wahai hamba-hamba-Ku, pandanglah keindahan Dzat-Ku, disaat itu semoga nama kita akan bersama mereka yang memandang indahnya Allah, amin Allahumma amin.
Hadirin hadirot, disaat jiwa manusia yang terakhir keluar dari api neraka, tidak ada lagi orang lain yang keluar dari api neraka terkecuali dia yang terakhir, entah ratusan ribu tahun ia melewati gelapnya api neraka, merintih , mati, dan dihidupkan kembali dengan kulit yang baru, terbakar dan hangus lagi dan lagi dan lagi, entah ratusan ribu tahun ia dikeluarkan, dan Allah memperlihatkan keindahan Dzat-Nya kepada hamba ini, lalu ia ditanya; pernahkah engkau merasakan siksa api neraka? berapa lama wahai hambaku? hamba itu berkata; aku tidak pernah merasakan siksa neraka Robb, hilang seluruh kepedihannya, terbakar dan hangus selama ribuan tahun, ketika memandang indahnya dzat Robbul’alamin, ingat detik-detik perjumpaanmu dengan Allah disaat itu

Wednesday, June 11, 2008

MENGHIDUPKAN RASA MATI DALAM JIWA


Rasa mati adalah perasaan kesadaran yang tinggi bahwa suatu hari kita akan terbujur kaku selama-lamanya di sebuah pusara yang tertulis di atasnya nama, tanggal lahir dan tanggal mati kita. Perasaan ini merupakan sebuah warna yang sudah lama pudar dalam jiwa mayoritas manusia. Indikasi pupusnya rasa mati dalam diri manusia tercermin dalam kecintaannya yang keras terhadap harta dan kemewahan dunia yang diburunya siang malam. Padahal ia tahu semua yang dicapainya pasti akan ditinggalkannya. Indikasi tersebut juga terjabarkan dalam kedahagaan yang mencambuk nafsunya sehingga beringas melanggar seluruh aturan Tuhan demi tercapainya hasrat dunia yang sementara. Atau pada keacuhan hatinya terhadap perintah-perintah Alloh yang semakin menjauhkan dirinya dari kasih dan sayang Alloh SWT. Setiap hari manusia berlari ke sana ke mari mengusung nafsunya dan tenggelam dalam kesibukan duniawi yang 'berhasil' menjadikannya lupa atau pura-pura lupa akan hakikat mati. Banyak sekali yang akhirnya malah benar-benar terkapar dalam keindahan semu dunia sehingga habislah keyakinannya terhadap hakikat mati. Kondisi seperti inilah yang Alloh tegur dalam firmanNya berikut: "Katakan, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, justeru ia yang akan menemui kamu'. (Surah al-Jumu'ah 62: 8). Manusia yang telah habis keyakinannya terhadap hakikat mati adalah manusia yang paling tidak punya nurani. Seluruh fakta tentang kematian yang lalu lalang di hadapannya setiap saat bagaikan angin lalu yang tidak memberi kesan apapun kepada dirinya. Ia acuh saja mendengar keluarga dekatnya, sahabatnya atau handai taulannya meninggal dunia. Bahkan menyaksikan pembantaian saudara-saudaranya sesama Muslim di kaca TV, masih bisa dilaluinya sambil menikmati semangkuk sup hangat tanpa merasa terganggu sedikitpun. Fenomena seperti ini mengingatkan kita pada hari Idul Adha, di mana kita menyaksikan seekor kerbau disembelih, dikuliti dan dipotong-potong dagingnya. Sementara kerbau lain di sebelahnya masih bisa menikmati setumpuk rumput hijau tanpa merasa terganggu sedikitpun. Padahal ia jelas-jelas akan disembelih pula pada keesokan harinya. Beginikah Rasanya Mati? Bayangkan sejambak rambut di kepala dicabut, atau selembar perban yang melekat di atas luka badan sejak seminggu dicabut. Tentulah sakit sekali rasanya. Lalu bagaimana pula gerangan jika nyawa yang sudah lekat di badan selama puluhan tahun dicabut? Kita tidak akan pernah dapat membayangkan kecuali dengan menyimak sumber berita yang berasal dari Nabi SAW dan para salafus soleh. Dalam sebuah hadits marfu' diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Na'im r.a. bahwa Rosululloh SAW telah bersabda: "Demi yang diriku berada di tanganNya, kenyataan (sakitnya) maut itu lebih dahsyat dari seribu bacokan pedang." Amru bin Ash ketika menghadapi sakaratul maut ditanya oleh anaknya tentang rasa sakit yang dialaminya. Beliau berkata dengan lemahnya : "Demi Alloh wahai anakku, keadaan tubuhku seakan-akan berada dalam selimut api yang panas membara dan seolah-olah aku bernafas melalui lubang jarum. Aku juga merasa seakan-akan nyawaku melekat pada satu pohon yang penuh duri, kemudian ditarik dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun." Selanjutnya Amru bin Ash menangis seraya berkata, "Kukejar dunia ini seakan-akan diriku kekal abadi. Sedangkan dibelakangku berlari sang maut menapaki langkahku. Duhai anakku, cukuplah kematian itu sebagai nasehat." Demikianlah kesaksian yang dinyatakan oleh sahabat Nabi SAW. Bagaimana pulakah gerangan pengalaman kita peribadi kelak, saya dan anda? Sebaiknya kepada Alloh saja kita segera berlindung agar diberi kemudahan dan keringanan saat akhir menutup mata. Menyiapkan Bekal Kembali Sahabat Nabi SAW Utsman bin Affan begitu gentar sekali hatinya setiap kali melewati tanah pekuburan. Sering didapati ia menangis sebaik saja melewati sebuah pemakaman. Ketika ditanya oleh seseorang ia menjawab, : "Ketahuilah olehmu, bahwa kubur merupakan pintu gerbang penentuan apakah seseorang akan kekal selama-lamanya dalam kebahagiaan atau kekal selama-lamanya dalam kesengsaraan dan penderitaan." Kita sama-sama mengetahui dan menyadari bahwa akhirat merupakan negeri abadi. Abadi berarti kekal dan tidak ada akhir atau penghujungnya. Malangnya lagi kita juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa yang menentukan apakah kita akan senang dan bahagia, sengsara atau menderita dalam keabadian itu adalah rekor amal kita di dunia yang sebentar ini. Dalam arti lain, meskipun dunia ini akan bergulir seratus juta tahun lagipun, kesempatan kita untuk beramal hanya di sini,saat ini dan sekarang ini. Sebagai ilustrasi, jika seseorang bekerja dengan sebuah perusahaan di Jakarta dan tiba-tiba diperintahkan oleh direkturnya untuk segera berangkat ke cabang Medan besok pagi untuk jangka waktu lima tahun. Kira-kira apa yang akan dilakukannya? Tentulah sedapat mungkin ia akan sibuk mempersiapkan diri dalam tenggat waktu yang amat singkat itu. Dalam 24 jam itu pasti ia akan mengepak barang-barangnya, mencari pinjaman uang ke sana kemari, pamitan dan mohon maaf ke seluruh keluarga dan kawan-kawannya dan lain-lain. Bahkan hampir dapat dipastikan malam itu ia tidak bisa tidur memikirkan keberangkatannya yang mendadak itu. Ketahuilah bahwa waktu yang tersedia untuk kita mempersiapkan bekal perjalanan menuju akhirat lebih singkat dari ilustrasi di atas. Bahkan jangka waktu untuk kita menetap di sana adalah kekal abadi dan tidak terbatas. Yang dapat menyelamatkan kita hanyalah suatu kesadaran yang tinggi dan gerak amal yang konsisten bahwa setiap helaan nafas, ayunan langkah dan tangan selama di muka bumi kita niatkan benar-benar untuk beribadah kepada Alloh. Kemudian kita sadari pula bahwa seluruh apa yang Alloh perintahkan kita laksanakan dengan sekuat daya upaya kita. Begitu juga apa yang Alloh larang harus serta merta kita tinggalkan sama sekali. Marilah kita sama-sama mencari cahaya Alloh dengan berbuat sebanyak mungkin kebajikan di muka bumi, menebar kasih sayang, melakukan amal jariah, mempersiapkan anak-anak sholeh yang dapat mendoakan kita saat terbaring di pusara dan menyumbangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat. Hanya setelah itu saja kita baru akan merasa sedikit siap untuk berangkat kembali ke kampung akhirat, dan agak berani menunggu kedatangan malaikat Izrail. Rabbana wahai Tuhan kami. Anugerahkan kami taubat sebelum maut, kasih sayangMu saat menghadapi maut dan ampunanMu seusai maut menjemput. Amin..